Saturday, 29 January 2011

DAVID SAMALA


Kriing . .kriing. .kriing . suara jam beker itu semakin menyiksa kuping David.Ia terus membolak – balikkan badannya diatas kasur yang sudah lumayan lapuk sambil menutup kupingnya,tapi itu tidak membuatnya tenang. Dengan terpaksa David mengangkat tubuhnya yang kurus dan pendek itu dan mematikan jam beker. David sama sekali tidak kaget ataupun cemas melihat jam digitalnya menunjukkan pukul 06.30 karena ia memang selalu bangun kesiangan. Walaupun sudah hampir terlambat,David tetap santai. Setelah mandi ia menata bukunya yang berserakan diatas meja bekas belajarnya tadi malam dan berusaha mengingat – ingat apa yang ia pelajari tadi,tetapi hanya separuh yang diingatnya.

David  berangkat sekolah berjalan dengan lagak sok keren,rambutnya yang lurus itu dibuat jabrik dan sepatunya yang butut itu membuat orang – orang yang melihatnya menjadi jijik. Karena rumahnya tak jauh dari sekolah tercinta,yaitu SMA 100 Jakarta maka David selalu berjalan ketika berangkat dan pulang sekolah. Sesampai disekolah , biasanya ia memanjat pagar belakang sekolah dan bersembunyi dikantin sampai pelajaran pertama telah usai. Dan saat pelajaran kedua akan dimulai,David menyelinap masuk kedalam kelas. Tetapi kali ini berbeda! ia tertangkap basah oleh guru BK ketika memanjat pagar belakang sekolah.
“ Sudah berapa kali kamu terlambat? Heh!” bentak Bu Yuli,guru BK di sekolah David
“ Sa ,saya lupa bu” jawabnya sambil berpura – pura takut
“ Lupa? Dengan santainya kamu bilang lupa!! Ingat David, ini peringatan terakhir! Kalau besok kamu masih terlambat masuk sekolah,saya akan usir kamu dari sekolah ini!”
“ Iya bu,”
“ Iya apa!”
“ Saya tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi”
“ Baik. Kembali ke kelas!”. David berjalan menuju kelas dengan wajah tenang karena ia memang sudah sering masuk ke ruang BP karena terlambat.
Sebelum David masuk ke kelas,ia mengintip ke jendela dan berusaha memanggil Andra,teman baiknya. Tapi perbuatannya ini ternyata diketahui oleh Pak Tri, guru IPA paling cerewet melebihi mamanya ketika marah.
“ Pintunya disini David, kamu kenapa mengintip ke jendela?” kata pak Tri sambil melototi David. Pandangan matanya begitu tajam sehingga membuat David takut.
“ Maaf pak,boleh saya masuk ke kelas?”
“ Sudah lebih dari tiga kali kamu terlambat masuk sekolah,apa kamu tidak malu? Kamu ini sudah kelas dua SMA,sebentar lagi ujian akhir sekolah! Atau kamu memang sudah tidak niat untuk sekolah?”
“ Bukan pak. Bukan begitu, saya….” belum selesai ia bicara tetapi pak Tri sudah memotongnya.
“ Sudah! Keluar kamu dari sini! Saya tidak sudi punya murid seperti kamu!! Memalukan sekolah kita saja! Pergi!” David pun pergi menuju kantin.ia  merasa tidak ada guru yang memiliki belas kasihan untuknya. Seandainya saja mereka semua tahu bahwa David bangun kesiangan karena belajar semalaman,mungkin mereka justru akan membantunya dalam proses belajar. Nasib David memang tak baik,teman – teman wanitanya banyak yang tidak menyukainya hanya karena ia sering terlambat masuk sekolah dan guru –guru sudah berjanji akan memberikan nilai jelek untuk David karena kebiasaan buruknya yang sering terlambat. Bel istirahat pun berbunyi,David tak beranjak dari tempat duduknya semula sampai akhirnya ada dua orang lelaki yang mendekat. Tubuhnya yang jangkung,tinggi,rambutnya yang bergelombang dan gaya mereka yang sudah tak asing lagi bagi David. Mereka adalah Andra dan Andi,saudara kembar yang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Tetapi David sudah tahu bagaimana cara membedakan mereka,Andra memiliki tahi lalat kecil dipipi kirinya sedangkan Andi tidak memiliki tahi lalat di wajahnya.
“ Ngapain loe ngelamun? Kayak orang gila aja!” sambat Andi kepada David
“ Woy,kok diem aja sih?” lanjutnya. David hanya terdiam.
“ Elo gila beneran ya?” sahut Andra
“ Cerewet banget sih kalian!” kata David sambil meletakkan tasnya keatas meja kantin
“ Kenapa sih lu?” tanya Andra lagi
“ Gue lagi stress bro,kenapa semua guru pada benci sama gue!”
“ Ya jelas lah” Jawab Andi singkat
“ Karena elo udah sering bikin sebel semua guru” lanjut Andra
“ Contohnya,elo sering banget telat dan nggak pernah nyelesein tugas – tugas rumah” jelas Andi
“ Kalian tau sendiri kan? Gue ini kalo malem sering belajar sampe lupa tidur,jadi gue nggak pernah bisa bangun pagi”
“ Iya kita tau bro, tapi kenapa elo nggak pernah bisa nyelesein tugas?” tanya Andi sambil masang wajah blo’onnya
“ Dan otak lu nggak pinter?” tambah Andra
“ Nah maka dari itu gue juga nggak tau,entah kenapa tuh otak gue susah banget buat nyambung, walaupun gue belajar sampe malem,tetep aja gue susah banget yang namanya jadi pinter”
 “ Gue tau caranya!” kata mereka berdua kompak
“ Cara apa?”
“ Biar elo nggak bangun kesiangan” jawab Andra
“ Gimana ?”
“ Elo nggak usah belajar!” jawab mereka berdua kompak
“ Dengan gini kan elo nggak bakal bangun kesiangan” kata Andi
“ Dan elo juga nggak rugi kan? Nyatanya elo belajar juga nggak ngefek,jadi elo mendingan nggak usah belajar aja” sahut Andra. David hanya diam,suasana menjadi hening dalam sekejap.
“ Gimana sob?” tanya Andra lagi meyakinkan
“ Gue setuju! Lama – lama gue juga capek kalo setiap hari diomelin sama guru.”
“ Yes!” mereka berdua pun bangga telah mengembalikan semangat David yang itu.
Tak terasa,bel masuk berbunyi. David dan kedua teman kembarnya masuk ke kelas. Pelajaran kedua adalah matematika,hal yang paling dihindari oleh David.
“ Duh sial! Buku tulis gue ketinggalan nih!” kata David sambil menggaruk kepalanya
“ Ah payah lo!” sahut Andra singkat.
Tep.. tep.. tep.. suara sepatu hak tinggi yang dipakai bu Asti terdengar menegangkan.
“ Anak – anak,tentunya kalian sudah tahu kalau ada tugas rumah yang harus di selesaikan. Sekarang semua buku dikumpulkan dan saya akan memilih tiga orang untuk maju mengerjakan tugas didepan.” kata bu Asti sambil melihat murid – muridnya yang sedang sibuk mengumpulkan buku tulis mereka ke meja guru.
“ David, kenapa kamu tidak mengumpulkan  tugas?”
“ Em,ketinggalan bu,” jawabnya. Tubuhnya mulai berkeringat dan siap untuk menerima hukuman.
“ Huh,sekarang kamu kerjakan nomor satu sampai tiga. Ririn,kamu kerjakan nomor empat dan andra mengerjakan nomor lima”
“ Bu,kenapa saya mengerjakan tiga nomor?” tanya David
“ Karena kamu tidak membawa buku dan tidak mengumpulkan tugas tepat pada waktunya! Sekarang cepat kerjakan!”
David benar – benar takut dan bingung, ia berusaha mengingat rumus yang harus digunakan untuk mengerjakan soal nomor satu sampai tiga. Tetapi gagal. Ia hanya bisa mengerjakan satu nomor. Sesekali ia melirik ke belakang memberI Isyarat meminta bantuan kepada Andra ataupun Andi tetapi mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
Huh, tamatlah riwayatku. Katanya dalam hati.
“ Kenapa David? Teman – teman kamu sudah pada selesai mengerjakan tapi kamu tidak bisa? Kasihan. Ckck” kata bu Asti mengejek. David hanya diam,ia yakin akan mendapat hukuman. Dan ternyata benar,ia disuruh bu Asti untuk membuat seratus soal matematika dalam satu minggu ini.

Pagi ini untuk yang pertama kalinya David bangun jam lima. Dia bangga dan segera mandi. Suara nyanyian terdengar sangat keras didalam kamar mandinya,dan untuk pertama kalinya juga ia makan pagi bersama mamanya. Biasanya,mama David selalu berangkat pagi – pagi sekali dan pulang larut malam. Mamanya bekerja sebagai asisten direktur disebuah kantor besar yang terkenal disekitar kota Jakarta,kesibukan mamanya pula yang membuat David sangat jarang mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Ayahnya meninggal sejak ia kecil. Inilah kehidupan David yang jarang diperhatikan oleh orang – orang sekitar.
“ Kamu sudah bangun,nak?” sapa mama kepada David
“ Iya ma”
“ Kamu sarapan yang banyak ya? Mama berangkat kerja dulu”. David hanya tersenyum kecut karena ia tidak pernah memiliki waktu untuk berbicara panjang lebar mengenai masalah sekolah kepada mamanya.
Setelah sarapan,David segera mengambil tasnya kemudian berjalan menuju sekolah. Ia meresa tidak tenang karena tadi malam ia sama sekali tidak belajar,bahkan hukuman dari bu Asti kemarin belum ia kerjakan sama sekali. Sesampai di kelas,David melihat kedua teman kembarnya sedang bercakap – cakap dengan anak lainnya disudut kelas. Mereka tertegun melihat David berangkat sekolah lebih awal.
“ Woy,ada angin apa elo bisa masuk sekolah pagi – pagi?” kata Gusti sambil menepuk pundak David. Gusti adalah ketua kelas,wajahnya tampan dan mempesona. Banyak wanita yang jatuh hati kepadanya. Namun dipikiran Gusti sama sekali tak pernah memikirkan soal cinta,ia lebih memilih memiliki banyak teman daripada pacar. Keputusannya itu banyak membuat wanita yang menyukai Gusti menjadi terluka
“ Elo kenapa? wajah lu kusut banget” tanya Andra sekonyong –konyong
“ Gue nggak tenang aja Ndra,kemarin gue sama sekali nggak belajar”
“ Jiah,kata – kata elo barusan tu kayak orang pinter tau nggak! Hahaha”
“ Lagian kan kita kemarin udah bilang,elo belajar atau enggak ya sama aja. Makanya kita nyuruh kamu nggak usah belajar biar bebanmu itu terkurangi” tambah Andi
“ Eh,ternyata kalian yang bikin David bisa berangkat pagi kayak sekarang? Hahaha salut deh buat kalian” kata Gusti memuji. Si kembar itu hanya tersenyum mendengar pujian itu.
“ Tuh kan Vid,Gusti aja seneng denger ide kita berdua. Makanya elo nggak usah kuatir” kata Andra mempengaruhi
“ Iya deh,gue coba ngebiasain nggak belajar” jawab David dengan nada berat
Sudah satu minggu David menjalankan tips yang diberikan si kembar kepadanya. Dengan dorongan ketiga temannya yaitu Andra,Andi,dan Gusti,David semakin berniat untuk tidak pernah belajar agar tidak terlambat masuk sekolah. Padahal,tips yang diberikan si kembar itu benar – benar salah! Sebentar lagi David akan melaksanakan ujian akhir semester kedua tetapi David masih saja menjalankan tips busuk itu. Nilai dan sikap David semakin hari menjadi jelek saja,dia yang biasanya mengerjakan tugas sekolah walaupun hanya separuh sekarang tidak dijalaninya lagi. Hidup David semakin tak terkendali,mamanya pergi ke Singapure selama satu tahun dan David tinggal dirumah sendirian. Ia tak pernah belajar dan hukuman dari guru pun semakin menumpuk. Setiap bu Yuli ingin memanggil orang tua David,ia selalu berkata bahwa mamanya ada diluar negeri.
Guru – guru sudah kehabisan akal dalam memberikan hukuman untuk David agar ia kapok dan akan merubah sikap buruknya. Akhirnya pak Hendra selaku kepala sekolah di SMA 100 jakarta ini positif mengeluarkan David dari sekolah. David terkejut mendengar kepala sekolah telah mengeluarkannya dari sekolah yang sangat ia cintai itu.
David pulang kerumah dengan perasaan tak tenang,teman – temannya berusaha menghiburnya tetapi tidak berpengaruh bagi David.
“ Vid,bangun dong Vid. Kita main kayak dulu” kata Andra sambil duduk diatas kasur David. Ia sangat sedih melihat sahabat tidak mau berbicara.
“ Maafin kita bertiga ya Vid,kita udah mempengaruhi elo biar nggak belajar. Kita nggak ada niatan jahat kok biar elo dikeluarin dari sekolah.” tambah Andi
“ Iya Vid,maafin kita ya? Kita nggak tau kalau tips ini bakal bikin kamu dikeluarin dari sekolah” kata Gusti. Wajahnya terlihat sedih sekali. David pun meneteskan air matanya,untuk yang pertama kali ia merasa tidak memiliki semangat hidup.
“ Elo nangis Vid? Duh maafin kami banget ya Vid,please” kata Andra. Ia ingin ikut menangis tetapi andra tetap menahan air matanya agar tidak keluar. Sedangkan Andi sudah menangis dahulu karena ia begitu merasa bersalah dan Gusti hanya terdiam menyesal.
“ Nggak papa kok sob,” kata David memulai “ gue emang nggak pantes dapetin keberuntungan,sejak kecil gue selalu mendapat kesialan yang nggak ada henti – hentinya sampe sekarang. Nggak pernah ada yang ngertiin gue! Semua orang selalu berfikiran negatif sama gue! Sekarang gue nggak tahu mesti ngomong apa sama mama kalau gue dikeluarin dari sekolah,mungkin gue bakalan diusir dari rumah.”
“ Aduh jangan ngomong gitu dong Vid,kita bertiga tu selalu ngertiin elo. Ini semua cuma cobaan buat elo aja” kata Andra sambil memeluk sahabatnya
“ Tenang aja bro,kita bertiga bakal bantu nyariin elo sekolah swasta baru biar elo nggak tambah dimarahin sama mama lo” kata Gusti berusaha menyemangatkan David kembali.
“ Mendingan sekarang kalian balik kerumah kalian deh,gue capek. Gue lagi pengen sendiri” jawab David ketus
“ Elo jangan marah sama kita ya sob?” bujuk Andi
“ Iya,udah sana pergi. Jangan lupa tutup pintu rumah gue”
Akhirnya mereka bertiga meninggalkan David sendirian. David mulai menangis lagi,ia sudah berusaha keras untuk menahan air matanya tetapi tidak bisa. Ia benar – benar merasa kesepian dan sangat sebal. Rasa sebal dan kesepiannya itu membuat David sering mencurahkan isi hatinya kepada kertas,karena tidak ada seorangpun yang bisa ia ajak bicara selain kertas. Ia menceritakan semua kesialan hidupnya kepada kertas itu.
Lama kelamaan David jadi senang menulis – nulis sesuatu,bahkan ia juga membuat beberapa cerpen dari kejadian hidupnya sendiri. Di umurnya yang hampir mencapai 17th,ia mencoba membuat novel untuk pertama kalinya.
Ia menulis novel dengan penuh semangat,berharap ia bisa menyelesaikan novel ini dalam jangka waktu yang singkat. Harapan itu pun terwujud,David berhasil menyelesaikan novelnya yang berjudul LOVE IS IGNORE FOR ME yang menceritakan seseorang wanita yang hanya memikirkan masa depannya tanpa merasa kesepian walaupun tidak ada cinta disekitarnya. Keesokan harinya,David pergi ke PT.Gramedia untuk menerbitkan novelnya.
Beberapa minggu kemudian,novel David telah diterbitkan oleh PT.Gramedia. ia merasa sangat gembira karena ia diberikan banyak ucapan selamat kepada teman – teman SMA nya dahulu. Bahkan teman – teman yang dahulu membenci David saat didekolah juga mengucapkan selamat kepada David atas penerbitan novelnya yang pertamai.
Mulai sekarang,David pun mengetahui bakat yang dimilikinya. Ia meneruskan bakatnya itu sampai ia mendapatkan sebuah penghargaan dan sekarang David sudah menjadi penulis terkenal dikalangan infotaiment. Beberapa novel karangannya sudah di filmkan diantaranya yaitu love is ignore for me,sahabat,dan catatan deritaku. Semua itu menjadi sebuah kebanggaan sendiri untuk David.
Ke esokan harinya,mama David pulang dari singapure. Mamanya masih agak bingung melihat seisi rumah dipenuhi oleh banyak buku – buku karangan David. Lalu David menjelaskan semua kejadian yang di alami David selama mamanya pergi ke Singapure. Mamanya yang semula marah karena David dikeluarkan dari sekolah tidak jadi ia luapkan setelah mendengar anaknya menjadi penulis novel terkenal. Mama David pun mencium kening anaknya itu dan meminta maaf karena jarang memperhatikan David.
David sendiri merasa bangga melihat mamanya peduli dengannya dan melihat namanya tercantum di novelnya,yaitu DAVID SAMALA.
The end,
Makanya untuk teman-2  yang pingin pinter, baca buku ini:


No comments:

Post a Comment