Sunday, 28 August 2011

NINO is NANA


PRIA itu terus menekuk badannya masuk ke dalam semak-semak ditaman belakang sebuah rumah besar yang indah. Angin malam yang menusuk tulang pria itu membuat giginya bergemeletuk. Berulang kali ia memanjangkan lehernya memeriksa apakah polisi masih disekitarnya atau tidak. Tidak ada polisi. Yang dilihatnya justru seorang lelaki berusia sekitar 30th mengendap-ngendap dirumah besar tempat ia bersembunyi. Ada yang mau maling dirumah se-ghede ini? Nggak bisa gue biarin! Pikirnya. Akhirnya ia keluar dari semak-semak dan membelakangi lelaki itu tanpa menimbulkan suara. Diraihnya sebuah ranting pepohonan yang runtuh dan memukulkannya ke punggung maling itu berkali-kali sampai lelaki itu tak sadarkan diri.

“ Sorry ya pak tua, meskipun kita sama-sama penjahat tapi kali ini aku nggak mau ada penyusup dirumah ini selain gue!” katanya pada pria itu dengan suara lembut layaknya wanita. Ia menyeret lelaki itu sampai jauh dari rumah besar tempatnya bersembunyi tadi

            HARI ini adalah hari minggu. Seperti biasa, Cindy dan Sherly menginap dirumah Fana. Mereka bertiga adalah sahabat sejati yang memiliki hobi yang sama, yaitu shopping. Setiap malam minggu, Cindy dan Sherly memang selalu menginap dirumah Fana karena rumahnya selalu sepi dan kamarnya cukup besar untuk menampung mereka berdua. Pagi itu, Cindy membaca koran Meteor yang biasanya tak penah ia baca.
“ Eh guys, liat deh, ada cowok cakep!” kata Cindy kepada teman-temannya. Ia terus memandangi wajah lelaki muda seusianya yang bertubuh kecil dan berkulit putih bersih jika ia rajin mandi. Fana dan Sherly pun segera menyerbu Cindy.
“ Wah bener Cin, cakep banget ya? Sayangnya dia penjahat” komentar Sherly. Cindy mengangguk setuju
“ Kalo diliat dari tampangnya dia emang cakep, tapi dia kan buronan polisi?” kata Fana membuang muka. Sherly dan Cindy masih terus memandangi wajah pria itu.
“ Aku sih nggak masalah. Mau dia buron, psikopat, atau koruptor itu kan terserah dia mau pilih profesi yang mana. Yang penting kan tampangnya!” sergah Cindy sambil mengelus kertas koran bergambar seorang pria setengah baya dengan tampang polos. Dari segi wajahnya, dia memang tidak pantas menjadi seorang penjahat karena wajahnya polos seperti orang yang tak berdosa. “ Jadi namanya Nino ya? Hmmm” lanjut Cindy
“ Dari pada kalian liatin foto buronan itu terus, mendingan kita shopping aja yuk!” ajak Fana. Sherly langsung setuju dengan ajakan Fana, tetapi Cindy harus berpikir dua kali untuk menyetujui ajakan Fana karena foto pria buronan itu telah membutakan matanya.
Hari-hari ketiga sahabat itu selalu saja dilalui dengan shopping dan ngecengin cowok dimall. Hanya Fana yang tidak mudah tertarik dengan cowok. Dia memang cantik dan kaya, banyak pria yang menunggunya namun semua itu tidak termasuk dalam tipe cowok yang diingini Fana yaitu memiliki sikap dan latar belakang yang baik. Sedangkan Cindy yang cenderung suka berdandan ternyata tidak begitu memperhatikan bagaimana sikap dan latar belakang seseorang, yang terpenting baginya adalah tampang. Karena ia menganggap tampang yang baik bisa memperbaiki keturunan. Sherly sendiri yang tidak pernah memiliki pengalaman dalam berpacaran, ia tidak mempunyai syarat dan kriteria cowok idamannya. Ia lebih suka mengagumi cowok yang sekiranya tidak jelek.
“ Liat tuh, ada cowok cakep lagi! haduh, beruntungnya aku pagi ini udah ngeliat dua cowok cakep” kata Cindy sambil menunjuk pria yang tengah mengobrol bersama temannya. Teman pria itu juga tampan, tapi kharisma pria yang ditunjuk Cindy lebih besar sehingga para wanita lebih memilihnya dari pada temannya.
“ Kira-kira dia baik nggak ya?” tanya Fana sambil terus memandangi pria itu dengan seksama
“ Ah kamu ini aneh-aneh aja sih. Kalo dari tampangnya udah cakep, pasti sifatnya baik dong!” jawab Cindy dengan heran
“ Tapi masalahnya, emang dia mau kenal sama kita?” tanya Sherly dengan blo’on. Pandangan mereka bertiga yang terus tertuju kepada pria itu ternyata disadari oleh teman pria itu. Dia membisikan sesuatu kepada pria itu lalu tertawa kecil. Cindy, Fana, Sherly yang masih melihat pria itu tidak menyadari bahwa mereka telah ditertawakan dengan kedua pria itu. Akhirnya kedua pria mendekati mereka bertiga.
“ Hey, liat apa sih?” tanya seorang pria yang tengah mereka pandangi sambil melambaikan tangannya didepan muka Fana. Mereka terkejut melihat kedua pria itu kini dihadapannya.
“ Eh, enggak liat apa-apa kok!” jawab Fana dengan grogi. Pria itu tersenyum kecil.
“ Oh, kirain kalian lagi liatin aku” kata pria itu dengan ke-Gran “ Kenalin, namaku Vicky dan ini temen aku namanya Anton” lanjutnya sambil menunjuk pria yang tengah berdiri disebelahnya. Anton terlihat kikuk dihadapan Sherly, dia hanya memamerkan senyum tak berarti kepada Cindy dan Fana lalu memandangi Sherly kembali dengan terkagum.
“ Emm, kalo namaku Cindy” katanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Vicky. Mereka berdua bersalaman cukup lama dan Fana segera menghentikannnya.
“ Kalo aku Fana, dan dia Sherly” kata Fana sambil menatap Sherly yang masih bengong dengan kehadiran mereka berdua. Sherly hanya tersenyum lalu membuang muka.
“ Kalian bertiga sekolah atau kuliah atau kerja?” tanya Vicky
“ Kita sekolah” jawab Fana mendahului Cindy. Mereka berdua tampak sama-sama menyukai Vicky dan berebut perhatiannya. Sedangkan Sherly hanya diam tanpa menyadari bahwa Anton terus menatapnya.
“ Wah sama dong. Kayaknya aku pernah liat kamu sebelumnya deh” sangka Vicky kepada Fana. Fana bengong dan berpikir ulang apakah sebelumnya mereka pernah bertemu atau tidak
“ Masak sih? Hehe mungkin  aku lupa Ky” jawab Fana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Vicky dan Fana memang baru pertama kali ini bertemu. Namun karena Vicky sudah terlanjur menyukai Fana, ia menjadi sok kenal agar bisa lebih akrab dengan Fana. Cindy merengut melihat Vicky lebih perhatian dengan Fana. Akhirnya mereka berlima jalan-jalan bersama memutari mall yang sebenarnya sudah sangat mereka hafal jalannya.
“ Kita nonton yuk?” ajak Vicky semangat. Ia berpikir, mungkin jika mereka nonton film horor dan pada saat hantu muncul Fana akan memeluknya. Tapi bayangan Vicky sia-sia.
“ Sorry Ky, kapan-kapan aja ya? Gue capek banget!” kata Fana lesu. Cindy dan Anton merasa kecewa dengan tolakan Fana tapi Sherly tidak menganggap ini sesuatu yang pantas untuk dikecewakan.
“ Ah sayang banget kalo kita nggak nerima ajakan Vicky. Kan belum tentu kita ketemu lagi, iya kan?” kata Cindy sambil memandang Sherly berharap ia akan membelanya.
“ Kalo aku sih terserah” jawab Sherly menaikan pundaknya. Cindy kembali merengut.
“ Aku bayarin deh!” kata Anton dengan semangat pula, berusaha mencuri perhatian Sherly. Fana mulai tertarik dengan kata ‘traktir’ dan akhirnya Fana mengangguk setuju.

            FILM telah dimulai. Film berjudul Pocong Rumah Angker itu ternyata sama sekali tidak membuat Fana takut. Padahal Vicky benar-benar menantikan saat dimana Fana akan memeluknya. Fana menganggap, film itu lebih cocok menjadi film komedi dari pada film horor. Anton yang sedari tadi berusaha mencuri perhatian Sherly, akhirnya berhasil! Sherly tampak takut ketika melihat setan muncul dilayar secara close up dan memeluk Anton secara spontan. Cindy merasa iri melihat kemesraan Sherly dengan Anton. HP-nya terus bergetar karena pacar Cindy  terus menelponnya.
Perjalanan mereka berlima pun sampai disini. Anton menyempatkan diri untuk bertukar nomor telepon dengan Sherly, begitu juga dengan Vicky yang juga menyempatkan diri untuk bertukar nomor HP dengan Fana. Cindy tak sempat ikut bertukar nomor HP dengan mereka berdua karena Rio, pacarnya masih terus curiga dengan Cindy yang sedari tadi mengabaikan sms darinya.

            SIANG ini panas matahari sungguh menyengat. Cindy, Fana, dan Sherly terpaksa menggagalkan rencana mereka setelah pulang sekolah untuk hang out bersama Vicky dan Anton
“ Oh, jadi nggak bisa ya Fan?” tanya Vicky sedikit kecewa lewat telepon. Anton yang duduk disebelah Vicky pun juga ikut kecewa
“ Iya Ky. Sorry ya? Kita lagi disibukan sama tugas sekolah nih. Lagian siang ini panas banget, Cindy kan nggak mau dandanannya luntur karena keringat” jawab Fana dengan suara lembut. Cindy malu karena Fana berkata itu kepada Vicky, ia memelototi Fana yang justru nyengir melihatnya malu.
“ Oh, ya udah sana pulang. Ati-ati ya?”
“ Iya”
“ Muah” kata Vicky. Ia buru-buru menutup teleponnya dan berharap Fana tidak menyadari bahwa itu adalah suara kecupan darinya. Fana memasukan HP-nya ke dalam saku dengan gugup
“ Gila! Tadi Vicky cium aku lewat telepon!” kata Fana dengan kedua temannya itu
“ Wah bagus dong. Bentar lagi aku bakal denger Fana jadian sama Vicky” jawab Sherly berangan-angan
“ Enak banget jadi kamu” komentar Cindy dengan sinis. Fana hanya menjulurkan lidahnya dan pulang ke rumah

            FANA merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk. Matanya terpejam siap untuk tidur, namun tiba-tiba ia mencium bau busuk seperti lumpur dan sampah.
“ Ih, bau apaan nih! Busuk banget!” kata Fana pada dirinya sendiri. Ia menutup hidungnya dengan kedua jarinya sambil mencari asal bau itu. Dilihatnya ke lantai terdapat bercak lumpur dan jejak sepatu yang cukup besar. Jejak itu berakhir dipojok pintu kamar Fana yang terbuka dengan pakaian yang bergantungan dibelakangnya. Hatinya berdebar-debar ingin menutup pintu kamarnya dan melihat jejak apa itu. Matanya menerawang kepada seorang lelaki yang pernah mencuri uang ayahnya dulu ketika Fana masih SD. Namun ia segera menghilangkan pikiran itu dan nekat menutup pintu kamarnya.
Dengan cepat seorang pria bertubuh bertubuh tinggi seperti Fana itu membekap mulut Fana yang berusaha berteriak dan terus meronta.
“ Ssht, diem! Aku nggak bakal nyakitin kamu asalkan kamu diem dan jangan lapor polisi!” ancam pria itu dengan suara nyaring. Tidak tampak seperti penjahat. Akhirnya Fana menyetujui perintah pria asing itu. Pria itu segera melepaskan tangannya dari mulut Fana. Fana terus memandangnya dengan jijik.
“ Kamu maling ya?!” kata Fana dengan nada marah
“ Eh bukan! Aku disini bukan buat maling rumah kamu kok!” jawab pria itu dengan sedikit menenangkan Fana
“ Ya iyalah! Mana bisa kamu maling rumahku yang gedhe ini. Terus kamu ngapain sembunyi dibelakang pintu kamarku kalo bukan maling yang tertangkap basah sama pemiliknya?” tanya Fana panjang lebar
“ Eh..aku..” belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya, Fana menyangkalnya
“ Tunggu! Kayaknya aku pernah liat elo deh. Kamu buronan yang ada dikoran Meteor kemarin kan?” tanya Fana kali ini dengan wajah ketakutan dan menyiapkan HP-nya untuk menelpon polisi. Dengan sigap pria itu langsung mengambil HP Fana dan memasukan ke kantong celana jeans lusuhnya yang juga terdapat bercak darah.
“ Iya aku buronan. Tapi jangan sekali-kali kamu telepon polisi karena aku sendiri juga bisa ikut masukin kamu ke penjara dengan sindikat bersekongkol sama aku” ancam pria itu lagi. Fana hanya diam. “ Tapi aku nggak bakal ikut nyeret kamu ke penjara asalkan kamu ngijinin aku buat tinggal dirumah kamu yang gedhe ini. Gimana? Milih ikut dipenjara atau ngijinin aku buat tinggal dirumah kamu?”
Fana bingung. Ia terus berpikir bagaimana caranya agar bisa mengeluarkan buronan ini dari rumahnya.
“ Jawab dong!” kata Nino dengan tidak sabar
“ Tapi gimana kalo bibi atau Kak Edo tahu? Entar mereka pasti ngadu ke Papa terus aku justru yang dijeblosin ke penjara sama Papa dan kamu kabur gitu aja ngeliat aku kayak gini dan, dan” jawab Fana dengan blo’onnya. Matanya menerawang dengan apa yang terjadi jika ia membiarkan buronan ini tinggal dirumahnya.
“ Aku bisa sembunyi. Kamu tenang aja, buat sembunyi dari polisi aja aku bisa apa lagi buat sembunyi dari pembokat atau Kakakmu?” kata Nino dengan sombong
“Nggak! Aku ngggak percaya. Jangan-jangan sebenarnya kamu punya niat jahat buat ngebunuh aku, terus Kakakku, terus Bibi, terus Papa, terus kamu bakal menguasai rumahku dengan tenang dan kamu” belum sempat Fana menyelesaikan perkataannya, Nino sudah mengajukan telunjuknya ke mulut Fana.
“ Ambilin aku handuk sekarang juga!” perintah Nino kepada Fana. Fana meraih handuk kecil berwarna merah kepada Nino yang tengah memasuki kamar mandi Fana. Fana ingin mencegahnya namun ia merasa takut jika ia melakukannya, ia akan dibunuh dengan Nino. Akhirnya dibiarkannya Nino mandi dengan berisik karena beberapa lagu norak yang tak dikenal itu telah keluar dari mulut Nino.
Fana geli sendiri mendengar suara Nino yang tengah bernyanyi. Suaranya seperti wanita, kecil dan nyaring. Terkadang ia lupa bahwa rumahnya sekarang telah dimasuki oleh seorang pembunuh, tetapi beberapa saat lagi Fana ingat keberadaan Nino yang sangat mengancam hidupnya dan keluarganya.

            FANA masih terus berpikir bagaimana cara untuk mengeluarkan Nino dari rumahnya, namun tiba-tiba sebuah kepala kecil yang basah muncul dari sudut pintu kamar mandi. Fana terkaget.
“ Pinjemin aku baju dan celana sekarang juga!” perintah Nino seenaknya. Fana mengerutkan alisnya, ‘kamu pikir aku ini pembokatmu apa? Pake nyuruh-nyuruh segala. Huh nyebelin!’ kata Fana dalam hati.
“ Eh cepetan!” desak Nino dengan tegas
“ Tapi bajuku kan cewek semua? Emang kamu mau?” tanya Fana dengan sedikit geli. Matanya menerawang ketika melihat Nino mengenakan baju miliknya yang kurang kain alias sexy. Nino berpikir sebentar kemudian dengan cepat menghentikan khayalan Fana yang semakin menjadi-jadi.
“ Kamu kan tadi bilang punya Kakak, ambil aja kaos Kakakmu” jawab Nino dengan tatapan curang. Fana hanya diam lalu dengan sengitnya mengendap-endap memasuki kamar Kakaknya dan mengambil kaos serta celana. Fana segera kembali dan menyerahkan kaos dan celana itu kepada Nino dan membiarkannya berganti pakaian didepannya, tapi tentunya Fana membuang muka dan tidak memperhatikan kelakuan bodoh Nino.
Dengan percaya diri, Nino menyalakan TV dikamar Fana. Fana semakin khawatir dan takut dengan kelakuan Nino yang semakin menjadi-jadi. Tapi apa yang bisa ia lakukan?
“ Aku laper” kata Nino sambil menatap Fana dengan berkuasa layaknya majikan yang tengah menyuruh pembantunya
“ Terus?” tanya Fana dengan ketus dan berpura-pura tidak peduli
“ Ya kamu ambilin aku makanan lah! Kamu mau aku mati kelaparan?”
“ Yang aku mau ya kamu secepatnya angkat kaki dari rumahku”
Nino memelototi Fana dengan emosi. Fana sedikit takut lalu memberanikan diri membalas tatapannya kemudian berhambur menuju dapur. Nino tersenyum menang. Beberapa menit kemudian Fana kembali dengan membawa dua buah pisang lalu memberikannya kepada Nino. Nino menerimanya dengan merasa dilecehkan
“ Kamu pikir aku ini monyet apa?” tanya Nino dengan kesal lalu meletakan pisang itu disebelahnya
“ Nggak ada makanan” jawab Fana singkat
“ Nerus apa guna pembokat ?ha?” tanya Nino kembali dengan marah
“ Jadi kamu berharap aku bakal kasih kamu makanan enak apa? Nggak bakal!”
“ Oh, jadi sekarang kamu udah berani sama aku?” tanya Nino mendekati Fana yang tengah berdiri kesal dehadapan Nino. Dirasakannya Nino sangat dekat dan dengan rasa jijik Fana segera menjauh dari Nino tetapi nino justru mendekati Fana kembali dengan raut muka memohon
“ Please dong, aku laper!” kata Nino memelas. Fana tertawa terbahak-bahak melihat raut muka Nino yang tampak bodoh, ia mengira Nino akan membunuhnya tadi. Tetapi  dugaannya salah, Nino justru memelas dihadapannya. Wajah Nino memerah melihat seorang gadis cantik dihadapannya itu tengah menertawakannya. Akhirnya Fana ke dapur dan kembali ke kamarnya dengan makanan yang enak. Nino pun menyantapnya dengan rakus.
“ Nanti malam kamu tidur dibawah ya?” kata Fana sambil menggelar sebuah kasur lipat yang cukup besar dan tebal didepan TV. Nino hanya mengangguk sambil melanjutkan makannya yang belum selesai
“ Dan aku harap kamu nggak macem-macem sama aku, Kakakku, Bibi, kamarku, rumahku. Oke?” kata Fana kembali dengan berharap. Nino geli dan tertawa kecil mendengar ucapan Fana. Kali ini ia menghentikan makannya sejenak.
“ Kok Papa kamu nggak disebut sih? Terus Mama kamu mana?” tanya Nino bercanda. Fana bersabar.
“ Papa keluar kota. Biasa lah, urusan bisnis. Kalo Mama udah meninggal waktu ngelahirin aku” jawabnya sedih
“ Oh, sorry deh” kata Nino dengan sedikit merasa bersalah kemudian melanjutkan suapan terakhir ke mulutnya. Fana kembali teringat betapa ia merasa bersalah telah membuat mamanya meninggal demi melahirkannya dengan selamat
“ Jangan sedih lagi ya!” bujuk Nino sambil menatap Fana dalam-dalam, merasakan apa yang tengah dirasaka Fana. Sejenak ia merasakan damai bersama Nino lalu kembali menyadari bahwa orang yang sedang dihadapannya adalah pembunuh. Fana membuang muka lalu kembali menyibukan diri.

            PAGI ini Fana terus mondar-mandir didepan TV dengan wajah khawatir. Nino yang baru saja bangun tidur kebingungan melihat tingkah Fana.
“ Kamu kenapa sih?” tanya Nino dengan heran, sebenarnya ia ingin memanggil nama gadis itu, namun ia tak tahu siapa namanya
“ Aku lagi mikir gimana caranya biar kamu nggak ketahuan sama Bibi waktu Bibi lagi ngeberesin kamarku!” jawab Fana dengan gelisah. Nino diam berpura-pura ikut berpikir
“ Nni semua gara-gara kamu, Nino!” kata Fana lagi “kalo bukan karena kamu datang kesini, aku nggak bakal kebingungan kayak gini”
“ Jadi kamu tahu namaku?” tanya Nino tidak nyambung. Dia tersenyum kecil tanpa mempedulikan kehawatiran Fana. Fana menatap Nino dengan kesal
“ Aku lagi serius No! siapa sih yang nggak kenal buronan kejam kayak kamu? Pembunuh lagi!”
“ Ya sudah sana kamu cepetan berangkat sekolah. Nanti telat lho!” kata Nino menakuti Fana. Fana masih terus menatapnya dengan gelisah. “ Aku bisa bersembunyi kok! kamu tenang aja” lanjut Nino menghibur. Fana mengangguk setuju lalu membuka pintu kamarnya, ketika Fana hendak membuka pintu kamarnya, Nino segera bertanya untuk terakhir kalinya
“ Eh tunggu, namamu siapa?” tanya Nino. Fana menghentikan langkahnya kemudian menengok ke arah Nino
“ Fana” jawabnya singkat lalu berhambur keluar kamar. Nino tersenyum melihat gadis cantik itu. Cantik bener tuh cewek! Pikir Nino sambil membayangkan wajah Fana.

            “SUDAH ngerjain PR belum?” tanya seorang gadis dengan suara lembut disebelah Fana. Tidak salah lagi itu adalah Sherly.
“ Ya iyalah” jawab Fana puas
“ Aduh Sherly, kapan sih Fana lupa ngerjain PR?” kata Cindy kepada Sherly yang tiba-tiba nimbrung dan segera merebut buku Fana dari tangan Sherly. Lalu mereka berdua menyalin tugas Fana.
“ Sher, Cin, aku mau ngomong sesuatu sama kalian” kata Fana dengan serius kepada mereka berdua yang tengah sibuk mengayunkan tangannya kesana kemari diatas kertas.
“ Nanti aja Fan, kamu tahu kan kita lagi sibuk!” jawab Cindy cuek. Fana hanya diam.
            Waktu istirahat pun dimulai. Para siswa berhambur menuju kantin dan sebagian siswa lainnya tetap berada dikelas dan mengerjakan sesuatu yang dianggapnya penting. Fana, Cindy, dan Sherly yang tengah bersenda gurau dikantin sedikit terganggu setelah ada dua pria mendekati mereka.
“ Kamu Fana yang kemarin kan?” tanya seorang pria sambil menepuk bahu Fana. Fana terkejut.
“ Eh iya, kalo nggak salah kamu Vicky sama anton yang kemarin ketemu di mall itu kan?” tanya Fana kembali. Mereka berdua hanya tersenyum. Cindy kegirangan bertemu kedua pangeran itu lagi, sedangkan Sherly hanya terkaget melihat kedatangan kedua pria yang mengagetkan mereka.
“ Lho, kalian sekolah disini juga tho?” tanya Sherly kepada mereka berdua
“ Iya, kita kakak kelas kamu. Kamu anak kelas satu kan?” tanya Vicky
“ Iya, wah berarti kita harus panggil kalian kakak dong” jawab Fana sambil bercanda. Kemudian Anton dan Vicky duduk menyebelahi mereka bertiga sambil nyengir.
“ Nggak usah. Kita malah nggak enak hati kalo dipanggil kak, enak biasa aja kali” jawab Anton sambil melirik Sherly yang tengah meneguk minuman softdrink yang ia beli. Akhirnya dengan cepat mereka menjadi teman baik, Fana yang semula hanya memiliki dua teman terdekat sekarang temannya bertambah lagi menjadi empat. Ia sangat senang dikelilingi teman-teman yang baik terhadapnya.

            BEL pulang pun berbunyi. Siswa kembali berhambur keluar kelas menuju tempat tujuan mereka masing-masing.
“ Pulang bareng yuk?” ajak seorang pria dibelakang Fana. Fana menoleh ke belakang dan segera tersenyum
“ Tapi aku kan pulang sama Cindy dan Sherly? Mereka sudah nungguin di parkiran” tolak Fana dengan lembut. Vicky kecewa, kemudian Anton segera menenangkannya.
“ Ya sudah nggak papa kok. Sampai ketemu besok ya?” kata Vicky menyudahi. Fana segera pergi meninggalkan mereka berdua.
            Dalam perjalanan, Fana hanya diam. Cindy yang tengah menyetir mobil itu heran dengan kelakuan Fana.
“ Kenapa sih sayang?” tanya Cindy kepada Fana. Perkataan itu membuyarkan lamunan Fana, namun Fana hanya diam.
“ Oh iya, katanya tadi pagi kamu mau ngomong sesuatu sama kita? Apaan tuh Fan?” tanya Sherly dengan tatapan membujuk
“ Sebenarnya rumahku . .” Fana menghentikan perkataannya. Sherly semakin kebingungan.
“ Rumah kamu kenapa say? Ayo dong cerita” pinta Sherly. Akhirnya Fana menceritakan kejadian yang ia alami kemarin. Cindy yang tengah berkonsentrasi dalam menyetir tiba-tiba sedikit oleng lalu ia segera meluruskan kembali.
“ Apa? Nino nginap dirumah kamu?” tanya Cindy dengan histeris. Bukan kegelisahan yang tampak dari wajah Cindy dan Sherly, namun sebuah kebahagiaan yang mendalam.
“ Iya” jawab Fana singkat sambil mengerutkan dahinya
“ Kalo begitu, sekarang juga kita harus ke rumah Fana!” pinta Sherly kepada Cindy. Cindy pun langsung menyetujui.

            “YA AMPUN!” teriak Cindy dan Sherly bersamaan. Fana hanya menghembus nafas panjang melihat tingkah kedua temannya.
“ Aku nggak nyangka bisa ketemu sama kamu! Idolaku!” kata Sherly lalu memeluk Nino dengan paksa. Cindy mengekor dibelakangnya. Nino tampak sangat kebingungan
“ Ini apaan sih? Lepasin dong!” sergah Nino sambil melepaskan pelukan Cindy dan Sherly.
“ Ayo kita foto bareng, Nino. Nama kamu Nino kan?” tanya Cindy dengan semangat. Fana segera mencegahnya
“ Kamu apa-apaan sih Cin! Nanti kalo Rio marah gimana?”
“ Kapan lagi sih aku bisa foto sama buronan favourite-ku? Aku nggak peduli apa kata Rio!” jawab Cindy tak peduli. Ia memaksa Nino untuk mau berfoto dengannya dan Sherly
“ Tolong fotoin kita bertiga ya say?” pinta Sherly dengan genit kepada Fana sambil menyodorkan HP-nya. Fana mengangguk heran lalu menuruti keinginan kedua temannya itu.
            Setelah mereka lelah berfoto, Cindy merebahkan tubuhnya dikasur Fana yang empuk sambil mengoreksi hasil mereka berfoto. Senyum indah mewarnai wajah Cindy yang tak bermake-up itu. Sherly ikut histeris ketika melihat hasil foto mereka.
“ Sebenarnya mereka siapa sih?” tanya Nino heran. Fana hanya nyengir berharap Nino mampu memaklumi kelakuan sahabatnya. “ Kenapa mereka tahu kalo aku disini?” lanjutnya agak mendesak Fana.
“ Aku yang bilang. Mereka baik kok, bisa jaga rahasia” jawab Fana
“ Oke, aku percaya sama kamu. Sekarang ambilin aku minum dong” pinta Nino. Fana hanya merengut lalu beranjak menuju dapur. Bibi segera mendekati Fana ketika Fana tengah mengambil tiga buah gelas.
“ Non, tadi pagi waktu Bibi mau beresin kamar Non Fana, Bibi liat ada cowok keluar dari jendela kamar Non Fana. Bibi kira itu maling Non, tapi waktu Bibi koreksi nggak ada barang yang hilang kok Non” kata Bibi menjelaskan.
“ Oh, mungkin itu cuma halusinasi bibi aja. Nyatanya nggak ada barang yang hilang kan?” jawab Fana sambil berusaha tenang
“ Tapi Non . .” Fana segera menghentikan perkataan Bibi “sudah lah Bi, Bibi tenang aja. Fana ke kamar dulu ya? Mau kasih minum buat teman” katanya
“ Nggak Bibi saja yang antar ke kamar Non?” tawar Bibi dengan ikhlas
“ Nggak usah Bi, Fana bisa sendiri” jawab Fana segera menghindar lalu kembali ke kamarnya dengan wajah gelisah.
“ Nino!” panggil Fana sambil menutup pintu kamarnya keras-keras. Nino terkaget, begitu juga dengan Cindy dan Sherly
“ Kamu kenapa Fan? Kok marah gitu?” tanya Sherly sedikit ketakutan. Fana tak menghiraukannya dan tetap menatap Nino dengan marah.
“ Kamu bilang katanya kamu bisa sembunyi dari Bibi, tapi nyatanya tadi pagi Bibi liat kamu sedang keluar lewat jendela kamar aku! Maksud kamu apa sih No? kamu bohong sama aku kan?” bentak Fana menakutkan. Nino tidak menyangka gadis cantik seperti Fana juga bisa marah dan membentaknya.
“ Aku nggak tahu kalo separah itu” jawabnya santai. Fana semakin marah.
“ Mendingan kamu pergi sekarang juga! Pergi dari rumah aku dan jangan kembali lagi!” bentak Fana. Cindy segera menenangkan Fana dengan mengelus bahu sahabatnya itu.
“ Ssht, nanti kalo kamu teriak Bibi justru tahu, Fana” kata Cindy berusaha menghibur. Nino hanya diam dan  terus menatap Fana dengan sabar.
“ Aku nggak akan pergi Fana, aku akan tetap disini” kata Nino tenang
“ Jadi kamu bakal terus nyusahin aku gitu?” tanya Fana yang terus naik darah
“ Sudah Fan, jangan marah gitu dong. Pasti ada jalan keluar lain, jangan main usir bibeh Nino sembarangan” bujuk Cindy kembali. Sherly yang sedari tadi diam mulai berpikir.
“ Iya Fana, please jangan suruh aku pergi” kata Nino kali ini dengan nada memohon sekali.
“ Postur tubuh Nino kecil, suaranya lembut dan nyaring bagaikan wanita” kata Sherly tiba-tiba dengan tatapan blo’onnya “ Aku tahu jalan keluarnya!”
“ Apa Sher?” tanya Cindy penasaran
“ Nino harus ikut sekolah sama kita sebagai Nana” jawabnya dengan misterius
“ Maksud kamu?” tanya Nino
“ Iya aku tahu, aku paham. Benar kata Sherly No, kamu harus menyamar sebagai cewek biar orang-orang tidak mengenali kamu!” jawab Cindy penuh semangat. Fana mulai tertarik.
“ Iya juga sih, aku setuju! Besok aku bakal daftarin kamu disekolahku, jadi kamu nggak perlu sembunyi dari Bibi dan Kak Edo” katanya. Nino tidak bisa terima
“ Tapi naluriku ini naluri cowok, aku nggak bisa!” tolak Nino dengan lembut
“ Jadi kamu lebih milih diusir sama Fana?” tanya Sherly meyakinkan. Nino berpikir ulang lalu mengangguk dengan berat.
“ Horee!” teriak mereka bertiga dengan riang secara bersamaan. Nino masih tidak yakin dengan keputusan ketiga sahabat itu.
“ Tenang aja no, aku bakal ngerias kamu secantik mungkin. Aku kan jago dandan!” kata Cindy membanggakan diri. Nino tersenyum berat. Fana mengetahui apa yang Nino rasakan, namun ia tak peduli karena ini semua juga demi kebaikan Nino.

            NINO baru saja terbangun dari tidurnya, namun tiga bidadari telah mengelilinginya dengan senyuman manis yang mereka miliki. Dilihatnya Fana tengah menyodorkan satu stel seragam wanita kepada Nino, diterimanya dengan bingung.
“ Coba kamu pake ini” pinta Fana dengan penuh harap
“ Sekarang?” tanya Nino meyakinkan. Fana mengangguk penuh harap, dilihatnya Cindy tengah tersenyum-senyum menanti Nino mengenakan seragam miliknya. Mau tak mau, Nino pun mengenakannya.
Terdengar suara tawa kecil dari ketiga gadis itu ketika melihat Nino tengah mengenakan seragam wanita. Sebuah kemeja putih panjang dengan sweater kuning dengan bet sekolah SMU KESATRIAN dipasangkan dengan rok rample panjang kotak-kotak cokelat menempel ditubuh Nino dengan pas walaupun terasa aneh baginya
“ Kita sengaja kasih kamu seragam sama rok yang panjang biar otot-otot kamu nggak keliatan” kata Sherly mendukung
“ Nanti sepulang sekolah kita beli wig buat kamu ya!” perintah Cindy sambil tertawa melihat seorang pembunuh tengah mengenakan seragam wanita. Nino merasa diejek, dia ingin sekali melawan ketiga gadis itu namun ia teringat dengan jasa mereka yang telah menyembunyikan Nino dari kejaran polisi.
“ Tapi kalian nggak lagi ngerjain aku kan?” tanya Nino curiga
Fana tertawa “ Ya enggak lah say, kita ini lagi bantuin kamu. Kok kamu malah merasa diejek gitu sih?”
“ Iya bener banget tuh kata Fana” tambah Sherly. Nino hanya diam dan berusaha meyakini hal itu.
“ Udah ah, kita berangkat sekolah yuk? Keburu telat nih” ajak Cindy sambil melihat jam tangannya. Mereka bertiga pun berhambur keluar rumah, tapi tiba-tiba Kak Edo mencegah mereka.
“ Eh tunggu” panggil Kak Edo kepada mereka. Mereka bertiga pun serentak menoleh terhadap Kak Edo yang tengah membawa dua tas besar yang sesak
“ Sorry, maksudku Fana yang aku panggil” kata Kak Edo membenahi “ Sini Fan”
“ Kenapa kak?” tanya Fana setelah mereka berdua menjauH dari Cindy dan Sherly
“ Aku nanti nggak pulang jadi kamu sendirian deh. Nggak papa kan?”
“ Lho, emang ada apa sih?” tanya Fana heran “ Memangnya Bibi kemana Kak?”
“ BIbi pulang kampung soalnya anaknya sakit, aku udah kirim uang buat Bibi kok. Kalo kamu takut dirumah sendirian, kamu ajak aja temen-temen kamu nginap disini” jelas Kak Edo dengan bijak
“ Tapi mereka kan nggak bisa nginap disini setiap hari Kak, kok kamu seenaknya nggak pulang ke rumah gitu sih?”
“ Ya ampun Fana, masih aja nggak ngerti! Tempat kerja aku itu jauh dari sini Adikku sayang, makanya aku mau ngekost aja sama temenku, sekalian nanti kalo kuliah kan bisa berangkat bareng” jawabnya. Fana mencoba mengerti lalu segera berangkat sekolah dengan kedua sahabatnya itu.

            PELAJARAN Bahasa Inggris pun dimulai. Sherly dengan fasihnya membaca bacaan di depan kelas. Intonasinya sangat bagus, dia memang sangat menyukai pelajaran Bahasa Inggris dan tentunya hal itu dimanfaatkan oleh Cindy dan Fana untuk mengajari mereka ketika tidak bisa.
“ Kok aku jadi kepikiran Nino ya? Nggak kebayang kalo nanti dia bakal satu kelas sama kita” bisik Cindy kepada Fana. Fana hanya tersenyum.
“ Cindy! Perhatikan temanmu saat membaca!” kata Pak Dhani. Ia tampak sedikit marah dan terganggu. Cindy hanya mengangguk pelan, mukanya merah karena malu. Usai pelajaran tentunya isirahat, dengan cepat kantin langsung ramai dengan para siswa yang berteriak memesan makanan, bersenda gurau, bahkan membicarakan teman mereka yang tidak disukai. Vicky dan Anton yang biasanya hanya duduk-duduk di depan kelas bersama teman sekumpulannya, kali ini mereka menyempatkan diri ke kantin untuk bertemu dengan tiga bidadari. Namun, belum sempat Anton dan Vicky sampai di kantin, mereka melihat Cindy sedang berbicara serius dengan seorang pria tampan. Pria itu juga tampak serius.
“ Sesibuk apa sih kamu? Selalu aja nggak ada waktu buat aku!” kata pria itu dengan emosi. Tentunya pria itu adalah Rio, pacar Cindy.
“ Mungkin sesibuk artis” jawab Cindy bercanda
“ Aku serius sayang, kamu itu nggak pernah mau nyisain waktu buat aku! Kamu pikir aku ini apa?hah?” bentak Rio dengan marah. Cindy mulai malas.
“ Dengar ya Rio, aku itu memang lagi sibuk. Temanku lagi punya masalah dan aku harus bantuin dia”
“ Teman siapa?” tanya Rio tidak percaya
“ Ya teman sekolah dong! Terserah lah kalo kamu nggak percaya!” jawab Cindy yang kemudian pergi meninggalkan Rio, tapi Rio mengekor di belakangnya dan terus berbicara
“ Lho, kok kamu malah pergi sih? Aku kan belum selesai ngomong!” sergah Rio, Cindy tetap berjalan tanpa menghiraukan Rio
“ Cindy!” teriak Rio “ Yang harusnya marah itu aku, bukan kamu!”
Siswa disekitarnya ikut melihat pertengkaran singkat antara Rio dan Cindy. Vicky tertawa kecil lalu menghampiri Rio dengan Anton yang mengekor dibelakangnya.
“ Sabar aja ya bro, cewek emang nyebelin” kata Vicky dengan sedikit mengejek. Rio belum berani melawan kakak kelas, maka dari itu ia hanya diam dan pergi.
“ Kasian tahu!” kata Anton sambil tertawa lebar “ Seru ya liatin orang bertengkar”. Mereka terus membicarakan kejadian tadi sampai bertemu dengan tiga gadis yang mereka cari di kantin.
“ Hey, kamu tadi kenapa Cin?” tanya Anton mengejek. Vicky ikut menertawakan. Cindy hanya diam dengan muka merah karena marah, emosinya masih belum bisa reda
“ Kalian tuh apa-apaan sih! Cindy kan lagi ada masalah” bela Sherly sambil membisikan sesuatu kepada Cindy “ Sabar ya sayang?”
“ Iya sorry cantik, aku kan cuma tanya. Lagi pula, dari pada pacaran isinya cuma bertengkar, mendingan putus aja! Iya nggak Ky?” kata Anton membela diri
“ Bener banget tuh!” jawab Vicky mengangguk setuju
“ Kalian tuh disini cuma ngganggu tahu nggak! Mendingan kalian pergi deh” usir Fana sedikit emosi. Vicky khawatir.
“ Eh enggak fana, kita nggak ada maksud kayak gitu” kata Vicky berusaha menenangkan Fana “ Justru kita disini mau menghilangkan emosi kalian semua” lanjutnya sambil memperjelas kata ‘menghilangkan’. Fana hanya menatap Vicky heran.
“ Jadi rencananya, kita berdua mau ajak kalian pergi ke mall. Tempat favourite kalian kan?” ajak Anton sambil melirik Sherly berharap mendapat perhatian. Namun Sherly tetap saja cuek dan terus mempedulikan Cindy “ Gimana?” lanjutnya meyakinkan
“ Kayaknya nggak bisa deh. Kita bertiga sepulang sekolah udah punya acara lain yang jauh lebih penting” tolak Fana. Vicky sedikit kecewa karena sudah dua kali rencananya dengan Anton untuk mendekati mereka selalu saja gagal. Sherly sedikit bingung dengan jawaban Fana karena ia merasa tidak ada rencana apapun sepulang sekolah, tapi karena kepolosan Sherly, ia hanya mengangguk setuju dengan tolakan Fana.
“ Oh, ya udah nggak papa kok. Lain waktu kan juga bisa, iya nggak Ky?” jawab Anton sambil meyakinkan Vicky. Ia tahu Vicky sedikit marah dengan tolakan Fana yang mewakili Cindy dan juga Sherly
“ Iya. Yuk kita pergi!” jawab Vicky dengan nada berat lalu segera meninggalkan mereka bertiga. Anton mengekor dibelakang Vicky sambil melirik Sherly yang juga membalas tatapannya dengan wajah blo’on.

            CINDY masih terus menyetir mobilnya dengan cepat. Sherly hanya mampu mengangkat bahunya ketika Fana mulai bertanya “ Cindy kenapa sih?” kemudian mengalihkan pembicaraan.
“ Eh Fan, kok tadi kamu nolak ajakan Anton sama Vicky sih? Sayang dong” tanya Sherly
“ Aduh Sherly, masih muda kok pelupa sih? Kan tadi pagi kita udah rencana buat ngajak Nino beli paralatan buat dia sekolah nanti. Iya kan Cin?” jawab Fana sambil meyakinkan Cindy. Cindy yang semula masih emosi dan menyetir mobilnya dengan cepat, ia mulai tenang karena perasaan gembiranya akan bertemu Nino.
“ Oh iya, aku juga sempat lupa Fan! Duh senengnya nanti ketemu plus jalan-jalan sama Nino” kata Cindy tiba-tiba sambil memelankan jalannya karena akan berbelok ke perumahan tempat tinggal Fana. Sherly tersenyum melihat Cindy kembali lagi seperti semula.
“ Nino!” panggil Fana ketika memasuki rumahnya. Keluarlah Nino dengan sigap.
“ Kenapa? Oh iya, rumah kamu kok sepi?” tanya Nino kepada Fana
“ Iya, pada pergi. Udah lah jangan bahas itu sekarang! Yang penting kita langsung aja pergi. Oke!” jawab Fana
“ Lho, mau pergi kemana sih?” tanya Nino lagi dengan kebingungan
“ Ya beli apa aja yang kamu butuhin buat sekolah besok dong No” jawab Cindy
“ Ah males banget! Kalian aja deh yang pergi, aku percaya kok kalo kalian itu punya selera yang tinggi” tolak Nino dengan malas. Sherly kecewa.
“ Nggak bisa gitu dong No, ini semua kan juga demi kebaikan kamu. Coba deh, kalo Fana nggak berbaik hati buat ngijinin kamu tinggal dirumah ini dan nyekolahin kamu biar nggak dicurigain? Pasti kamu sekarang lagi lari-lari nggak tahu arah dijalanan karena dikejar polisi” bujuk Sherly panjang lebar dengan suara lembut yang menenangkan. Nino berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju.
Fana pun meminjamkan kaos kak edo yang masih tersisa di lemarinya untuk dipakai Nino, dengan berat hati Nino melakukan apa yang para gadis itu perintahkan.

            BEBERAPA wig telah Cindy koreksi dengan teliti sambil mencocokannya dikepala Nino. Nino merasa sangat malu, bagaimana bisa seorang pembunuh sepertinya sekarang ikut terjebak dengan tiga gadis yang suka mengatur!.
“ Yang ini aja?” saran Sherly sambil mengoreksi wig yang ia pegang. Sebuah rambut  palsu panjang berwarna hitam yang masih tampak halus dan baru dengan poni didepannya. Fana ikut mengamati wig yang tengah Sherly pegang.
“ Iya, yang ini kayaknya juga cocok sama kepala Nino, iya kan No?” tanyanya meyakinkan.
“ Terserah lah! Pusing juga liat rambut-rambut kusut dimata. Yang penting cepetan pulang!” jawab Nino mulai malas
“ Bawel banget sih” sahut Fana.
            Setelah membeli wig, Sherly merasa lapar dan haus. Begitu juga dengan Cindy.
“ Makan yuk?” ajak Sherly memelas. Cindy telah menyetujui ajakan Sherly namun Nino segera mencegahnya.
“ Jangan! Nanti kalo ada polisi gimana? Kalian mau ikut ketangkap sama aku?” tanyanya
“ Cuma bentar kok!” jawab Cindy
“ Mendingan aku sama Nino pulang duluan aja. Kamu sama Sherly kalo mau makan dulu nggak apa-apa” saran Fana. Ia tahu Nino sedang gelisah.
“ Boleh lah, ati-ati ya Fan” jawab Sherly setuju
“ Ati-ati juga kalo Nino macem-macemin kamu!” kata Cindy mengingatkan. Wajahnya tampak sangat mengejek.

            SAMPAI-lah Nino dan fana dirumah. Fana masih sibuk menyiapkan apa saja yang diperlukan Nino besok.
“ Udah nggak usah terlalu sibuk gitu kali. Aku bisa sendiri kok!” kata Nino. Matanya masih saja berkonsentrasi dengan acara TV yang dilihatnya. Fana menengok ke arah Nino dengan tidak yakin.
“ Sok banget sih! Emang kamu paham sama semua ini?” tanya Fana mengejek
“ Eh jangan salah, aku ini anak sekolahan tahu! Kamu pikir aku pembunuh tak ber-otak yang tinggal dijalanan!” sahutnya sedikit merasa dilecehkan. Fana mendekati Nino dengan penasaran.
“ Lho, aku jadi semakin nggak paham sama kehidupanmu. Sebenarnya kamu siapa sih? Kok bisa sampai membunuh cewek tak berdosa? Emangnya kamu sekolah dimana?” tanyanya penasaran. Nino hanya menghembus nafas panjang, raut mukanya sedih bercampur marah.
“ Kamu bilang cewek tak berdosa? Eh kamu kalo nggak tahu masalah yang sebenarnya jangan asal ngomong ya! Itu semua bukan urusanmu” jawabnya ketus
“ Apa salahnya sih aku tahu?”
“ Salah banget!” jawabnya. Ia berhambur ke dapur dan melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diduga oleh Fana, yaitu memasak.
“ Kamu bisa masak?” tanya Fana kaget
“ Ya iyalah, aku kan nggak manja kayak kamu” jawab Nino bercanda. Fana tersenyum.
“ Emang kamu masak apa?” tanyanya penasaran
“ Mau tahu?” jawab Nino bertanya kembali. Fana mengangguk penasaran.”aku mau buat omelet. Kamu bantuin ya?”
“OK deh” jawab Fana ,meng-iya kan. Dengan semangat Fana melakukan apa yang diperintahkan oleh Nino mulai dari memarutkan keju, menyiapkan wajan dan sebagainya. Nino pun juga semangat ketika menuangkan adonan telur diatas wajan yang telah disiapkan. Beberapa menit kemudian telur siap dibalik.
“ Eh gimana kalo kamu balik telurnya kayak chef-chef terkenal? Sambil dilempar ke atas gitu” pinta Fana kepada Nino. Nino tertawa mendengarnya.
“ Ya enggak bisa lah, aku kan bukan chef. Kamu ini aneh ya!” jawabnya sambil tertawa
“ Ayo dong, please?” pinta Fana lagi, kali ini Nino tak mampu menolaknya
“ Ya udah, liat ya?” jawabnya sambil mengangkat wajan ke udara lalu mencoba membalik omelet dengan cara menghamburkannya ke atas. Namun, WOW! Sebagian omelet justru jatuh di lantai dan yang lainnya berhasil mendarat di wajan kembali. Fana dan Nino tertawa serentak lalu Fana segera memberesi sebagian omelet yang jatuh sambil terus tertawa. Mau tidak mau, omelet harus tetap dimakan walaupun hanya setengah.
“ Eh, kamu belajar masak dari siapa no?” tanya Fana kepada Nino yang tengah menjejalkan makanan dimulutnya
“ Dari mamaku-lah” jawabnya santai
“ Lho, emang rumahmu dulu dimana sih?”
“ Jauh dari sini”
“ Terus kenapa sekarang kamu pergi dari rumah?”
“ Ya iyalah, kalo aku terus berada dirumah berarti aku udah tertangkap sama polisi” jawabnya. Fana tidak ingin menyodorkan pertanyaan lagi terhadap Nino karena ia yakin Nino pasti akan menjawabnya dengan marah. Akhirnya makan siang itu berakhir dengan keheningan.

            “SELAMAT pagi anak-anak” sapa Bu Sus dengan ramah. Tangannya sibuk meletakan buku-buku penting di mejanya. Anak-anak serentak menjawab sapaan Bu Sus dengan sopan dan ramah pula.
“ Apa kalian sudah tahu?” tanya Bu Sus sambil berdiri di sebelah mejanya
“ Beluuuum” koor anak-anak dengan nada panjang. Bu Sus tersenyum ramah kemudian menengok ke luar kelas. “ Ayo masuk!” perintah Bu Sus kepada seorang siswi yang tengah berdiri di luar kelas. Siswi itu segera masuk dengan muka menunduk karena malu. Sherly tidak bisa menahan tawanya, ia tertawa terbahak-bahak melihat siswi yang masuk di kelasnya itu adalah Nino dengan seragam wanita. Cindy buru-buru menyikut tangan Sherly dan dia segera menghentikan tawanya yang berganti dengan tawa kecil. Bu Sus menatap Sherly dengan heran sekaligus marah, lalu kembali mengalihkan perhatiannya kepada siswi baru itu.
“ Silakan perkenalkan dirimu?” kata Bu Sus kepada Nino yang masih menundukan kepalanya. Kemudian ia menegakan kepalanya menghadap siswa lain dengan menahan rasa malu.
“ Nama saya Nana Alifah. Saya pindahan dari SMA 34 di Jakarta, mohon kerjasamanya ya!” kata Nino dengan suara lembut. Tidak seperti seorang laki-laki. Para siswa menatap Nino dengan geli karena seragam yang dikenakan Nana serba panjang, seperti orang udik.
“ Katanya sih pindahan dari Jakarta, tapi gayanya kayak orang desa!” ejek Evan diiringi dengan tawa keras dari siswa lain. Nino benar-benar merasa bodoh, ia menatap Fana, Cindy dan Sherly dengan sebal kemudian Bu Sus segera menghentikan keramaian di kelas.
“ Diam! Ibu tidak menyuruh kalian ribut seperti ini! Seharusnya kalian mendukung teman baru kalian ini agar dia merasa nyaman berada di sekolah kita, bukan mengejeknya!” bentak Bu Sus dengan marah, matanya melirik seisi kelas yang kemudian berakhir dengan tatapannya ke tempat duduk kosong disebelah Fana. “ Nana, kamu duduk di sebelah Fana ya!” Nana tersenyum lalu duduk menyebelahi Fana. Fana tersenyum geli melihat penampilan Nino, tapi ia bisa mencegah tawanya itu.
“ Fana sayang, kamu jangan ketularan udik kayak Nana ya!” ejek Evan lagi kepada Nino. Nino benar-benar emosi, namun Fana berhasil mencegahnya agar tidak emosi dengan ejekan Evan. Siswa lain ikut tertawa dengan ejekan Evan, terutama para pria. Cindy sama sekali tidak menyukai ini, ia berdiri dan menuding Evan dengan sebalnya.
“ Heh, bisa diem nggak sih! Kamu itu kayak monyet yang di kurung tahu nggak!” bentak Cindy. Evan tetap santai menanggapinya.
“ Uuuh takut” sahut Evan dengan sangat mengejek. Cindy semakin emosi, tapi Bu Sus segera melerai mereka.
“ Sudah, sudah! Jangan ribut lagi. Evan, kamu duduk dan Cindy kamu juga duduk! Kita kembali kepada materi kemarin yang belum sempat terselesaikan” lerai Bu Sus dengan tegas. Evan dan Cindy pun kembali duduk sambil menahan emosi mereka. Evan mengacungkan jari tengahnya kepada Cindy dan Cindy hanya me-melototi Evan dengan sebal. Pelajaran pun berjalan dengan lancar setelah pertengkaran kecil antara Evan dan Cindy berakhir. Nino tampak sedikit kebingungan mengingat pelajaran yang pernah ia pelajari sebelum menjadi seorang pembunuh. Fana ikut membantu Nino mengingat pelajaran kembali dan selalu menjawab pertanyaan Nino ketika ia mulai bingung.

            ISTIRAHAT pun dimulai. Seperti biasa, ketiga gadis cantik itu nongkrong di kantin. Tapi kali ini tidak hanya Fana, Cindy, dan Sherly melainkan ditambah Nino. Eh, maksudnya Nana. Vicky dan Anton yang mulai membiasakan dirinya untuk ke kantin agar bertemu tiga gadis cantik itu heran melihat gadis lain bersama mereka.
“ Hey girls, ini siapa?” tanya Anton sambil menatap Nino dengan aneh. Penampilan Nino memang berbeda dengan gadis lain di sekolah ini, namun wajahnya yang cantik sekaligus tampan itu membuatnya tidak terlihat begitu aneh.
“ Ini nana, anak baru di sekolah kita” jawab Fana dengan ramah, Nino tertunduk berharap kedua pria itu tidak mengamatinya
“ Oh, kenalin namaku Anton” kata Anton sambil menyodorkan tangannya. Keduanya saling bersalaman. “ Kalo aku Vicky, salam kenal ya!” kata Vicky menatap Nino menggoda. Nino tampak jijik, ia tidak habis pikir bagaimana jika Vicky atau Anton mengetahui bahwa ia adalah seorang lelaki yang tengah diburu oleh polisi.
“ Jadi sekarang udah nggak tiga bidadari dong, jadi empat bidadari” kata Anton bercanda, Sherly ikut tertawa “ Tapi diantara ke empat bidadari ini, cuma satu dong bidadari hatiku, yaitu Sherly” lanjutnya. Sherly tampak kaget sekaligus malu mendengarnya. Fana dan Cindy tampak geli.
“ Oh iya Na, kalo aku boleh tanya kenapa sih kok kamu pake seragam serba panjang gitu, kan aneh?” tanya Vicky dengan penasaran. Nino kebingungan dalam menjawab pertanyaan Vicky yang aneh. Lalu ia menatap Fana meminta pertolongan, sayangnya Fana hanya menggeleng.
“ Ini privacy” jawab Nino singkat. Vicky terlihat curiga, ia merasa ada sesuatu yang sangat aneh dalam diri Nana yang sebenarnya.

            “KAYAKNYA Vicky udah curiga sama aku deh” kata Nino sambil melepas jepit rambut yang menempel dirambut palsunya, tapi Fana mencegahnya melepas jepit rambut itu.
“ Jangan dilepas! Nanti aja kalo udah sampe di rumah” cegah Fana kepada Nino. Sherly yang duduk bersebelahan dengan Cindy di depan menengok ke arah Fana dan Nino “ Iya, aku juga ngerasa kalo tadi Vicky itu ngeliatin Nino dengan tatapan curiga gitu. Gimana nih guys?” sahut Sherly meminta pendapat kedua temannya itu.
“ Kamu sih No, jangan terlalu takut kalo ngeliatin orang. Nanti mereka malah curiga sama kamu” saran Cindy sambil terus berkonsentrasi menyetir mobilnya
“ Ya aku kan juga harus waspada Cin, gimana kalo ternyata itu mereka tahu siapa aku yang sebenarnya?” bela Nino kepada dirinya sendiri
“ Kamu emang harus selalu waspada No, kayak kamu waspada sama keberadaan polisi dimana-mana. Tapi nggak seharusnya kewaspadaan kamu itu terlalu mencolok dihadapan orang-orang” kata Fana lembut. Nino mencerna kata-kata itu dengan baik di otaknya, ia mengangguk setuju.
            Selang beberapa menit, sampai lah Fana dan Nino di rumah. Kali ini Sherly dan Cindy tidak bisa mampir terlebih dahulu karena ada urusan lain. Cindy berencana untuk memutuskan Rio dan Sherly berencana untuk memandikan kucingnya tersayang yang bernama Emy. Sampailah Sherly di depan rumahnya, ia melambaikan tangannya ke arah mobil Cindy yang melaju ke tempat tujuannya bersama Rio.
“ Lama banget sih?” tanya Rio kepada Cindy yang baru saja duduk di sofa ruang tamu rumah Rio
“ Sorry, tadi agak macet” jawabnya singkat
“ Ya udah” kata Rio memaklumi “ Tadi kamu mau ngomong apa sih?”
“ Aku mau kita putus, kayaknya selama kita pacaran itu kita sama sekali nggak cocok” kata Cindy dengan santai. Rio shock mendengar perkataan Cindy.
“ Lho, aku kan udah berusaha mengimbangi kamu? Kok kamunya malah gitu sih sama aku!” kata Rio menanggapi
“ Sorry Rio, tapi ini keputusan yang terbaik” jawab Cindy memelas. Rio hanya diam dan berpikir cukup lama untuk benar-benar memutuskan apa yang Cindy inginkan.
“ Tapi kamu mutusin aku bukan karena kamu udah punya cowok lain kan?” tanya Rio meyakinkan
“ Ya enggak lah. Ini murni karena ke-tidak cocokan kita” jawab Cindy tegas
Rio menghembus nafas panjang dan dengan berat ia memutuskan “ Ya udah kalo ini yang kamu mau, nggak apa-apa kok. Kita putus aja”
“ Makasih ya Rio, aku pulang dulu” jawab Cindy dengan senang hati. Ia melambaikan tangannya kepada Rio lalu berhambur memasuki mobilnya dan kembali pulang ke rumah.

            NINO terus memandangi seisi kamar Kak Edo, ia begitu merindukan kamarnya sendiri.
“ Nino, dari tadi aku cariin kamu ternyata kamu disini tho!” kata Fana sambil duduk di kasur Kak Edo. Nino menyebelahi Fana dengan pandangan berat. “ Kamu kenapa sih?”
“ Nggak apa-apa kok. Oh iya, keluarga kamu pada kemana sih? Kok sepi banget”
“ Kak Edo sekarang nge-kost sama temannya, Bibi pulang kampung soalnya anaknya lagi sakit jadi aku sendirian di rumah. Untung ada kamu yang bisa jadi satpam rumahku” jelas Fana sambil tertawa
“ Emang kamu nggak takut kalo misalnya aku berbuat jahat gitu?” tanya Nino
“ Aku nggak juga nggak tahu kenapa aku nggak pernah curiga sama kamu sejak kita udah kenal”
“ Kamu ini aneh ya? Harusnya kamu waspada sama siapa pun. Jangan mudah percaya gitu aja sama orang yang baru kamu kenal. Ngerti?”
“ Iya aku ngerti” jawab Fana tersenyum
“ Kasian banget ya kamu, rumah se-gedhe ini tapi yang tinggal cuma kamu. Beda banget sama keadaan keluargaku, walaupun rumahnya sederhana, tapi kita selalu bersama”
“ Ya kalo dari cara kamu ngomong, kayaknya aku menderita ya?” jawab Fana bercanda “ Kayaknya keluargamu harmonis, tapi kenapa kamu merusak itu semua?”
Nino menghembus nafas panjang “ Aku kan udah bilang itu bukan urusanmu!”
“ Iya aku tahu, sorry deh kalo itu menyinggung perasaan kamu” kata Fana. Nino hanya tersenyum.
“ Menurutmu, Wulan itu cantik nggak sih?” tanya Nino tiba-tiba
“ Cewek yang kamu bunuh itu?” tanya Fana kembali “ Menurutku dia cantik, cantik banget” lanjutnya
 Iiya, dia emang sangat cantik dan aku rasa keputusanku untuk membunuhnya itu salah. Aku terlalu gegabah” katanya penuh sesal. Matanya menerawang  mengingat wajah Wulan saat tersenyum padanya.
“ Kamu suka sama wulan ya?” tanya Fana penasaran
“ Ya enggak lah, sampai mati pun aku nggak akan pernah tertarik sama dia. Buat megang tangannya aja aku nggak sudi” jawab Nino ketus
“ Lha terus kok tadi kamu nyesel waktu bunuh Wulan?”
“ Iya aku nyesel bukan  karena aku suka sama dia. Udah lah jangan bahas ini lagi”

            PAGI ini Nino tampak lebih rileks menjadi Nana, ia mulai berkenalan dengan teman-teman di sekolahnya dengan baik. Suaranya yang lembut dan wajahnya yang tampan sekaligus cantik itu membuat teman Nino yang lain tidak mengetahui atau curiga dengannya. Fana ikut lega dengan acting Nino menjadi wanita yang semakin membaik. Seperti biasa, saat istirahat mereka ber-empat nongkrong di kantin dan tanpa di undang pun Vicky dan Anton selalu saja menghampiri mereka.
“ Fan, nanti ke mall yuk? Kita kan udah lama nggak ke mall. Iya kan Sher?” ajak Cindy kepada kedua temannya itu
“ Nggak ah, nanti Nana gimana?” tolak Fana dengan lembut. Ia sengaja memanggil Nino dengan sebutan Nana karena Vicky dan Anton tengah duduk bersama mereka
“ Nana diajak juga dong?” saran Anton. Anton begitu menginginkan rencana Cindy merayu Fana itu berhasil karena ini termasuk kesempatannya mendapatkan hati Sherly
“ Ogah, mending aku pulang ke rumah aja” jawab Nino dengan tegas. Baginya, memakai rambut palsu dan seragam wanita saat disekolah itu sudah membuatnya muak apalagi jika ia harus ke mall bersama tiga gadis manja dan dua pria penuh rayuan gombal. Hal itu benar-benar tidak di sukai Nino. Vicky mengerutkan keningnya dan menatap Nino dengan heran.
“ Biasanya anak Jakarta itu seneng kalo diajak jalan-jalan apalagi ke mall buat ngecengin cowok, tapi kok kamu enggak ya?” tanyanya curiga. Nino merasa bingung harus menjawab apa
“ Ini privacy” jawab Nino asal. Jawaban itu membuat Vicky semakin curiga dengan tingkah laku Nino yang sangat aneh dan berbeda dengan wanita yang lain.
“ Ah kamu ini nggak asyik banget sih jadi cewek!” ejek Anton. Sherly dan Cindy bertatap muka mengisyaratkan bahwa Vicky telah curiga dengan Nino.
“ Kamu beruntung banget lho bisa temenan sama gengnya fana. Secara gengnya Fana itu cantik-cantik dan gaul, tapi sejak kamu muncul disini kok suasananya jadi udik gitu ya?” sindir Vicky dengan tajam. Nino menahan emosi ‘kalo statusku disini bukan sebagai Nana, dari dulu aku udah hajar kamu habis-habisan!’ batinnya sebal.
“ Vicky kamu kenapa sih? Kalo Nino emang nggak mau ya jangan dipaksa dong!” kata Fana. Ia keceplosan. Cindy menatap Fana dengan kesal dan marah sedangkan Sherly hanya terkejut. Mulutnya ternganga saat mendengar Fana keceplosan.
“ Nino? Siapa Nino?” tanya Vicky dengan heran. Serentak Vicky dan Anton menatap Nino dalam-dalam.
“ Eh maksud aku Nana” jelas Fana dengan grogi. Ia terus membalas pandangan Cindy yang tengah marah padanya “ Kamu sih mojokin Nana terus, makanya aku jadi salah omong” lanjutnya
“ Lho kok kamu jadi nyalahin kita sih? Ah nggak lucu ya!” bentak Anton
“ Aku nggak nyalahin kok, tapi-“ dengan cepat Sherly menghentikan perdebatan mereka “ Udah dong, kayaknya masalah ini nggak penting buat di omongin deh. Mendingan sekarang kalian berdua pergi” usir Sherly dengan lembut. Ia memang tak pernah bisa bersikap tegas kepada siapapun.
“ Kok kamu jadi ngusir aku sih Sher?” tanya Anton khawatir
“ Ya udah mendingan kita pergi aja Ton, good bye para bidadari cantik?” kata Vicky. Ia menyeret Anton yang masih saja menatap Sherly dengan khawatir lalu mereka segera berlalu.

            SEPULANG sekolah, Cindy tidak bisa memberikan tumpangan kepada Fana, Nino, dan Sherly di mobilnya karena mendadak Cindy ada urusan keluarga. Hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Anton untuk mengajak Sherly pulang bersamanya. Dengan susah payah, akhirnya Sherly setuju untuk pulang bersama Anton dan meninggalkan Fana dan Nino sendirian.
“ Kita duduk disini dulu ya? Capek nih” ajak Fana kepada Nino. Mereka duduk di kursi panjang yang terletak didepan kelas mereka. Canda dan tawa pun melunturkan rasa lelah dan jenuh dipikiran Fana. Tiba-tiba ada seorang pria bertubuh jangkung dan tinggi menghampiri mereka berdua.
“ Permisi, kamu yang namanya Fana kan?” tanya pria itu. Nino terkejut melihat sosok pria itu, sosok yang begitu ia kenal. Perasaannya tidak enak bertemu dengan pria itu lagi ‘Mas Titan? Ngapain dia ada disini? Emang dia udah pindah sekolah?’ batin Nino. Matanya terus menatap pria itu dengan heran bercampur takut.
“ Iya” jawab Fana “ kenapa ya?”
“ Oh nggak apa-apa, aku cuma mau tanya: apa bener kamu itu pacarnya Vicky?”
“ Apa? Pacarnya Vicky?” tanya Fana kembali. Pria itu mengangguk. “ Ya enggak lah! Siapa yang bilang gitu Kak?” lanjut Fana dengan kaget
“ Ya Vicky sendiri lah, dari kemarin dia itu terus ngomongin kamu di depan aku dan temen lainnya. Tapi karena aku nggak begitu percaya sama Vicky, makanya aku tanya sendiri ke kamu” jelas pria itu
“ Masak Vicky bilang itu ke kamu dan temen-temen lainnya?” tanya Fana tidak percaya
“ Iya” jawab pria itu “ Oh iya, kenalin namaku Titan. Aku sohibnya Vicky tapi nggak sedekat Vicky sama Anton”
“ Eh, iya. Aku Fana dan ini temen aku namanya Nana” kata Fana sambil memegang pundak Nino. Nino sangat grogi dan takut apabila Kakaknya itu mengetahui keberadaannya disini dan sebagai wanita. Titan memandang Nino dengan heran karena Nino terus menundukan mukanya.
“ Fan, cepetan kita pulang!” bisik Nino kepada Fana. Fana tidak mengerti mengapa Nino memaksanya untuk cepat pulang, tapi ia mengabulkan permintaan Nino.
“ Ya udah kalo gitu kita pulang dulu ya kak?” kata Fana menyudahi
“ Oh ya udah nggak apa-apa. Makasih ya Fan sama infonya” jawab Titan sambil tersenyum kepada keduanya kemudian ia segera berlalu.
“ Aku bener-bener. .“ belum sempat Fana berbicara, Nino langsung menyeret Fana masuk ke dalam ruang kelas mereka.
“ Kamu kenapa sih No?” tanya Fana bingung
“ Itu, Mas Titan! Mas Titan!“ kata Nino terbata-bata
“ Iya, Kak Titan kenapa Nino? Ada yang salah?” tanya Fana lagi
“ Kok dia bisa ada disini sih?” tanya Nino dengan begitu gelisah
“ Iya kan dia sekolah disini. Kenapa sih No? kamu kok kayaknya takut banget?”
Nino menghembus nafas panjang “ Kayaknya emang udah saatnya kamu tahu Fan” kata Nino memulai “ Iya, Titan itu Kakakku. Kakak kandungku. Wulan, cewek yang aku bunuh itu pacarnya Mas Titan dan sejak saat itu Mas Titan benci banget sama aku!”
“ Apa? Kok kamu bisa nge-bunuh Wulan sih?” tanya Fana heran sekaligus terkejut
“ Dulu, Mas Titan pernah ngenalin aku sama pacarnya yaitu Wulan. Awalnya sih aku seneng sama dia, dia ramah, baik, sopan dan cantik. Tapi suatu hari aku nge-lihat Wulan sama cowok lain dan lusa aku juga liat Wulan sama cowok lain yang berbeda. Akhirnya dengan emosi aku ngajak ketemuan Wulan tanpa sepengetahuan Mas Titan, aku ngajak dia ketemuan itu buat tanya tentang apa yang aku liat waktu itu.
Tapi waktu kita udah ketemuan, Wulan justru minta aku buat jadi pacarnya! Aku bener-bener kaget dan spontan nolak Wulan. Habis itu aku jelasin kenapa aku ngajak dia ketemuan, aku tanya sama dia sebenarnya siapa dua cowok itu dan dengan santainya dia bilang kalo dua cowok itu juga pacarnya. Sebagai adik, aku bener-bener nggak terima kalo Mas Titan diperlakuin kayak gini sama Wulan dan akhirnya aku-“ Nino menghentikan ceritanya lalu melanjutkannya kembali “ Aku bunuh dia. Ternyata perbuatanku ini cepat diketahui orang-orang, Mas Titan marah banget sama aku dan nggak mau dengar penjelasanku. Dia langsung laporin aku ke polisi dan dengan cepat pula aku kabur dari kejaran polisi”

FANA melongo mendengar semua penjelasan Nino yang sangat panjang. Tanpa mereka ketahui, ternyata percakapan Nino dan Fana sejak tadi telah didengar oleh Vicky. Sedari tadi ia terus berdiri di samping pintu ruang kelas Fana. Raut mukanya tampak senang mendengar percakapan mereka yang sangat penting itu kemudian Vicky berlari untuk bersembunyi dibalik pintu kelas 10-E dan mengawasi mereka berdua yang beranjak pulang. Tanpa ragu lagi, Vicky mengikuti Fana dan Nino pulang, mobilnya terus melaju dengan hati-hati agar tidak ada yang curiga. Beberapa menit kemudian, dengan sangat hati-hati Vicky telah berhasil mengikuti Fana dan Nino pulang. Mobilnya berhenti diseberang rumah tetangga Fana, ia sengaja parkir disitu agar Fana ataupun Nino tidak merasa curiga.
“ Akhirnya selama ini kecurigaan aku sama Nana terjawab juga. Sebenarnya Nana itu adalah Nino, seorang pembunuh yang sampai saat ini masih diburu sama polisi. Tapi kenapa dia bisa tinggal di rumah Fana? Apa mungkin Fana juga termasuk komplotan Nino? Ah tapi nggak mungkin, kalo Fana itu komplotannya Nino, kenapa tadi Nino jelasin masalah yang dialami Nino selama ini?” kata Vicky kepada dirinya sendiri “ Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Titan itu adalah kakak dari Nino sang buron polisi. Tapi kenapa aku nggak pernah tahu masalah ini? Padahal aku sama Titan itu punya hubungan pertemanan yang sangat baik. Apa mungkin Titan sengaja nyembunyiin masalah ini dari siapapun?”
Vicky terus berpikir, bertanya, dan menduga-duga kepada dirinya sendiri. Setelah beberapa lama ia berpikir, ia telah memiliki suatu rencana hebat untuk Nino.
“ Sekarang Fana dan Nino tinggal satu rumah, itu pasti bahaya banget buat Fana dan aku nggak akan nge-biarin ini semua! Aku harus melaporkan ini semua ke polisi. Ini semua demi kamu Fana, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa” kata Vicky pada dirinya sendiri. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan siap beraksi.

            “YANG bener?” tanya Cindy meyakinkan. Fana mengangguk yakin, ia telah menceritakan tentang apa yang ia alami bersama Nino kemarin dan bercerita panjang lebar mengenai Nino. Mulut Sherly secara spontan ternganga mendengar apa saja yang diceritakan Fana.
“ Kasian Nino ya, dia itu salah tapi benar” komentar Sherly “ Dia terjebak dalam emosi” kemudian percakapan itu segera berakhir ketika Nino tengah bergabung dengan mereka. Raut mukanya tampak khawatir dan mengawasi sekeliling.
“ Sebaiknya kalian hati-hati kalo ngomongin aku di tempat umum kayak gini, nanti kalo ada yang nggak sengaja dengar kan brabe” kata Nino. Ketiga gadis itu terkejut melihat Nino tahu apa yang  tengah mereka bicarakan.
“ Sorry ya No, kita nggak ada maksud buat. .” Nino buru-buru menghantikan perkataan Cindy “ Udah nggak apa-apa” ia merasa harus menyudahi percakapan ini agar tidak ada yang mendengar.
            Pelajaran Fisika pun dimulai, ini adalah salah satu pelajaran yang disukai Nino. Namun karena masalahnya yang masih membelenggu, ia jadi tidak merasa bisa berkonsentrasi memahami pelajaran tersebut. Fana hanya diam melihat Nino yang tengah melamun, ia tak ingin mengganggu Nino saat ini. Bu Rahma mengetahui bahwa Nino tidak memperhatikan apa yang tengah ia terangkan kepada murid lainnya, ia merasa sebal namun tiba-tiba merasa khawatir pula melihat raut muka Nino yang tampak sangat tertekan dan stress.
“ Nana, kamu baik-baik saja kan?” tanya Bu Rahma sambil terus menatap Nino dalam-dalam. Nino terbangun dari lamunannya dan melihat sekitar kemudian menatap Bu Rahma dengan malu.
“ Nggak apa-apa kok bu” jawabnya singkat
“ Kalau begitu segera kerjakan tugasmu!” perintah Bu Rahma. Nino mengangguk kemudian membuka buku tugas fisikanya, ia terkejut menyadari bahwa buku yang ia buka adalah buku catatan geografi. Ia tertawa dalam hati lalu memasukan buku catatan geografi ke dalam tasnya dan menukarnya dengan buku tugas fisika.

            SAAT istirahat, Vicky sengaja mengajak Titan bergabung dengannya dan Anton untuk menghampiri tiga bidadari cantik dan satu orang asing yang mencurigakan. Sebelumnya, Vicky telah menceritakan kejadian kemarin yang ia lihat dan merencanakan sesuatu yang hebat untuk Nino. Anton merasa ragu mendengar cerita dari Vicky, namun ia percaya dengan sahabatnya bahwa Vicky tak pernah berbohong padanya dan Anton memang selalu setuju dengan apa yang Vicky lakukan asalkan itu semua benar.
“ Hai guys” sapa Vicky dengan sinis ketika tatapannya tepat berada dimuka Nino. Mereka berempat tampak heboh ketika melihat Vicky dan Anton mengajak Titan untuk bergabung dengan mereka. “ Kalian pasti udah kenal sama dia kan?” tanya Vicky sambil menunjuk ke arah Titan. Titan tersenyum ramah ketika keempat gadis itu menatapnya dengan heboh.
“ Iya, ini Kak Titan kan?” tanya Sherly dengan wajah blo’on. Ia selalu mengandalkan wajahnya yang blo’on untuk menutupi ke-terkejutannya itu.
“ Bagus deh kalo gitu. Oh iya, aku yakin pasti Nana belum kenal, iya kan?” tanya Vicky kepada Nana dengan maksud menjebak Nino
“ Udah kenal” jawab nino singkat. Matanya tak pernah berani untuk menatap kedua mata kakaknya, Titan.
“ Masak sih? Kapan kalian kenal?” semprot Anton kepada Nino. Nino semakin merasa gugup untuk menjawab, Fana pun mengetahui apa yang tengah Nino rasakan. Ia segera menjawab pertanyaan Anton sebelum Nino menjawabnya dengan ngawur.
“ Lho, kemarin kan Nana sama Kak Titan udah kenalan” jawabnya
“ Oh iya, aku inget kamu yang kemarin sama Fana kan?” tanya Titan kepada Nino. Nino hanya mengangguk, kepalanya masih terus menunduk. Cindy telah menyikut tangan Nino berkali-kali agar sikapnya itu tak tampak mencurigakan, tetapi Nino tak menghiraukannya.
“ Kamu kenapa sih Na?” tanya Anton dengan santai, ia begitu semangat melihat ekspresi wajah Nino yang tampak sangat gugup
“ Nino emang pemalu, jadi dia sering nggak mau natap wajah orang yang baru dia kenal” kata Cindy. Spontan ia menutup mulutnya dengan tangannya setelah menyadari bahwa Nino tengah menyamar menjadi Nana.
“ Apa katamu? Nino? Siapa Nino?” tanya Vicky dengan curiga. Ia semakin senang melihat yang lainnya tampak salah tingkah dan gugup dalam berbicara. Ini semakin mempermudah Vicky untuk membuat mereka membocorkan rahasia mereka sendiri.
“ Eh. .” cindy sangat kebingungan. Ia melirik titan untuk melihat reaksinya, tapi Titan masih tampak santai seolah-olah nama ‘Nino’ adalah sebuah nama yang tak pernah ia kenal. “ Emang siapa yang bilang Nino? Aku kan bilangnya Nana!” lanjutnya. Fana lega mendengar perkataan itu.
“ Tadi itu kamu bilangnya Nino, bukan Nana. Iya kan guys?” tanya Vicky kepada Anton dan Titan.
“ Kalo aku sih dengarnya juga Nino, bukan Nana” jawab anton semakin memanaskan suasana
“ Aku juga” kata Titan dengan santai. Sepertinya ia sudah benar-benar tidak peduli bahkan melupakan Nino, adiknya sendiri.
“ Ah kalian, kupingnya banyak emasnya tuh! Nanti pulang sekolah dibersihin ya” kata Sherly bercanda. Ia segera mengalihkan dan membuat seolah-olah pendengaran ketiga pria itu sangat buruk. Kemudian mereka tertawa bersama mendengar candaan Sherly.

`           “SORRY ya, aku nggak bisa pulang bareng sama kalian. Aku mau pulang sendiri aja” kata Nino dengan wajah dingin. Ia segera pergi setelah mengatakan hal itu, yang lainnya pun tidak sempat mencegah Nino. Tanpa sengaja pula Anton dan Vicky mengetahui hal itu, dengan segera Vicky mulai menjalankan rencananya.
“ Sher, kamu pulang  sama aku lagi ya?” ajak Anton. Kali ini Sherly tidak perlu berpikir dua atau tiga kali untuk menyetujui ajakan Anton karena ia telah merasa bahwa Anton bukanlah pria jahat. Cindy menatap Sherly dengan senang, tidak ada rasa iri lagi darinya melihat Anton mendekati Sherly.
“ Kamu juga pulang sama aku ya Fan?” ajak Vicky menyusul. Fana mengerutkan dahinya.
“ Ayo dong Fan, please” kata Vicky memohon. Fana menatap Cindy, lalu Cindy membalas tatapannya dengan isyarat agar Fana menyetujui ajakan Vicky. Akhirnya Fana mengangguk setuju, Vicky semakin merasa rencananya telah berhasil.
            Mobil Vicky melaju dengan pelan, ia sengaja melakukan itu agar polisi dapat menangkap Nino tanpa sepengetahuan Fana, Fana ingin sekali menyuruh Vicky untuk mempercepat jalannya tetapi ia harus berpikir dua kali untuk benar-benar mengucapkan itu kepada Vicky
“ Ky, agak cepetan dikit gimana?” pinta Fana dengan sedikit tak enak hati dengan Vicky
“ Sorry Fan, aku lagi capek jadi jalannya pelan-pelan aja ya? Nggak apa-apa kan?”
“ Oh, ya udah nggak apa-apa kok” jawabnya. Ih bilang aja kalo kamu cari kesempatan! Pikir Fana. Ditengah konsentrasinya saat menyetir, Vicky menyempatkan dirinya untuk melirik Fana sebentar kemudian mengawasi jalan lagi sambil tersenyum. Fana merasa tidak nyaman dengan tindakan Vicky.

            “NINO!” panggil Fana. Ia memutar kepalanya diseluruh ruangan untuk mencari Nino, tapi ia tak ada. Kemudian ia berhambur keluar menghampiri Vicky
“ Kenapa Fan?” tanya Vicky berpura-pura
“ Eh nggak apa-apa kok” jawab Fana. Ia tak mau jika Vicky tahu bahwa ia sedang mencari Nino
“ Nino hilang ya?” tanya Vicky dengan wajah sinis. Fana terkejut mendengar itu.
“ Kok kamu tahu sih?” tanya Fana kembali. Raut mukanya tampak khawatir dan takut.
“ Sayangnya dia udah ditangkap sama polisi tuh” jawabnya santai
“ Kok bisa? Siapa yang ngadu?” tanya Fana lagi. Ia tampak marah.
“ Aku Fana, dan aku ngelakuin ini karena aku nggak mau kamu jadi korban pembunuhan Nino lagi! Jangan percaya sama omongan penjahat kayak gitu! Harusnya kamu sadar kalo kamu ini lagi dalam bahaya”
“ Sekarang juga, antar aku ke tempat dimana Nino dipenjara!” perintah Fana kepada Vicky. Akhirnya mereka berdua menuju kantor polisi di pusat kota.

                                                                        ***
            Nino terus berjalan keluar dari sel dengan kaki yang berdarah-darah kemudian ia melihat Fana tengah dihadapannya sambil menangis.
“ Lho Fan, kok kamu bisa ada disini?” tanya Nino kaget. Fana langsung menuntun Nino untuk duduk. Vicky masih saja dengan wajah sinis ketika melihat Fana yang dengan kasih sayangnya menuntun Nino.
Fana menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan lalu mulai bicara “ Vicky yang kasih tahu aku. Maafin aku ya No!”
“ Kenapa harus minta maaf?” tanya Nino dengan sabar “ Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu karena selama ini aku udah ngrepotin kamu”
“ Eh enggak kok! Aku nggak ngerasa kamu repotin”
“ Coba deh bayangin, dari kamu beliin aku baju cewek, rambut palsu, dan biayain aku sekolah. Dari apa yang udah kamu sama temen-temen kamu lakuin itu udah sangat ngrepotin” kata Nino. Fana tersenyum mendengarnya.
“ Tapi aku suka” jawab Fana tersenyum. Di tengah pembicaraan singkat itu, Vicky mulai mendekati Nino dengan ragu.
“ Bro, aku mau minta maaf ya sama kamu soalnya aku yang ngelaporin kamu ke polisi. Aku pikir, kamu punya niat jahat sama Fana” kata Vicky kepada Nino. Nino tersenyum.
“ Nggak apa-apa. Lagi pula emang tempat aku ini disini”
“ Dan ini buat kamu, ini dari Titan. Sebelum aku laporin kamu ke polisi, Titan juga udah tahu semuanya dan dia juga udah tahu alasan kamu buat bunuh Wulan” kata Vicky sambil menyodorkan tas kecil berisi sesuatu yang ditutup rapat dengan kotak kecil berwarna putih.
“ Maaf, waktu sudah habis. Silakan sodara Nino kembali ke sel” kata seorang polisi sambil menuntun Nino kembali ke dalam sel. Fana terus memandangi Nino sampai berlalu kemudian berbalik untuk pulang.

            “ FAN, kamu masih marah sama aku?” tanya Vicky ketika Fana hendak membuka pintu mobil.
“ Ya iyalah!” jawab Fana ketus.
“ Ah yang bener?” tanya Vicky lagi sambil menggoda Fana. Dan kemudian mereka tertawa bersama
‘ Mungkin ini dia akhir dari pertemananku dengan seorang buron. Ah, sungguh menegangkan tapi menyenangkan!’ kata Fana dalam hati.

                                                      TAMAT

No comments:

Post a Comment