Sunday, 19 August 2012

SECRET TRIANGLE



                ‘WALAUPUN pada akhirnya gue bakal ditangkap mereka, gue akan pasrah!’ kata Hani dalam hati. Kakinya terus berlari dengan cepat sampai ia tak menyadari bahwa sebuah mobil hampir menabraknya. Hani langsung menghentikan langkahnya ketika mendapati dirinya didepan sebuah mobil jeep itu. Lelaki yang tengah mengendarai mobil itu keluar sambil memandangi Hani dibalik kacamata hitam dimatanya.
“ Hampir aja elo mati, ikut gue sekarang” kata lelaki itu dengan asingnya. Tanpa menunggu jawaban pasti dari Hani, lelaki itu langsung menyeret Hani masuk ke dalam mobilnya.
“ Gue tahu lo lagi dikejar oleh dua orang itu” kata lelaki itu kembali dengan gaya sok tahu. Dari kejauhan, tampak seorang wanita janda dan seorang pria sedang berlari sekuat tenaga tua mereka. Hani merasa lega karena lelaki itu telah melindunginya.

“ Eh, makasih banget ya? Coba kalo nggak ada elo disini, pasti gue udah lari lebih jauh lagi” kata Hani sambil menyalami tangan lelaki itu
“ Ceritakan masalah lo!”
“ Gue? Memangnya ada hubungannya sama lo?” tanya Hani dengan blo’onnya. Lelaki itu memandang Hani dengan sinis, lalu Hani terpaksa menceritakan apa yang tengah ia alami sekarang “ Ayah gue kabur ninggalin hutang yang banyak, gue juga putus sekolah karena nggak ada biaya. Dan dua orang tadi adalah rentener yang masih menagih hutang ayah ke gue” jelasnya sengit.
“ Jadi apa yang elo pingin sekarang?” tanya lelaki itu. Wajahnya tetap tegak namun sedikit mulai ramah
“ Apa? Lo masih nggak ngerti? Udah jelas yang gue pengen itu semua hutang ayah terlunasi dan gue kembali sekolah! Uhh” jawab Hani ketus. Lelaki itu justru memasang senyuman sinis tak berarti.
“ Baiklah, gue bisa saja mengabulkan apa yang lo mau asalkan lo mau bekerja sama gue?”
“ Bekerja apa?” Hani tampak senang dengan tawaran lelaki itu
“ Balaskan dendam gue dengan kedua orang tua cowok ini” jawab lelaki itu sambil menunjukan sebuah foto seorang pria tampan yang tersenyum lebar dengan bola basket ditangannya.
“ Ha? Gimana bisa? Gue aja nggak kenal sama cowok ini” kata Hani sambil terus memandangi pria difoto itu
“ Sudahlah, nanti lo akan ngerti. Sekarang, ayo kita ke rumah kedua rentener tadi”
“ Nggak! Bisa mati berdiri kalo gue kesana!”
“ Cepetan!” bentak lelaki itu.
“ Lurus aja” perintah Hani dengan sebal. Beberapa menit kemudian, sampai lah mereka di rumah rentener tadi. Hani masih ragu untuk keluar dari mobil lelaki itu karena takut. Tapi pandangan lelaki itu lebih menakutkan dibandingkan dengan rasa takutnya dengan kedua rentener itu.
Belum sempat Hani mengetuk pintu rumah kedua rentener itu, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menggelegar.
“ Eh Hani, jadi elo masih berani nginjekin kaki elo ke rumah gue? Ha? Mana hutang ayah lo!!” Hani meloncat kaget dan berpandangan dengan wanita janda itu.

                                                                        ***

            Dipasangkannya kancing kemeja itu dengan pelan dan ragu, lalu Hani menghembuskan nafas panjang agar hatinya terasa lebih tenang.
“ Huff, gue yakin pasti bisa. Ini adalah hari pertama gue kembali sekolah!” katanya kepada dirinya sendiri.
“ Cepetan Hani! Nanti elo telat!” bentak Roy dari luar kamar. Hani tersenyum kembali didepan cermin kemudian keluar menghampiri Roy.
“ Siap Roy!” jawab Hani setelah sampai dihadapan Roy
“ Panggil gue Kakak! Dan inget, sebelum elo masuk kelas, lo harus tanya dulu ke cowok yang ada difoto ini. Jangan sampai elo masuk ke kelas baru elo sebelum berhasil tanya ke cowok ini. Ngerti!” perintah Roy dengan tegas. Hani mengangguk yakin sambil menatap foto seorang pria yang tersenyum dengan bola basket ditangannya.

            Dengan semangat Hani memasuki gerbang sekolah dan mulai mencari kelas barunya. Namun Ia teringat dengan tugas yang harus ia kerjakan yaitu mencari seorang pria yang ada difoto itu, mau tak mau Hani harus berkeliling sekolah untuk mencari pria yang dimaksud oleh Roy. Sudah yang kedua kalinya Hani berkeliling sekolah mencari pria itu namun tidak ada hasilnya, bahkan Hani sudah menemukan kelas barunya terlebih dahulu sebelum ia menemukan pria yang ia cari.
Bel masuk sudah dibunyikan, tapi pria itu belum ditemukan Hani. Akhirnya Hani memilih duduk ditaman belakang sekolah sambil memandangi foto pria yang harus ia cari. Ia hampir menyerah sebelum ia mendengar suara rintih kesakitan dari seorang pria digerbang belakang sekolah. Hani segera berdiri dan mencari sumber suara itu. Ia tersenyum lega karena wajah pria itu mirip sekali dengan yang ada di foto.
“ Lho, kenapa nggak lewat gerbang depan? Dan kenapa elo justru manjat gerbang belakang?” tanya Hani blak-blakan. Pria itu terkejut dengan kedatangan Hani yang seperti hantu, tangannya masih terasa sakit karena tergores kawat di gerbang belakang sekolah.
“ Ssht! Jangan bilang ke siapa-siapa ya kalo gue telat dan manjat gerbang belakang. Please?” pinta pria itu seketika. Hani sedikit kebingungan.
“ Gue kesini bukan buat ngaduin elo ke guru kok! Gue cuma mau tanya dimana kelas 11 IPS 2?”
“ Aah gue tahu sekarang!” jawab pria itu semangat “ Gimana kalo kita kerjasama? Jadi, gue janji bakal kasih tahu elo dimana kelas 11 IPS 2 asalkan elo nggak ngelaporin ke guru kalo gue ini telat. Gimana?”
“ OK kalo itu mau lo” jawab Hani dengan sinis. Padahal, gue udah tahu dimana kelasnya, tapi karena ini adalah tugas gue, jadi gue harus nurut sama apa kata Roy, kata hani dalam hati.
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju kelas 11 IPS 2. Dengan ragu, hani mengetuk pintu kelas, suasana belajar pada saat itu terpotong karena ketukan pintu dari Hani. Pak Darma tersenyum melihat Hani telah datang.
“ Kamu siswi baru itu ya? Kenapa baru datang sekarang?” tanya Pak Darma, kemudian matanya tertuju oleh seorang pria dengan seragam yang sangat berantakan, yaitu Tara “ Hey, ngapain kamu disini? Kamu pasti terlambat lagi! Iya kan?” lanjutnya.
“ Eh enggak kok pak, tadi waktu saya mau masuk ke kelas, tiba-tiba cewek ini minta tolong anterin aku ke kelas. Makanya kita masuk ke kelas sama-sama” jelas Tara. Ia kemudian memandang Hani penuh harap.
“ Apa benar Hani?” tanya Pak Darma ragu
“ Tidak! Sebenarnya tadi saya menuju kelas ini sendirian dan cowok ini tadi terlambat pak, tapi dia maksa saya buat bohong” jawab Hani jujur.
“ TARAA! Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak usah ikut pelajaran saya! Keluar kamu sekarang!” bentak Pak Darma dengan emosi. Tara begitu kesal dengan Hani karena ia telah ingkar janji dan Tara juga telah menyempatkan diri untuk memelototi Hani sebelum pintu kelas ditutup oleh Pak Darma.

            “ PERKENALKAN nama saya Hani, saya pernah putus sekolah dan untungnya sekarang saya bisa melanjutkan sekolah lagi disini” kata Hani saat memperkenalkan diri. Ia begitu jujur ketika menceritakan asal usulnya karena Hani memang sukar berbohong.
“ Memangnya dulu lo sekolah dimana eh?” tanya salah seorang siswa yang duduk didepan meja guru.
“ Dulu saya bersekolah di SMU Nusa Bangsa” jawab Hani. Seketika itu para siswa tertawa, seperti tengah melihat film komedi.
“ Seorang siswa SMU Nusa Bangsa bisa masuk di sekolah elite seperti ini? Lo pake ilmu gelap apa sih?” ejek salah seorang siswi yang duduk di belakang. Ia sangat cantik dan percaya diri. Hani yakin, ia adalah siswi idaman di sekolah ini.
“ Aku tidak tahu” jawab hani dengan polos. Siswa yang lainnya ikut tertawa. Pertunjukan itu segera berakhir karena Pak Darma segera melerai mereka semua dan melanjutkan pelajaran yang sempat terpotong.
Istirahat pun berlangsung, Hani masih tetap duduk di bangkunya sampai dua gadis mendekatinya.
“ Hey hani, lo nggak usah masukin omongan si jutek tadi ya?” kata salah seorang gadis disamping kanannya. Hani tersenyum.
“ Emang gimana caranya gue bisa masukin tuh omongan cewek tadi?” jawabnya bercanda “ Emang dia namanya siapa sih?”
“ Dia Tacy, cewek paling perfect di sekolah ini. Sekaligus paling nyebelin” jawab gadis itu lagi “ Tapi mendingan kita nggak usah ngomongin dia deh, sekarang kenalin nama gue Rosa” lanjutnya.
“ Dan gue bella” sambung teman Rosa yang sedari tadi menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“ Oh, salam kenal ya?” jawab Hani ramah, kemudian matanya tertuju pada seorang pria tampan yang masih saja duduk ditempatnya sambil membaca novel.
“ Itu siapa?” tanya Hani dengan penasaran
“ Dia Dion, cowok yang cakep sekaligus susah banget dapetin dia. Gue heran deh kenapa gue yang cantik ini bisa ditolak sama dia!” jawab Rosa penuh emosi. Hani membalasnya dengan tertawa.
“ Hani, kalo elo bisa dapetin perhatiannya si Dion nih, berarti elo bisa nyaingin tacy disini” bisik Bella. Sejenak Hani merasa tertarik dengan perkataan Bella tapi kemudian ia ingat dengan janjinya kepada Roy.
“ Nggak penting juga kali!” jawab Hani bercanda. Ditengah obrolan mereka bertiga, tiba-tiba Tara menghampiri Hani dengan emosi kemudian menyeretnya keluar kelas tanpa basa basi.
“ Eh, lu tu ingkar janji ya! Elo nggak inget perjanjian kita biar elo enggak ngomong ke Pak Darma kalo gue telat! Dasar o’on lo!” bentak Tara tanpa mempedulikan teman yang lainnya.
“ Gue janji? Kapan ya? Kayaknya itu nggak penting buat gue deh, lagian kan itu urusan lo mau telat atau enggak yang penting gue nggak ikutan!” jawab hani Santai. Tara terlalu emosi sehingga tangannya hampir melukai Hani, tapi kejadian itu terhenti ketika Dion menangkas tangan Tara yang hampir memukul wajah Hani. Seluruh siswa sekitar menyaksikannya dengan kaget karena kemunculan Dion yang tiba-tiba. Muncul beberapa pertanyaan dalam benak para siswa yang menyaksikan kejadian ini  tentang apa hubungan Hani dengan Dion?
            Tanpa basa basi Dion menyeret Hani menjauhi semua orang. Hani masih tidak mengerti apa maksudnya, tapi ia membiarkan Dion membawanya pergi menjauh.
“ Lo nggak papa kan? Mendingan elo nggak usah berhubungan lagi sama Tara. Dia bukan cowok baik-baik” kata Dion dengan halus. Walaupun Dion sudah membawa Hani ke taman belakang sekolah agar siswa lain tidak tahu, tapi Tacy dan kawan-kawannya tetap memergoki mereka berdua tengah mengobrol dengan kakunya. Tacy benar-benar terkejut melihat dion begitu perhatian dengan Hani. Sejak kapan Dion deketin tuh cewek? Kenapa dulu Dion nggak deketin gue? Tapi malah deketin cewek dekil itu! Pikir Tacy saat menguping pembicaraan mereka berdua.
“ Oh nggak papa kok, makasih ya Dion!” jawab Hani santai.
“ Kok lo tau nama gue?”
“ Keliatannya lo emang terkenal dikalangan cewek kan?” kata Hani membalas tanya. Dion tersenyum malu.

            “GIMANA? Apa udah ada tanda-tanda kalo Tara suka sama elo?” tanya Roy tiba-tiba ketika Hani baru saja menutup pintu rumahnya.
“ Eh, gue sama Tara justru tadi berantem” jawab Hani bosan.
“ What?! Gimana sih lo! Pokoknya gue nggak mau tahu elo harus jadian sama Tara secepatnya!” kata rRy dengan sedikit gelisah karena ia tak mau rencananya gagal.
“ Siap bos! Tapi nggak janji yaa!” jawab Hani bercanda kemudian ia berhambur menuju kamarnya.
            ‘ Hani, kalo elo bisa dapetin perhatiannya si Dion nih, berarti elo bisa nyaingin Tacy disini’ kata-kata Bella terus muncul dalam benak Hani. Dengan lelahnya ia menjatuhkan dirinya kedalam kasur empuk sambil meraih bantalnya. Ia masih teringat Dion yang telah menyelamatkannya dari amukan Tara.
“ Seandainya tugas gue itu buat deketin Dion, mungkin gue bakal berhasil dengan cepat” kata Hani pada dirinya sendiri. Ia tertawa kecil sambil membayangkan sesuatu yang hanya akan menjadi khayalannya.

                                                                        ***
            “ Hey, sendirian ya?” sapa Dion kepada Hani yang tengah berjalan menuju kelas
“ Eh, iya yon. Elo sendiri juga sendirian?” tanya Hani
“ Gue sendiri karena elo sendiri” jawab Dion dengan misterius. Hani tersenyum mendengar hal itu.
“ By the way, lo itu sering bikin gue penasaran lho” kata Dion sambil memandangi Hani dalam-dalam. Hani menghentikan langkahnya.
“ Kok bisa?” tanya Hani terkejut.
“ Karena elo itu beda dari yang lain” jawabnya tersenyum kemudian mendahului Hani. Hani masih terkejut mendengar itu dan merasa senang pula.
Pelajaran hari ini cukup membosankan bagi Hani karena dipenuhi oleh pelajaran IPS. Pelajaran yang cukup sulit baginya. Dan yang lebih sial lagi, saat itu Bu Krisna mengadakan ulangan. Hani benar-benar putus asa. Matanya berputar melihat teman – teman lainnya yang tampak serius memelototi soal didepan mereka. Kemudian dia beralih memandang Dion yang masih sibuk menulis jawabannya. Huuuhh, Hani mendengus pelan. Ia menjatuhkan bolpoinnya diatas lembar jawab dan meletakkan kepalanya diatas meja dan tertidur.
BUUKK! Suara itu mengagetkan Hani. Ia terbanting keatas dan melihat Bu Krisna sudah memelototinya. Hani terpaku.

                                                                        ***
            Hani masih saja diam dan menundukkan kepala. Bu Krisna menunggu jawaban dengan tidak sabar dan mulai membuka suara.
“ Kenapa kamu diam Hani?” tanya Bu Krisna dengan sinis. Hani tetap diam. Bu krisna mendeham dan menegakkan posisi duduknya,
“ Baiklah. Dari pada saya harus menunggumu berbicara, lebih baik saya memberimu tugas minggu ini” Hani hanya bisa melongo dan pasrah menerima tugas dari Bu Krisna.

            “ EMANG enak?” ejek Tara kepada Hani ketika ia keluar dari kantor guru. Tara tampak bahagia melihat Hani menderita. Teman-teman Tara ikut tertawa, dan kali ini Hani tampak tidak sabar menghadapi Tara. Ia segera menghampiri Tara dan berteriak:
“ Jadi elo balas dendam gitu? Mentang-mentang gue yang gantian dimarahin guru?”
“ Eh siapa juga yang balas dendam, itu kan salah elo sendiri nggak ngerjain ulangan. Malah tidur lagi, jangan samain sekolah ini sama SMU Nusa Bangsa dong!” jawab Tara tak kalah kerasnya. Teman-teman Tara dan siswa lainnya yang tidak sengaja mendengar perkataan Tara itu ikut tertawa dan memandang Hani remeh. Hani hanya bisa diam sambil memelototi Tara, ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Para siswa yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi dengan Tara dan Hani langsung mengerumuni mereka. Hani tampak kebingungan. Tiba-tiba muncul-lah sosok pria gagah dari kerumunan siswa, Hani masih berpikir ketika pria itu langsung menyeretnya dari kerumunan para siswa.
            Setelah Hani berhasil keluar dari kerumunan para siswa, ia mengamati pria yang menyeretnya keluar. Walaupun Hani hanya bisa mengamati pria itu dari belakang, tapi ia langsung tahu bahwa siapapun pria itu ia adalah sosok pria yang tampan dan bijak. Beberapa langkah lagi mereka menuju taman belakang sekolah yang tampak sepi dan berhenti-lah pria itu dibawah pohon rindang. Hani buru-buru melepas genggaman tangan pria itu dan menatapnya. Pria itu kembali menatap Hani dalam-dalam. Jelas pria itu adalah Dion.
“ Gue kan udah pernah bilang” kata Dion sambil berpaling dari tatapan hani.
“ Eh..” belum sempat Hani menjawab perkataan Dion, Dion sudah menyelanya.
“ Elo tahu nggak sih, hati gue ini ikut sakit dan nggak terima kalo elo diejek sama Tara!” katanya tajam. Hani sedikit kaget.
“ Kenapa gitu?” tanya Hani ragu-ragu
“ Karena gue suka sama elo!” jawab Dion, masih dengan nada emosi. Lagi-lagi saat Hani dan Dion berdua ditaman belakang sekolah, Tacy dan kawan-kawannya membuntuti mereka. Hati Tacy benar-benar shock saat mendengar ucapan Dion tadi.
“ Aa..apa?” Hani masih tidak percaya.
“ Hmm, gue janji bakal terus jagain elo kalo lagi dikerjain sama Tara!” kata Dion meyakinkan. Diraihnya kedua tangan Hani. Hani pun tertunduk malu.

                       
                                                            TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment