‘WALAUPUN pada akhirnya gue
bakal ditangkap mereka, gue akan pasrah!’ kata Hani dalam hati. Kakinya terus
berlari dengan cepat sampai ia tak menyadari bahwa sebuah mobil hampir
menabraknya. Hani langsung menghentikan langkahnya ketika mendapati dirinya
didepan sebuah mobil jeep itu. Lelaki yang tengah mengendarai mobil itu keluar
sambil memandangi Hani dibalik kacamata hitam dimatanya.
“
Hampir aja elo mati, ikut gue sekarang” kata lelaki itu dengan asingnya. Tanpa
menunggu jawaban pasti dari Hani, lelaki itu langsung menyeret Hani masuk ke
dalam mobilnya.
“
Gue tahu lo lagi dikejar oleh dua orang itu” kata lelaki itu kembali dengan
gaya sok tahu. Dari kejauhan, tampak seorang wanita janda dan seorang pria sedang
berlari sekuat tenaga tua mereka. Hani merasa lega karena lelaki itu telah
melindunginya.
“
Eh, makasih banget ya? Coba kalo nggak ada elo disini, pasti gue udah lari
lebih jauh lagi” kata Hani sambil menyalami tangan lelaki itu
“
Ceritakan masalah lo!”
“
Gue? Memangnya ada hubungannya sama lo?” tanya Hani dengan blo’onnya. Lelaki
itu memandang Hani dengan sinis, lalu Hani terpaksa menceritakan apa yang
tengah ia alami sekarang “ Ayah gue kabur ninggalin hutang yang banyak, gue
juga putus sekolah karena nggak ada biaya. Dan dua orang tadi adalah rentener
yang masih menagih hutang ayah ke gue” jelasnya sengit.
“
Jadi apa yang elo pingin sekarang?” tanya lelaki itu. Wajahnya tetap tegak
namun sedikit mulai ramah
“
Apa? Lo masih nggak ngerti? Udah jelas yang gue pengen itu semua hutang ayah
terlunasi dan gue kembali sekolah! Uhh” jawab Hani ketus. Lelaki itu justru
memasang senyuman sinis tak berarti.
“
Baiklah, gue bisa saja mengabulkan apa yang lo mau asalkan lo mau bekerja sama
gue?”
“
Bekerja apa?” Hani tampak senang dengan tawaran lelaki itu
“
Balaskan dendam gue dengan kedua orang tua cowok ini” jawab lelaki itu sambil
menunjukan sebuah foto seorang pria tampan yang tersenyum lebar dengan bola
basket ditangannya.
“
Ha? Gimana bisa? Gue aja nggak kenal sama cowok ini” kata Hani sambil terus
memandangi pria difoto itu
“
Sudahlah, nanti lo akan ngerti. Sekarang, ayo kita ke rumah kedua rentener
tadi”
“
Nggak! Bisa mati berdiri kalo gue kesana!”
“
Cepetan!” bentak lelaki itu.
“
Lurus aja” perintah Hani dengan sebal. Beberapa menit kemudian, sampai lah
mereka di rumah rentener tadi. Hani masih ragu untuk keluar dari mobil lelaki
itu karena takut. Tapi pandangan lelaki itu lebih menakutkan dibandingkan
dengan rasa takutnya dengan kedua rentener itu.
Belum
sempat Hani mengetuk pintu rumah kedua rentener itu, tiba-tiba terdengar suara
seorang wanita yang menggelegar.
“
Eh Hani, jadi elo masih berani nginjekin kaki elo ke rumah gue? Ha? Mana hutang
ayah lo!!” Hani meloncat kaget dan berpandangan dengan wanita janda itu.
***
Dipasangkannya kancing kemeja itu
dengan pelan dan ragu, lalu Hani menghembuskan nafas panjang agar hatinya
terasa lebih tenang.
“
Huff, gue yakin pasti bisa. Ini adalah hari pertama gue kembali sekolah!”
katanya kepada dirinya sendiri.
“
Cepetan Hani! Nanti elo telat!” bentak Roy dari luar kamar. Hani tersenyum
kembali didepan cermin kemudian keluar menghampiri Roy.
“
Siap Roy!” jawab Hani setelah sampai dihadapan Roy
“
Panggil gue Kakak! Dan inget, sebelum elo masuk kelas, lo harus tanya dulu ke
cowok yang ada difoto ini. Jangan sampai elo masuk ke kelas baru elo sebelum
berhasil tanya ke cowok ini. Ngerti!” perintah Roy dengan tegas. Hani
mengangguk yakin sambil menatap foto seorang pria yang tersenyum dengan bola
basket ditangannya.
Dengan semangat Hani memasuki
gerbang sekolah dan mulai mencari kelas barunya. Namun Ia teringat dengan tugas
yang harus ia kerjakan yaitu mencari seorang pria yang ada difoto itu, mau tak
mau Hani harus berkeliling sekolah untuk mencari pria yang dimaksud oleh Roy.
Sudah yang kedua kalinya Hani berkeliling sekolah mencari pria itu namun tidak
ada hasilnya, bahkan Hani sudah menemukan kelas barunya terlebih dahulu sebelum
ia menemukan pria yang ia cari.
Bel
masuk sudah dibunyikan, tapi pria itu belum ditemukan Hani. Akhirnya Hani
memilih duduk ditaman belakang sekolah sambil memandangi foto pria yang harus
ia cari. Ia hampir menyerah sebelum ia mendengar suara rintih kesakitan dari
seorang pria digerbang belakang sekolah. Hani segera berdiri dan mencari sumber
suara itu. Ia tersenyum lega karena wajah pria itu mirip sekali dengan yang ada
di foto.
“
Lho, kenapa nggak lewat gerbang depan? Dan kenapa elo justru manjat gerbang
belakang?” tanya Hani blak-blakan. Pria itu terkejut dengan kedatangan Hani
yang seperti hantu, tangannya masih terasa sakit karena tergores kawat di
gerbang belakang sekolah.
“
Ssht! Jangan bilang ke siapa-siapa ya kalo gue telat dan manjat gerbang
belakang. Please?” pinta pria itu seketika. Hani sedikit kebingungan.
“
Gue kesini bukan buat ngaduin elo ke guru kok! Gue cuma mau tanya dimana kelas
11 IPS 2?”
“
Aah gue tahu sekarang!” jawab pria itu semangat “ Gimana kalo kita kerjasama?
Jadi, gue janji bakal kasih tahu elo dimana kelas 11 IPS 2 asalkan elo nggak
ngelaporin ke guru kalo gue ini telat. Gimana?”
“
OK kalo itu mau lo” jawab Hani dengan sinis. Padahal, gue udah tahu dimana
kelasnya, tapi karena ini adalah tugas gue, jadi gue harus nurut sama apa kata
Roy, kata hani dalam hati.
Akhirnya
mereka berdua berjalan menuju kelas 11 IPS 2. Dengan ragu, hani mengetuk pintu
kelas, suasana belajar pada saat itu terpotong karena ketukan pintu dari Hani.
Pak Darma tersenyum melihat Hani telah datang.
“
Kamu siswi baru itu ya? Kenapa baru datang sekarang?” tanya Pak Darma, kemudian
matanya tertuju oleh seorang pria dengan seragam yang sangat berantakan, yaitu
Tara “ Hey, ngapain kamu disini? Kamu pasti terlambat lagi! Iya kan?”
lanjutnya.
“
Eh enggak kok pak, tadi waktu saya mau masuk ke kelas, tiba-tiba cewek ini
minta tolong anterin aku ke kelas. Makanya kita masuk ke kelas sama-sama” jelas
Tara. Ia kemudian memandang Hani penuh harap.
“
Apa benar Hani?” tanya Pak Darma ragu
“
Tidak! Sebenarnya tadi saya menuju kelas ini sendirian dan cowok ini tadi
terlambat pak, tapi dia maksa saya buat bohong” jawab Hani jujur.
“
TARAA! Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak usah ikut pelajaran saya!
Keluar kamu sekarang!” bentak Pak Darma dengan emosi. Tara begitu kesal dengan
Hani karena ia telah ingkar janji dan Tara juga telah menyempatkan diri untuk
memelototi Hani sebelum pintu kelas ditutup oleh Pak Darma.
“ PERKENALKAN nama saya Hani, saya
pernah putus sekolah dan untungnya sekarang saya bisa melanjutkan sekolah lagi
disini” kata Hani saat memperkenalkan diri. Ia begitu jujur ketika menceritakan
asal usulnya karena Hani memang sukar berbohong.
“
Memangnya dulu lo sekolah dimana eh?” tanya salah seorang siswa yang duduk
didepan meja guru.
“
Dulu saya bersekolah di SMU Nusa Bangsa” jawab Hani. Seketika itu para siswa
tertawa, seperti tengah melihat film komedi.
“
Seorang siswa SMU Nusa Bangsa bisa masuk di sekolah elite seperti ini? Lo pake
ilmu gelap apa sih?” ejek salah seorang siswi yang duduk di belakang. Ia sangat
cantik dan percaya diri. Hani yakin, ia adalah siswi idaman di sekolah ini.
“
Aku tidak tahu” jawab hani dengan polos. Siswa yang lainnya ikut tertawa.
Pertunjukan itu segera berakhir karena Pak Darma segera melerai mereka semua
dan melanjutkan pelajaran yang sempat terpotong.
Istirahat
pun berlangsung, Hani masih tetap duduk di bangkunya sampai dua gadis
mendekatinya.
“
Hey hani, lo nggak usah masukin omongan si jutek tadi ya?” kata salah seorang
gadis disamping kanannya. Hani tersenyum.
“
Emang gimana caranya gue bisa masukin tuh omongan cewek tadi?” jawabnya
bercanda “ Emang dia namanya siapa sih?”
“
Dia Tacy, cewek paling perfect di sekolah ini. Sekaligus paling nyebelin” jawab
gadis itu lagi “ Tapi mendingan kita nggak usah ngomongin dia deh, sekarang
kenalin nama gue Rosa” lanjutnya.
“
Dan gue bella” sambung teman Rosa yang sedari tadi menatapnya penuh rasa ingin
tahu.
“
Oh, salam kenal ya?” jawab Hani ramah, kemudian matanya tertuju pada seorang
pria tampan yang masih saja duduk ditempatnya sambil membaca novel.
“
Itu siapa?” tanya Hani dengan penasaran
“
Dia Dion, cowok yang cakep sekaligus susah banget dapetin dia. Gue heran deh
kenapa gue yang cantik ini bisa ditolak sama dia!” jawab Rosa penuh emosi. Hani
membalasnya dengan tertawa.
“
Hani, kalo elo bisa dapetin perhatiannya si Dion nih, berarti elo bisa nyaingin
tacy disini” bisik Bella. Sejenak Hani merasa tertarik dengan perkataan Bella
tapi kemudian ia ingat dengan janjinya kepada Roy.
“
Nggak penting juga kali!” jawab Hani bercanda. Ditengah obrolan mereka bertiga,
tiba-tiba Tara menghampiri Hani dengan emosi kemudian menyeretnya keluar kelas
tanpa basa basi.
“
Eh, lu tu ingkar janji ya! Elo nggak inget perjanjian kita biar elo enggak
ngomong ke Pak Darma kalo gue telat! Dasar o’on lo!” bentak Tara tanpa
mempedulikan teman yang lainnya.
“
Gue janji? Kapan ya? Kayaknya itu nggak penting buat gue deh, lagian kan itu
urusan lo mau telat atau enggak yang penting gue nggak ikutan!” jawab hani Santai.
Tara terlalu emosi sehingga tangannya hampir melukai Hani, tapi kejadian itu
terhenti ketika Dion menangkas tangan Tara yang hampir memukul wajah Hani.
Seluruh siswa sekitar menyaksikannya dengan kaget karena kemunculan Dion yang
tiba-tiba. Muncul beberapa pertanyaan dalam benak para siswa yang menyaksikan
kejadian ini tentang apa hubungan Hani
dengan Dion?
Tanpa basa basi Dion menyeret Hani
menjauhi semua orang. Hani masih tidak mengerti apa maksudnya, tapi ia
membiarkan Dion membawanya pergi menjauh.
“
Lo nggak papa kan? Mendingan elo nggak usah berhubungan lagi sama Tara. Dia
bukan cowok baik-baik” kata Dion dengan halus. Walaupun Dion sudah membawa Hani
ke taman belakang sekolah agar siswa lain tidak tahu, tapi Tacy dan
kawan-kawannya tetap memergoki mereka berdua tengah mengobrol dengan kakunya.
Tacy benar-benar terkejut melihat dion begitu perhatian dengan Hani. Sejak
kapan Dion deketin tuh cewek? Kenapa dulu Dion nggak deketin gue? Tapi malah deketin
cewek dekil itu! Pikir Tacy saat menguping pembicaraan mereka berdua.
“
Oh nggak papa kok, makasih ya Dion!” jawab Hani santai.
“
Kok lo tau nama gue?”
“
Keliatannya lo emang terkenal dikalangan cewek kan?” kata Hani membalas tanya.
Dion tersenyum malu.
“GIMANA? Apa udah ada tanda-tanda
kalo Tara suka sama elo?” tanya Roy tiba-tiba ketika Hani baru saja menutup
pintu rumahnya.
“
Eh, gue sama Tara justru tadi berantem” jawab Hani bosan.
“
What?! Gimana sih lo! Pokoknya gue nggak mau tahu elo harus jadian sama Tara
secepatnya!” kata rRy dengan sedikit gelisah karena ia tak mau rencananya
gagal.
“
Siap bos! Tapi nggak janji yaa!” jawab Hani bercanda kemudian ia berhambur
menuju kamarnya.
‘ Hani, kalo elo bisa dapetin
perhatiannya si Dion nih, berarti elo bisa nyaingin Tacy disini’ kata-kata
Bella terus muncul dalam benak Hani. Dengan lelahnya ia menjatuhkan dirinya
kedalam kasur empuk sambil meraih bantalnya. Ia masih teringat Dion yang telah
menyelamatkannya dari amukan Tara.
“
Seandainya tugas gue itu buat deketin Dion, mungkin gue bakal berhasil dengan
cepat” kata Hani pada dirinya sendiri. Ia tertawa kecil sambil membayangkan
sesuatu yang hanya akan menjadi khayalannya.
***
“ Hey, sendirian ya?” sapa Dion
kepada Hani yang tengah berjalan menuju kelas
“
Eh, iya yon. Elo sendiri juga sendirian?” tanya Hani
“
Gue sendiri karena elo sendiri” jawab Dion dengan misterius. Hani tersenyum
mendengar hal itu.
“
By the way, lo itu sering bikin gue penasaran lho” kata Dion sambil memandangi
Hani dalam-dalam. Hani menghentikan langkahnya.
“
Kok bisa?” tanya Hani terkejut.
“
Karena elo itu beda dari yang lain” jawabnya tersenyum kemudian mendahului Hani.
Hani masih terkejut mendengar itu dan merasa senang pula.
Pelajaran
hari ini cukup membosankan bagi Hani karena dipenuhi oleh pelajaran IPS.
Pelajaran yang cukup sulit baginya. Dan yang lebih sial lagi, saat itu Bu Krisna
mengadakan ulangan. Hani benar-benar putus asa. Matanya berputar melihat teman
– teman lainnya yang tampak serius memelototi soal didepan mereka. Kemudian dia
beralih memandang Dion yang masih sibuk menulis jawabannya. Huuuhh, Hani
mendengus pelan. Ia menjatuhkan bolpoinnya diatas lembar jawab dan meletakkan
kepalanya diatas meja dan tertidur.
BUUKK!
Suara itu mengagetkan Hani. Ia terbanting keatas dan melihat Bu Krisna sudah
memelototinya. Hani terpaku.
***
Hani masih saja diam dan menundukkan kepala. Bu Krisna menunggu jawaban dengan tidak sabar dan mulai membuka suara.
“ Kenapa kamu diam Hani?” tanya Bu Krisna dengan sinis. Hani tetap diam. Bu krisna mendeham dan menegakkan posisi duduknya,
Hani masih saja diam dan menundukkan kepala. Bu Krisna menunggu jawaban dengan tidak sabar dan mulai membuka suara.
“ Kenapa kamu diam Hani?” tanya Bu Krisna dengan sinis. Hani tetap diam. Bu krisna mendeham dan menegakkan posisi duduknya,
“
Baiklah. Dari pada saya harus menunggumu berbicara, lebih baik saya memberimu
tugas minggu ini” Hani hanya bisa melongo dan pasrah menerima tugas dari Bu Krisna.
“ EMANG enak?” ejek Tara kepada Hani
ketika ia keluar dari kantor guru. Tara tampak bahagia melihat Hani menderita.
Teman-teman Tara ikut tertawa, dan kali ini Hani tampak tidak sabar menghadapi
Tara. Ia segera menghampiri Tara dan berteriak:
“
Jadi elo balas dendam gitu? Mentang-mentang gue yang gantian dimarahin guru?”
“
Eh siapa juga yang balas dendam, itu kan salah elo sendiri nggak ngerjain
ulangan. Malah tidur lagi, jangan samain sekolah ini sama SMU Nusa Bangsa dong!”
jawab Tara tak kalah kerasnya. Teman-teman Tara dan siswa lainnya yang tidak
sengaja mendengar perkataan Tara itu ikut tertawa dan memandang Hani remeh.
Hani hanya bisa diam sambil memelototi Tara, ia tak tahu harus menjawab apa
lagi. Para siswa yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi dengan Tara dan
Hani langsung mengerumuni mereka. Hani tampak kebingungan. Tiba-tiba muncul-lah
sosok pria gagah dari kerumunan siswa, Hani masih berpikir ketika pria itu
langsung menyeretnya dari kerumunan para siswa.
Setelah Hani berhasil keluar dari
kerumunan para siswa, ia mengamati pria yang menyeretnya keluar. Walaupun Hani
hanya bisa mengamati pria itu dari belakang, tapi ia langsung tahu bahwa
siapapun pria itu ia adalah sosok pria yang tampan dan bijak. Beberapa langkah
lagi mereka menuju taman belakang sekolah yang tampak sepi dan berhenti-lah
pria itu dibawah pohon rindang. Hani buru-buru melepas genggaman tangan pria
itu dan menatapnya. Pria itu kembali menatap Hani dalam-dalam. Jelas pria itu
adalah Dion.
“
Gue kan udah pernah bilang” kata Dion sambil berpaling dari tatapan hani.
“
Eh..” belum sempat Hani menjawab perkataan Dion, Dion sudah menyelanya.
“
Elo tahu nggak sih, hati gue ini ikut sakit dan nggak terima kalo elo diejek
sama Tara!” katanya tajam. Hani sedikit kaget.
“
Kenapa gitu?” tanya Hani ragu-ragu
“
Karena gue suka sama elo!” jawab Dion, masih dengan nada emosi. Lagi-lagi saat
Hani dan Dion berdua ditaman belakang sekolah, Tacy dan kawan-kawannya
membuntuti mereka. Hati Tacy benar-benar shock saat mendengar ucapan Dion tadi.
“
Aa..apa?” Hani masih tidak percaya.
“
Hmm, gue janji bakal terus jagain elo kalo lagi dikerjain sama Tara!” kata Dion
meyakinkan. Diraihnya kedua tangan Hani. Hani pun tertunduk malu.
TO BE CONTINUED
No comments:
Post a Comment