“DHEVA!” suara lelaki itu terdengar dari balik pintu kamar Dheva yang rapi. Suara itu tak asing didengarnya “Olga tuh nyiariin lo, lama-lama gue pusing juga dengerin dia nyariin elo terus” kata Andruw. Ia adalah adik Dheva, tubuhnya tinggi dan ramping. Wajahnya lebih mirip dengan artis Rendy Septino. Andruw memang tampan, tapi dia tetap saja iri dengan kakaknya yang memiliki banyak talenta dibanding dengan dirinya sendiri
“ogah ah. Mending gue tidur aja!” jawab Dheva sambil menempatkan dirinya ke posisi yang enak dikasur
“terserah” Andruw berhambur ke kamarnya dan menatap cermin yang melekat dilemari bajunya yang penuh dengan stiker kecil tak beraturan. Ia terus menatap wajahnya,’kenapa Dheva nggak mau nerima cintanya Olga? Padahal menurut gue Olga itu cantik,polos,gemesin lagi! Apalagi badannya yang putih’ katanya dalam hati ‘tapi Dheva emang pantas dikejar-kejar cewek, dia kan cakep,pinter,cool gak kayak gue yang apa adanya ini. Ah tapi gue juga nggak jelek kok kalo dibandingin sama Dheva, cuma gue agak bego gitu sih’. Tiba-tiba ia teringat oleh Olga yang masih menunggu kehadiran Dheva, ia berpaling menuju ke jendela kamar dan menunduk melihat Olga yang dengan blo’onnya masih menunggu Dheva ‘bodoh! Kenapa sih elo suka banget sama Dheva? Kenapa elo nggak suka aja sama gue yang bakal nyenengin elo’ kata Andruw dalam hati, ia bergegas keluar kamar dan membuka pintu rumah.
“Andruw” sapa Olga. Ia buru-buru menghampiri Andruw yang masih menggenggam hangle pintu rumahnya “mana Dheva?”
“dia tidur, mending elo pulang aja deh!” jawabnya ketus
“duh, pasti dia kecapekan. Kasihan banget”
“yang kasihan itu elo! Kalo Dheva emang nggak suka sama lo, lupain aja. Jangan kayak orang bego dong nugguin Dheva nenggepin cinta lo. Asal lo tau ya, Dheva itu nggak suka sama elo!” kata Andruw dengan nada emosi
“elo ngomong apaan sih?”
“gue ngomong, lo pulang sekarang juga!” bentak Andruw. Dia membanting pintu dan berhambur ke kamarnya. Tangannya mengepal karena marah.
“GUE BENCI ELO DHEVA!!!” teriakan itu terdengar oleh Dheva. Ia beranjak keluar kamar dan menghampiri Andruw
“ngapain lo? Teriak-teriak kayak anak kecil aja”
Andruw menatap kakaknya dengan sebal “kenapa sih elo nyia-nyiain cewek yang gue sayang? Gue tau, dia nggak suka sama gue tapi nggak sepantasnya juga elo nyia-nyiain dia!”
“maksud lo?”
“gue cinta sama Olga!”
“trus?”
“tapi dia cintanya sama elo! Gue benci sama lo! Gue cemburu! Lo harusnya ngerti!”
“haha. Gue kan nggak suka sama Olga, kalo elo suka, ambil aja gue nggak butuh”
“eh..tapi gue..” belum sempat Andruw selesai berbicara, Dheva memotongnya “kenapa? Elo nggak berani kan deketin dia?”
“jangan ngejek lo”
“oke. Kalo dalam satu minggu ini elo bisa dapetin Olga, ambil aja mobil gue. Tapi kalo elo gagal, Olga jadi pacar gue” usul Dheva dengan semangat menatap adiknya yang tengah emosi
“eh.. gimana ya? Siapa takut!”
Dheva tersenyum manis dan kembali ke kamarnya. Andruw menatapnya sampai berlalu sambil sedikit menyesali karena telah setuju menerima taruhan kakaknya itu.
KRIING.. suara bel sepeda Olga mengisi kesunyian rumah Dheva dan Andruw. Dheva membuka pintu dan tersenyum penuh pesona ke arah Olga.
“pagi kak Dheva” sapanya sambil senyum kegirangan melihat Dheva membalas tatapan Olga dengan senyuman manis
“cari Andruw ya?” tanya Dheva. Olga terkejut melihat Dheva yang tiba-tiba mengajaknya berbicara. Biasanya dia cuek dan hanya melemparkan senyuman yang tiada arti
“eh iya kak. Andruw mana ya?” jawab Olga. Andruw yang sibuk menjejalkan sepotong roti ke mulutnya itu terkejut melihat Dheva dan Olga sedang berduaan. Ia buru-buru keluar karena curiga dengan apa yang dibicarakan kakaknya dengan Olga.
“dia didalam, paling masih makan. Mending kita berangkat bareng aja yuk?” ajak Dheva
“haa? Serius nih! Boleh yuk” jawab Olga kegirangan. Dheva menaiki sepeda Olga dengan lembut dan Olga naik dibelakangnya
“gue berangkat dulu ya An? Lo ati-ati! Daah” kata Olga sambil melambaikan tangannya kepada Andruw yang masih bengong melihat kejadian ini. Kemudian dia sadar apa yang telah ia lakukan ‘duh, kenapa gue biarin mereka berduaan naik sepeda?’ katanya dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal “HAH BEGO!” teriaknya sambil mengendarai motor kesayangannya itu. Sesampainya disekolah, Andruw terus mengawasi Olga yang tengah turun dari sepedanya dan berjalan bersama kakak Andruw.
“ehm, cemburu nih?” kata Dicky yang sedari tadi juga mengawasi Andruw dari belakang. Dicky adalah teman baik Andruw sekaligus dianggap saudaranya sendiri. Ia tahu semua rahasia dan masalah Andruw selama disekolah yang bahkan Dheva sebagai kakaknya sendiri kadang tidak tahu. Andruw mengenal Dicky sejak masuk Sekolah Menengah Atas, lalu dengan mudahnya mereka berteman akrab sampai sekarang.
“apaan sih lo, ngagetin gue aja” jawab Andruw tanpa melihat Dicky, tapi Andruw tahu bahwa itu sahabatnya karena suaranya sudah sangat dikenal oleh Andruw
“tapi bener kan elo cemburu?” goda Dicky. Dia terus mengikuti langkah Andruw yang berusaha menjauh darinya karena ia malu jika membicarakan Olga
“hmm, ya elo tahu sendiri” jawabnya sambil menundukan mukanya karena malu
“baru kali ini gue liat kakak lo jalan sama cewek, apalagi cewek itu orang yang elo suka”
“gue juga nggak tahu, ini nggak sesuai sama perjanjian!” katanya sambil mengepalkan tangan kanannya
“perjanjian apa maksud lo?” tanya Dicky dengan wajah blo’on
“ya perjanjian buat gue deketin Olga”
Percakapan mereka pun berakhir karena bel masuk sudah dibunyikan. Dicky masih terus ingin bertanya kepada Andruw tentang perjanjian yang dilakukannya bersama kakaknya Dheva. Dicky memang sudah tahu bahwa hubungan saudara mereka tidak pernah baik bahkan Andruw pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan sudi memanggil Dheva dengan sebutan kakak dan sampai sekarang pun Andruw menepati janjinya itu. Kadang Dheva merasa sebal dengan kelakuan adiknya yang keterlaluan itu, namun diantara pertengkaran mereka selama ini tidak ada yang benar-benar bersalah karena mereka berdua memiliki kesalahan masing-masing. Andruw yang cenderung memiliki sifat pemarah itu kerap kali iri dengan kakaknya yang selalu mendapat pujian dari mama dan dikejar-kejar oleh banyak siswi disekolahnya. Sedangkan Dheva yang cenderung memiliki sifat pendiam, dia juga iri dengan adiknya yang bisa bergaul dengan banyak teman tanpa memiliki rasa malu atau gugup ketika mendekati seorang wanita. Tapi kali ini semua berbalik, Dheva telah belajar mati-matian untuk menghilangkan rasa malunya ketika berbicara dengan wanita sedangkan Andruw yang sudah terbiasa berbicara bahkan bersahabat dengan seorang wanita justru merasa gugup ketika ia mulai merasakan jatuh cinta terhadap sahabatnya sendiri, yaitu Olga.
PELAJARAN fisika pun dimulai, pak Ridho menerangkan pelajaran dengan santai dan mudah dimengerti. Semua siswa memperhatikan apa yang diajarkan oleh pak Ridho kecuali Andruw, dia sibuk memperhatikan Olga yang tengah menatap tangan pak Ridho yang lincah dalam menuliskan rumus-rumus membingungkan sambil tersenyum mengingat kejadian tadi. Muncul niat dari Andruw untuk menyurati Olga, surat itu terbang dari tangan ke tangan lainnya sampai akhirnya surat itu berada ditangan Olga sendiri. Ia membuka surat itu dengan penasaran dan sedikit sebal karena mengganggu konsentrasinya
‘senyum-senyum nggak jelas, lo mulai gila ya?’ bacanya dalam hati, lalu ia membalas ‘gue gila juga karena kakak lo Dheva! Dia cakep banget!!!’ Andruw membacanya dengan sebal dan meremas kertas itu sampai bulat lalu melemparkannya ke depan. ‘gawat! Surat itu kena pak Ridho!’ kata Andruw dalam hati. Hukuman pun berjalan sesuai besarnya kesalahan siswa, sialnya Andruw di hari ini.
Bel pulang pun berbunyi, semua siswa di SMA N 15 berhamburan keluar kelas. Sosok makhluk bertubuh tinggi dengan kulit sawo matangnya itu memanggil nama Olga yang tengah asik mengobrol dengan Dheva diantara kerumunan siswa-siswa lain yang akan pulang
“Ga, pulang sama gue yuk!” ajak Andruw tanpa menatap Dheva yang tengah bersama Olga
“seperti yang elo liat, gue lagi sama kak Dheva. Mending lain kali aja ya An” jawabnya sambil menepuk bahu sahabatnya itu
“iya An, lagian gue juga jarang-jarang pulang sama Olga. Kalo elo kan udah sering” kata Dheva tiba-tiba. Kata-kata itu semakin membuat hati Andruw menjadi panas, ia hanya memelototi Dheva lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
DHEVA duduk dikursi ruang tamunya dan melepas sepatu putih kesayangannya itu. Andruw menuruni tangga dan menendang kursi yang diduduki kakaknya itu tanpa merubah posisi awalnya
“maksud lo apa sih? Elo kan nggak boleh deketin Olga karena dalam satu minggu ini gue harus dapetin dia!” kata Andruw menggebu-gebu
“tapi kan gue nggak bilang kalo gue bakal jauhin Olga? So, gue nggak salah dong” jawab Dheva dengan santai
Andruw hanya diam. “anggep aja gue ini sebagai penghalang elo buat deketin Olga. Kalo elo deketin dia tanpa ada halangan, kan nggak seru gitu. Iya kan?” lanjut Dheva sambil tersenyum lalu berhambur menuju kamarnya. Andruw masih saja diam dan hanya mengawasi kakaknya yang sedang menuju kamarnya itu.
ENAM hari telah berlalu. Andruw masih saja gagal untuk mendekati Olga dan Dheva masih saja semangat menjadi penghalang bagi adiknya itu. Andruw makin kowalahan ketika Olga mulai bercerita dengannya tentang apa saja yang ia lakukan bersama Dheva akhir-akhir ini.
“Ga!” teriak Andruw memanggil Olga yang tengah mengobrol dengan teman dekatnya didepan kelas mereka. Olga hanya diam memandang Andruw yang ngos-ngosan
“Ga, ntar lo pulang sama gue ya? Ada yang mau gue omongin sama elo”
“soal apa?”
“nanti aja gue jelasin” jawab Andruw. Ia berbalik memasuki kelas. Jantungnya berdegup kencang, tidak seperti biasanya ketika ia berbicara dengan Olga. Tiba-tiba ia teringat oleh masa kecilnya bersama Olga saat mereka berdua bersepeda sambil bersenda gurau ditengah jalan yang lapang dipagi hari, suasana itu menjadi tidak ramai lagi ketika Dheva datang dan ingin ikut berkenalan dengan Olga. Saat itu Andruw menganggapnya biasa, akhirnya Andruw memperkenalkan mereka berdua walaupun Olga langsung merasa tidak cocok berteman dengan Dheva. Olga mulai menyukai Dheva ketika ia melihat Dheva sedang latihan basket dengan teman sekolahnya, saat itu Olga masih kelas tiga SMP dan Dheva baru kelas satu SMA. Sejak itu lah Olga selalu menanyakan Dheva kepada Andruw saat mereka sedang belajar bersama ataupun jalan-jalan. Karena sifat Olga yang mulai aneh, Andruw terus mendesak Olga dengan pertanyaan aneh pula yang berujung dengan pengakuan Olga bahwa ia menyukai kakak Andruw yaitu Dheva. Awalnya Andruw mendukung hubungan mereka walaupun Dheva selalu cuek dengan Olga, tapi semua itu berubah ketika Andruw mulai malas bahkan marah saat Olga mendekati Dheva. Ia merasa iri dengan kakaknya dan sejak saat itu pula hubungan persaudaraan Andruw dengan Dheva tidak berjalan baik. Mereka selalu bertengkar dan menyalahkan satu sama lain ketika mama papanya melerai mereka. Sampai sekarang pun, pertengkaran mereka terus memanas karena kepergian papa dan mamanya di Singapore karena urusan pekerjaan mereka.
BEL pulang berbunyi, para siswa berhamburan menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing. Andruw masih menunggu Olga ditempat parkir motor, kebetulan Olga tidak membawa sepeda hari ini jadi inilah kesempatan Andruw yang harus ia manfaatkan sebaik mungkin.
“hey An, sorry ya gue lama” kata Olga tiba-tiba yang baru saja muncul
“eh, iya nggak masalah kok. Kita langsung pergi ya?” jawab Andruw sambil terkaget dengan kehadiran Olga yang menghancurkan lamunannya itu
“lho, emang kita mau kemana sih?” tanyanya penasaran
“udah lo ikut gue aja. Cepetan naik”
Olga menuruti perintah Andruw dengan rasa penasaran dan heran karena tidak biasanya Andruw merencanakan sesuatu untuknya. Biasanya Andruw selalu terbuka dan tidak merahasiakan apapun darinya.
Sampailah mereka disebuah taman dekat café sederhana dengan tampilan Eropa. Olga memutar kepalanya melihat-lihat suasana dan keindahan taman itu. Ia tersenyum menatap Andruw.
“ada angin apa lo ngajak gue ke tempat begini?” katanya bercanda
“emm, gue mau ngomong sesuatu sama elo, tapi nggak bisa sekarang” jawabnya dengan serius
“trus kapan?”
“kalo elo mau tahu, nanti malem lo datang kesini. Pasti elo tahu maksud gue apa”
“ah lo ini aneh ya? Tinggal ngomong aja repot, pake nunggu nanti malem”
“udah, lo nggak usah kebanyakan protes!” katanya ketus
“iya, nggak usah pake otot kali”
SETELAH menikmati suasana taman tersebut, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah karena lelah. Andruw tersenyum sendiri ketika memasuki rumahnya, ia senang bisa berduaan ditaman bersama Olga. Hatinya kini sedang dipenuhi oleh rasa bahagia dan bayang Olga tak pernah luput dari pikirannya.
Dheva terus mengawasi adiknya yang sedang kasmaran walaupun ia tahu pandangannya tidak disadari oleh Andruw. Kali ini ia menatap adiknya dengan damai, tak ada rasa dendam ataupun marah dan mendekati Andruw yang tengah berganti pakaian dikamarnya.
“An, lo mau bantuin gue nggak?” tanya Dheva yang tengah berdiri diambang pintu kamar Andruw. Andruw hanya memandangi kakaknya itu dengan heran.
“gue banyak tugas nih dari pak Hendro” kata Dheva “ gue denger-denger elo suka sama pelajaran sosial dan gue mau lo bantuin gue ngerjain tugas. Ok?” lanjutnya. Andruw kembali menatap kakaknya dan mulai membuka mulutnya
“sorry, gue juga sibuk” jawabnya singkat
“please deh, kali ini doang kok”
“nggak” jawabnya singkat. Kemudian ia menutup pintu kamarnya.
Malam ini adalah malam yang telah dinanti-nanti Andruw. Ia memakai hem putih dipasangkan dengan celana jeans biru yang sempit dikakinya. Sedangkan kakaknya Dheva yang tengah kesulitan mengerjakan tugas itu dibiarkannya berpikir panas. Berulang kali Andruw mendengar kecapan dimulut Dheva atau suara lembaran kertas yang dibolak-balikan. Tanpa menghiraukan kakaknya, Andruw pergi ke taman dekat café yang bernuansa Eropa itu dengan mengendarai motor kesayangannya.
TOK-tok-tok. Terdengar suara ketukan diluar pintu rumah Dheva. Dengan sebal ia membuka pintu rumahnya dan muncul-lah gadis manis mengenakan baju casual. Dia tersenyum kepada Dheva.
“Olga?” katanya kaget. Dheva memandang Olga dengan penuh pesona. Dilihatnya dari kaki sampai ujung kepala untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar Olga.
“iya kak. Andruw mana ya?” jawabnya sambil malu-malu
“eh, dia lagi pergi. Emang ada perlu apa Ga?” tanyanya kembali sambil mempersilakan Olga masuk dan duduk disofa ruang tamu
“sebenarnya aku juga nggak tahu kak, Andruw nyuruh aku pergi ke taman tapi aku lupa dimana tempatnya. Makanya aku datang kesini”
“wah kamu terlambat, Andruw baru saja pergi. Katanya dia lagi ada keperluan sampai-sampai nggak mau bantuin kakak”
“oh, gitu. Emang kakak perlu apa kok tumben sih minta tolong sama Andruw?”
“itu lho, tugas dari pak Hendro. Banyak banget PR yang dikasih dan deadline-nya besok” keluhnya
“oh, aku bisa bantuin kakak kok!” tawarnya dengan semangat
“eh nggak usah repot-repot Ga. Lagian kamu kan ada janji sama Andruw?” jawab Dheva sambil berpura-pura peduli dengan Andruw
“kalo masalah Andruw sih gampang kak. Kan dia bisa ngomong sama aku kapan aja”
“ngomong?” tanya Dheva penasaran “emang Andruw mau ngomong sama kamu tentang apa Ga?”
“nggak tahu juga kak. Pake acara surprise segala, biasannya dia kalo ada perlu langsung ngomong sama aku” jawab Olga. ‘oh iya gue lupa. Besok kan hari terakhir kesempatan Andruw buat dapetin Olga. Pasti malam ini dia mau nembak Olga. Untung aja Olga lupa tempat dimana mereka janjian, jadi Andruw bakal kehilangan kesempatan manisnya’ teriak Dheva dalam hati. Hatinya bersorak mengetahui rencana adiknya akan gagal. Kemudian ia merasakan guncangan kecil dipundaknya. Olga telah menyadarkan Dheva dari lamunannya.
“kak? Kok diem sih. Mikirin apa?” tanya Olga memasang wajah blo’onnya
“eh nggak papa kok. Oke deh kalo kamu mau bantuin kakak. Sebentar ya kakak ambil buku dulu dikamar” jawabnya bahagia. Olga mengangguk setuju.
ANDRUW mulai bosan menunggu kehadiran Olga. Ia melihat jam ditangannya menunjukkan pukul sembilan malam. ‘huh’ dengusnya pelan. Akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya dan pulang ke rumahnya.
Sesampai dirumah, ia terkejut melihat Olga dan Dheva sedang asyik bersanda gurau diruang tamu. Andruw mematung diambang pintu. Olga buru-buru menghampirinya.
“An, sorry ya gue nggak dateng. Sebenarnya gue tadi kesini nyariin lo, tapi elo malah udah pergi duluan. Kalo gue nyusul, gue lupa dimana tempat pastinya” jelasnya. Andruw hanya diam. Ia membanting pintu lalu berhambur ke kamarnya.
Olga menatapnya sampai berlalu dan kembali duduk disebelah Dheva.
“udah kamu tenang aja. Andruw nggak bakal lama kok kalo marah sama kamu” kata Dheva menghibur. Dalam hatinya, ia bersorak gembira melihat ini semua. Yang paling membuatnya senang adalah Andruw tidak jadi memiliki Olga. Dheva memang mulai menyukai Olga sejak ia menjadi penghalang bagi adiknnya dalam menjalankan misinya.
“tapi aku ngrasa bersalah banget kak. Kayaknya dia kecewa banget sama aku” jawabnya penuh sesal
“cowok mana sih yang betah nyuekin cewek cantik kayak kamu? Udah kamu tenang aja. Paling besok Andruw nggak marah lagi”
“mendingan aku pulang ya kak? Udah malem, lagian tugasnya kan udah selesai” katanya sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas
“ya udah. Kamu ati-ati ya? Makasih lho, udah bantuin kakak” sahutnya sambil mengekor dibelakang Olga
“ok deh” kata Olga. Ia segera berlalu dari pandangan Dheva.
PAGI itu hati Olga dipenuhi rasa gelisah teringat tadi malam Andruw marah kepadanya. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat mengganjal dihatinya sehingga ia harus meminta maaf kepada sahabatnya, Andruw. Setelah memutari sekolah, akhirnya Olga menemukan Andruw yang tengah membicarakan sesuatu yang kelihatannya serius bersama Dicky didepan perpustakaan. Ia melihat Dicky juga serius menanggapi pembicaraan Andruw walaupun ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Olga berlari kecil menghampiri Andruw.
“An?” sapa Olga basa basi. Andruw hanya menanggapinya sekilas dengan wajah marah lalu pergi. Tetapi tangan Olga cepat-cepat meraih tangan Andruw dan menghentikan langkahnya “An, elo masih marah ya sama gue?”
“lepasin gue” kata Andruw tanpa memandang Olga. Akhirnya Olga melepaskan genggaman tangannya pelan-pelan dan Andruw berhambur ke kelasnya. Olga berusaha meminta penjelasan atas perlakuan Andruw padanya, tapi Dicky hanya mengangkat pundaknya lalu mengekor dibelakang Andruw.
Pelajaran bahasa Indonesia dimulai. Bu Siska memberi tugas kepada muridnya untuk membuat cerita pendek dengan tema persahabatan. Seluruh siswa mengerjakan tugas mereka dengan semangat, tampak dari wajah mereka muncul sebuah inspirasi besar dalam membuat cerpen. Pelajaran pun usai, para siswa puas melihat hasil pekerjaan mereka. Beberapa siswa bertukar buku untuk melihat cerita yang dibuat temannya dan beberapa siswa lagi berhambur ke kantin. Bagi orang-orang pintar dikelas Andruw, mereka mempersiapkan pelajaran berikutnya sambil mempelajari kembali palajaran kemarin.
“eh, cerita elo tentang apa An?” tanya salah satu teman Andruw kepadanya
“tentang seorang sahabat yang nglupain sahabat lamanya karena udah nemuin cinta sejatinya” sahutnya sambil melirik Olga. Ia sengaja sedikit mengeraskan suaranya agar Olga mendengarnya. Olga merasa tersindir dan berpura-pura tidak mendengarkan Andruw. Dalam hatinya, Andruw sedikit khawatir karena ini adalah hari terakhirnya untuk mendapatkan Olga. Namun rasa amarahnya terhadap Olga telah mengalahkan rasa kekhawatirannya itu.
DIDENGARNYA suara ponsel berbunyi. Ternyata itu adalah ponselnya. Olga melihat dilayar HPnya tertera nama Kak Dheva, ia sedikit kaget lalu mengangkat teleponnya.
“iya kak?” sapanya mendahului Dheva
“gimana ga? Andruw masih marah nggak sama kamu?”
“masih kak, bahkan dia nyindir aku waktu dikasih tugas mengarang cerpen” jawabnya sebal
“oh ya? Aneh. Biasanya dia nggak gitu lho sama cewek, apalagi kamu sahabatnya dari kecil”
“tapi menurutku, Andruw emang pantes marah sama aku sih kak”
“enggak juga. Andruw aja yang gampang emosi, dia emang pemarah”
“kok kakak malah nyalahin Andruw sih? Yang salah kan aku kak”
“kamu nggak sepenuhnya salah Ga, harusnya Andruw juga bisa ngertiin kamu yang lupa dimana lokasi ketemuannya” kata Dheva menghibur hati Olga
“trus aku harus gimana ya kak biar Andruw nggak marah lagi sama aku?”
“biarin aja dulu. Nanti kan dia sadar sendiri”
“ya udah deh kak, aku coba dulu”
“oh iya, nanti malam kamu ada acara nggak?” tanya Dheva mengalihkan pembicaraan
“nggak ada. Emang kenapa kak?”
“kalo nggak ada, kakak mau ajak kamu pergi. Kamu bisa kan?”
Jantung Olga berdebar-debar begitu kencang. Ia senang Dheva berkata itu kepadanya. Namun dari kesenangannya itu, Andruw masih mengganjal dihatinya
“halo? Kok diem sih?” kata Dheva
“eh iya maaf. Aku bisa kok kak, bisa banget” jawabnya senang
“ya udah nanti aku jemput ya? Jangan kebanyakan ngelamun” katanya bercanda
“hehe iya kak” percakapan pun berakhir. Dheva memutuskan sambungan teleponnya lalu bersorak bahagia karena nanti malam Olga akan menjadi miliknya.
Malam itu, Dheva telah siap untuk menjemput Olga. Namun ia menyempatkan diri untuk mendatangi adiknya dikamar
“elo yakin nggak bakal nyesel?” tanya Dheva meledek. Andruw tak menghiraukannya, ia masih terus berkonsentrasi menonton televisi
“ya udah terserah elo aja. Kalo elo masih bersikeras buat marah sama Olga, gue bakal nembak Olga sekarang” lanjut Dheva. Ia segera pergi setelah berbicara. Andruw melemparkan remote TV setelah mendengar kata-kata kakaknya itu. Ia menghambur ke jendala dan mengawasi kakaknya yang tengah menyalakan mesin mobil dan segera berlalu. Andurw berpikir kembali. Ia berusaha menghilangkan rasa kecewanya kepada Olga namun itu gagal. Beberapa waktu kemudian Andruw sudah melupakan rasa kecewanya dan bergegas datang ke rumah Olga yang tidak jauh dari rumahnya. Tetapi Andruw terlambat, pembantunya berkata bahwa Olga sudah pergi dari tadi bersama pria lain. Setelah Andruw menanyakan dimana mereka pergi, pembantu Olga hanya menggeleng. Tapi ia yakin bahwa peria yang menjemput Olga adalah kakaknya Dheva. Rasa sebal dan sesal telah menyelimuti hati Andruw. Ia pulang ke rumahnya dengan sia-sia.
SETELAH beberapa menit Dheva dan Olga perjalanan menuju restaurant didekat perumahan tempat mereka tinggai, sampai lah mereka disana. Sebuah restaurant megah menyambut kedatangan mereka dengan sopannya. Dheva memilih tempat duduk didekat kaca. Ia sengaja memilih tempat itu agar mereka bisa melihat suasana luar yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Olga pun setuju.
“kamu mau pesan apa Ga?” tanya Dheva
“eh, aku nurut kakak aja” jawabnya singkat. Olga yang seharusnya bahagia, ia malah teringat oleh Andruw saat ia menunjukan taman yang indah didekat café bernuansa Eropa itu kepadanya. Lalu Olga segera menghilangkan pikiran itu dan menatap Dheva yang sedang memesan makanan untuknya.
“emm Ga?” kata Dheva menyadarkan lamunan Olga “kamu lagi mikirin apa?” lanjutnya sambil tersenyum melihat Olga yang salah tingkah
“eh, nggak mikirin apa-apa kok” jawabnya malu-malu
“ya udah. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu Ga?” katanya terang-terangan. Olga sedikit kaget mendengar perkataan Dheva yang terlihat serius
“ngomong aja kak” jawabnya
“sebenarnya aku suka sama kamu” serr. Hati Olga deg-degan. Ia gugup harus menjawab apa dan akhirnya ia hanya memasang senyuman yang tidak tulus
“kok malah senyum? Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Dheva. Pertanyaan itu benar-benar membuat hati Olga bahagia, inilah yang ia tunggu selama ini.
“eh, mau kak” jawabnya singkat. Karena terlalu senang, Olga jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menjawab pertanyaan Dheva dengan singkat.
Dheva tersenyum puas. Malam ini rencana Dheva telah sukses. Setelah makan malam mereka selesai, Olga buru-buru mengajak Dheva pulang dengan alasan capek. Padahal, ia ingin buru-buru bersorak dirumahnya atas keberhasilannya mendapatkan Dheva. Orang yang ia cintai selama ini. Mau tidak mau, Dheva menuruti keinginan Olga karena kasihan melihatnya memohon.
SESAMPAI dirumah, Dheva segera menghambur ke kamar adiknya dan berteriak “GUE UDAH JADIAN SAMA OLGA!!” Andruw kaget. Spontan ia memberikan bogem mentah dipipi kiri kakaknya itu. Dheva shock melihat apa yang dilakukan adiknya, ia berusaha menahan emosi dan tidak mau merusak kebahagiaannya malam ini
“elo kalo jadi cowok yang fair dong! Kalo emang elo gagal dapetin Olga dan kalah taruhan, elo terima aja! Nggak usah main tangan seenaknya gitu. Ini semua kan juga salah elo sendiri nggak bisa mempertahanin cinta elo sama Olga. Jadi gue berhak dapetin Olga sekarang” kata Dheva panjang lebar. Ia segera meninggalkan Andruw yang masih mematung dihadapannya.
“HAH!” teriak Andruw didalam kamarnya. Ia memukul tembok dikamarnya berulang kali. Walaupun ia merasakan nyeri ditangannya, ia tidak peduli. Ia tetap memukuli tembok sampai tangannya memerah dan mengeluarkan darah. Akhirnya tenaganya habis, ia terduduk dilantai. Kesedihan menyelimuti hatinya saat ini. Ia tak bisa menahan air matanya agar tidak keluar. Tangisan Andruw pun mengiringi rasa sakit hati dan rasa sakit di tangannya.
Suara jam beker Andruw bordering begitu keras. Ia terkaget melihat dirinya tertidur dilantai dengan bekas air mata dan luka ditangannya. Dengan susah payah ia mandi dan bersiap-siap berangkat. Pagi itu Andruw sengaja tidak sarapan karena malas jika melihat kakaknya, walaupun Dheva telah menyuruh Andruw untuk sarapan tetapi ia tetap menolak dan langsung berangkat sekolah
“APA? Kakak lo sama olga jadian?” tanya Dicky dengan kaget. Reaksinya terlihat berlebihan ketika mendengar cerita dari sahabatnya itu
“ssht! Jangan keras-keras dong” kata Andruw sambil menutup mulut Dicky dengan telunjuknya “iya. Mereka jadian tadi malem” lanjutnya dengan kesal
“terus elo kok biarin mereka gitu aja sih? Kalo gue jadi elo ya jelas-jelas gue bakal halangin rencana ini” komentarnya
“mau gue juga gitu Dick, tapi gue kan harus fair”
“fair? Emang masalah sebenarnya itu apa sih an?” tanya Dicky bingung
“hmmm, kayaknya elo nggak perlu tahu deh. Kalo gue jelasin ke elo, rasanya bikin gue makin bête aja” jawabnya. Dicky sama sekali tidak puas dengan jawaban Andruw
“terus hubungan elo sama Olga gimana?”
“gue nggak mau berhubungan apa-apa lagi sama dia”
“hah? Elo yakin An?” tanya Dicky lagi. Kali ini ia mengeraskan suaranya
“ssht diem! Ada Rena tuh, entar dia ember sama Olga. Gue udah yakin” jawabnya dengan suara memelan. Rena adalah teman sebangku Olga. Dia tomboy dan tidak bisa menjaga rahasia. Tapi dia sangat peduli dengan teman-teman dekatnya dan akan selalu membela temannya apabila dituduh ataupun dimusuhi yang jelas-jelas temannya tidak bersalah. Terlibat pertengkaran dengan Rena cukup menakutkan karena urusannya akan selalu berakhir diruang BP.
“tapi kan” belum sempat Dicky menyelesaikan perkataannya, Andruw buru-buru menutup mulut Dicky karena ia melihat Olga yang akan menghampirinya
“nanti kalo Olga kesini, bilang aja gue nggak mau ngomong sama dia dan gue mau dia jauhin gue” bisik Andruw kepada Dicky. Dia segera berpaling ketika melihat Olga semakin dekat menghampiri mereka berdua yang tengah dibangkunya
“An?” sapa Olga. Dicky pun berdiri dan menyeret Olga keluar kelas. Olga kebingungan.
“emm, sorry ya Ga? Gue nggak ada maksud buat ngehalangin elo yang mau ngobrol sama Andruw, tapi elo harus tahu sesuatu Ga” kata Dicky dengan nada berat karena dalam hatinya, ia tidak rela mengatakan ini semua kepada Olga. Apalagi ia adalah sahabat Andruw sejak kecil.
“mau ngomong apa sih?” tanyanya bingung
“tadi Andruw bilang sama gue kalo dia nggak mau ngomong lagi sama elo dan dia minta elo buat jauhin dia” jelas Dicky. Olga terkejut mendengar perkataan Dicky lalu mengerutkan keningnya seolah tak percaya.
“kalo Andruw benar bilang begitu, suruh dia bilang sendiri sama gue! Gue nggak bakal percaya kalo elo yang bilang Dick” sahut Olga dengan wajah agak marah. Ia segera meninggalkan Dicky. Dicky hanya mengawasi Olga sampai berlalu dan kembali ke kelas menghampiri Andruw
“An, gue nggak tega An” kata Dicky sambil duduk menyebelahi Andruw. Andruw hanya menghembuskan nafas panjang dan tetap diam.
“Olga nggak percaya kalo gue yang ngomong. Dia percayanya kalo elo yang ngomong sendiri sama dia” jelas Dicky. Ia menatap wajah sahabatnya yang tertunduk berharap ada jawaban dari penjelasannya tadi. Tapi Andruw tetap diam.
Pelajaran IPS pun dimulai. Pak Edi ijin karena sakit. Sekertaris dikelas Andruw mendapat tugas dari guru piket untuk mencatatkan beberapa lembar kertas yang berisi materi-materi penting dari pak Edi. Seluruh siswa menulis apa yang telah dicatatkan sekertaris diwhite board kecuali Andruw, ia terpaksa tidak mencatat materi penting itu karena tangannya sakit dan tidak bisa menulis. Berulang kali Andruw berusaha menulis tetapi tetap saja gagal, rasa nyeri ditangannya lebih hebat daripada keinginannya mencatat. Akhirnya Andruw menyerah dan meletakan bolpoinnya diatas buku catatannya yang terbuka. ‘ini semua gara-gara Olga!’ jeritnya dalam hati. Tanpa ia sadari, ternyata diselang-selang Olga mencatat materi ia juga menyempatkan diri mengawasi Andruw yang tengah menyerah yang tengah berusaha menulis. Olga kasihan dengan Andruw, tapi ia juga sedikit sebal dengan Andruw karena sikapnya yang berubah dengan Olga.
BEL pulang telah dibunyikan. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Bagi mereka, bel pulang adalah surga baginya karena pelajaran telah usai dan berganti dengan saat-saat mereka untuk bermain atau mengerjakan tugas lainnya yang tidak kalah mengasyikkan. Dheva telah menunggu Olga ditempat parkir, namun tidak muncul juga. Ia panjangkan lehernya untuk mencari Olga didalam kerumunan siswa yang akan pulang tetapi tidak ada Olga dalam kerumunan itu. Terpaksa ia pergi menyusul Olga dikelasnya, tapi hanya ada Rena dan teman lainnya yang tidak dikenal Dheva walaupun mereka sendiri mengenal Dheva.
“Ren, Olga mana ya?” tanya Dheva. Terdengar suara bisikan teman-teman Rena yang tengah memuji Dheva. Sebenarnya Dheva mendengar semua perkataan teman-teman Rena yang memujinya berlebihan, tetapi ia tak menghiraukannya dan tetap menatap Rena yang tengah memasukan bukunya ditas
“nggak tahu kak, tadi sih Olga udah keluar kelas tapi nggak tahu mau kemana. Mungkin dia didepan gerbang kak? Biasanya kalo dia mau pulang sama Andruw nunggunya disitu” jelas Rena kepada Dheva. Setelah mendengar penjelasan Rena, Dheva segera pergi meninggalkan Rena dan menuju ke gerbang sekolah. Akhirnya Olga tertemukan. Dheva segera tersenyum kepadanya
“Ga, kamu kemana aja sih? Aku cariin kamu dari tadi ternyata kamu ada disini” kata Dheva sambil meraih tangan Olga
“maaf ya kak? Aku biasa nunggu disini” jawabnya sambil memasang senyum kecil yang menawan
“kita pulang yuk?” ajak Dheva. Olga hanya diam “Ga? Ayo pulang?” ajak Dheva sekali lagi
“eh iya kak. Ayo pulang” jawab Olga yang baru terbangun dari lamunannya.
Selama perjalanan pulang ke rumah, Olga dan Dheva saling membisu. Olga sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu kepada Dheva karena saat ini yang ada dipikirannya adalah Andruw. Akhirnya Dheva berusaha memecah keheningan.
“main ke rumahku dulu yuk?” ajak Dheva sambil menegok sedikit ke arah Olga lalu kembali konsentrasi menyetir mobilnya
“eh,” Olga masih kebingungan antara menjawab iya atau tidak
“kenapa? Kamu nggak mau ketemu sama Andruw ya?” tebak Dheva sambil nyengir
“ah enggak juga kak, aku mau kok” jawab Olga sambil tersenyum. Dalam hatinya, ia terkejut kenapa Dheva bisa tahu apa yang ia pikirkan saat itu.
“ya udah” kata Dheva mengakhiri percakapan. Suasana kembali hening.
“AYO masuk” ajak Dheva yang tengah mempersilakan Olga masuk ke rumahnya. Olga merasa asing dengan rumah ini, seperti sudah bertahun-tahun tidak memasuki rumah Dheva dan Andruw. Sebenarnya yang membuatnya merasa asing adalah sikap Andruw kepadanya sekarang, Olga hanya tidak mau merusak kedamaian Andruw karena ia datang ke rumahnya. Dheva dan Olga duduk bersebelahan diruang TV.
“aku lihat dari wajahmu, kayaknya kamu lagi mikirin sesuatu” kata Dheva curiga
“ha? Aku nggak mikirin apa-apa kok!” jawab Olga menegaskan. Ia tidak mau jika Dheva tahu apa yang sebenarnya ia khawatirkan sekarang
“jangan bohong say?” kata Dheva meyakinkan. Olga sedikit terkejut mendengar Dheva memanggilnya dengan sebutan say.
“yah, nggak percaya nih?” katanya berbalik tanya
“haha, iya aku percaya kok sayang” jawabnya menghibur. Suasana tidak hening lagi. Olga terhibur dengan candaan Dheva yang mulai menjadi-jadi. Perlahan-lahan Olga mulai melupakan kegelisahannya dan Dheva semakin akrab didengarnya. Senda gurau mereka mulai meredam ketika Dheva menggenggam tangan Olga dan memeluknya. Olga sama sekali tidak menyangka Dheva akan melakukan itu. Dan ternyata kejadian itu pun dilihat oleh Andruw yang akan menuruni tangga untuk mengambil makanan didalam kulkas. Langkahnya terhenti di anak tangga kedua. Dia mematung melihat kejadian ini dan tanpa sadar pula meneteskan air mata untuk yang kedua kalinya disebabkan oleh kecemburuannya terhadap Olga. Kejadian itu berlangsung begitu lama bagi Andruw, padahal dalam kenyataan tidak selama yang diperkirakan Andruw.
Sulit bagi Andruw untuk menggerakan kakinya dan berbalik bersembunyi agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Dengan diselimuti rasa kecemburuan, akhirnya Andruw menghambur dikamar dan menutup pintunya keras-keras. Suara pintu itu membuat Dheva menyelesaikan kejadian ini, Olga masih terkaget dengan suara pintu itu yang begitu keras. Ia menengadah mencari sumber suara yang kelihatannya berada tingkat letak kamar Andruw dan Dheva.
“suara apa itu kak?” tanya Olga dengan malu. Ia masih malu jika mengingat kejadian tadi.
“mungkin pintu kamarku yang tertutup kena angin” jelas Dheva mengarang. Padahal dalam hatinya ia mengira itu adalah Andruw yang tengah menyaksikan kejadian tadi karena sudah jelas sebelum berangkat sekolah dheva mengunci pintu kamarnya.
HATI Andruw benar-benar telah hancur. Ia begitu membenci kejadian itu dan berusaha melupakannya bahkan menganggap itu hanyalah halusinasi. Tetapi rasa sakit hati itu semakin meyakinkan Andruw bahwa apa yang dilihatnya tadi bukanlah mimpi. Andruw terduduk dilantai sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat diiringi tangisan yang tak bisa ia tahan. Sungguh tak disangka, karena cintanya kepada Olga ia menjadi lelaki pengecut dan mudah menangis. Ini adalah sebuah kekalahan yang begitu menyakitkan bagi Andruw, ia tidak bisa menenangkan dirinya saat ini. Ingin sekali Andruw berteriak tetapi ia akan lebih malu jika Olga mengetahui bahwa ia menangis karenanya. Mata Andruw menerawang ketika ia mulai merasakan cinta, cintanya kepada Olga telah ia awali sejak kelas dua SMP. Saat itu Olga juga sering memberikan perhatian lebiah kepada Andruw seperti yang ia lakukan kepada kakaknya sekarang, tetapi perhatian itu menjadi luntur karena ada seorang gadis bernama Shela yang begitu menyukai Andruw. Shela adalah anak orang kaya dan terkenal dengan bisnis batik ayahnya yang sukses besar di pekalongan. Shela sering menggoda Andruw bahkan mengganggu Andruw saat sedang berdua dengan Olga. Entah apa yang dikatakan Shela kepada Olga, ia menjadi sedikit menjauhi Andruw. Andruw berusaha menanyakan hal itu kepada Olga namun Olga selalu marah jika Andruw menanyakan hal itu. Sebenarnya, perhatian yang diberikan Olga saat itu adalah perhatian dengan seseorang yang disukainya. Olga memang pernah menyukai Andruw, tapi rasa cinta itu hilang ketika Shela hadir menghancurkan semuanya. Sampai sekarang pun Andruw juga tak tahu mengenai hal itu, yang ia tahu hanya Olga menyukai kakaknya dan olga tak pernah berusaha untuk menyukainya. Padahal perkiraan Andruw salah, Olga menyukai kakaknya itu dengan suatu alasan.
MALAM ini, kerinduan Olga dengan sikap Andruw yang dulu telah menggebu. Dibiarkannya Dheva terus menerus menelponnya, saat ini Olga hanya ingin berbicara dengan Andruw bukan dengan Dheva. Tapi karena Dheva terlalu banyak missed call dari Dheva, Olga terpaksa mengangkatnya.
“halo?” kata Olga malas
“say, kok dari tadi telpon aku nggak diangkat?”
“hmm, maaf kak aku ngantuk”
“oh, kamu kecapekan ya? Ya udah kamu tidur aja. Maaf ya kalo aku ganggu”
“hmm” Olga menutup teleponnya. Ia kembali memikirkan Andruw, bayang-bayang wajahnya terus menghiasi pikiran Olga sampai akhirnya muncul niat untuk menelpon Andruw. Tapi niatnya itu luntur karena ia takut mengganggu Andruw, kemudian niat itu kembali muncul karena ia merasa rindu dengan Andruw tapi keinginan itu luntur kembali saat ia merasa tidak pantas jika seorang wanita yang menelpon pria lebih dahulu. Olga terlalu gengsi. Malam itu Olga tidak belajar karena ia sudah menyelesaikan semua tugasnya dan belajar sedikit waktu sore.
Setelah berpikir begitu lama, akhirnya Olga menelpon Andruw karena ia merasa sangat perlu berbicara dengannya. Jantungnya berdegup kencang ketika terdengar suara berat namun menyenangkan itu terdengar ditelinga Olga
“halo!” katanya agak kasar. Tapi Olga tak menghiraukan itu
“An, kenapa sih kamu berubah?” tanya Olga instant. Ia langsung berbicara pada intinya karena ia rasa tidak perlu basa-basi lagi
“Dicky udah bilang ke kamu kan? Ngapain kamu tanya lagi ke aku?” jawabnya ketus
“tapi aku nggak percaya An!”
“terserah”
“bilang langsung ke aku! Jangan lewat Dicky! Mana Andruw yang dulu?” Olga mulai menangis ketika mengatakannya. Ia sangat sedih sekaligus sebal melihat sikap Andruw yang begitu berbeda dari yang ia kenal. Andruw ikut sedih mendengar Olga begitu mengharap ia kembali seperti sedia kala. Sebenarnya ia tak mau melakukan semua ini, tapi rasa sakit hati yang dirasakan Andruw labih dalam dari pada yang dirasakan Olga. Andruw merasa Olga tidak pernah mengerti bagaimana rasanya melihat kakaknya sendiri telah memiliki orang yang begitu dicintainya bahkan melihat kejadian bodoh yang sama sekali tak ingin dilihat Andruw. Jika mengingat hal tadi, begitu kuat niat Andruw untuk menjauhi Olga.
“An? Jawab gue!” bentak Olga. Ia mulai emosi
“oke. Gue bakal bilang sendiri sama elo. Besok waktu pulang sekolah, kamu jangan keluar kelas dulu. Gue bakal ngomong semuanya ke elo. Itu kan yang elo mau?” kata Andruw panjang lebar. Olga hanya diam lalu menutup teleponnya. Ia kembali menangis.
HARI ini, bukan hanya Andruw yang kelihatannya murung. Tapi kini kemurungsn itu disusul oleh Olga yang masih teringat dengan percakapannya dengan Andruw tadi malam.
“elo kenapa sih Ga? Kayak orang frustasi aja” kata Rena menggoda. Tapi ia nampak serius ketika melihat sahabatnya tak berkutik dengan kalimat yang ia ucapkan tadi
“Ga, elo itu kenapa? Cerita dong” tanya Rena mengulang. Olga kembali menangis. Rena langsung merangkulnya agar Olga sedikit merasa terhibur.
“elo bisa ngerasain kan Ren, gimana kalo orang yang elo sayang dan elo cinta itu tiba-tiba berubah sifat sama elo?” kata Olga. Ia terkejut ketika mengingat kata-katanya tadi tentang orang yang dicintai. Ia tidak menyangka telah mengatakan bahwa ia menyukai Andruw walaupun ia pada awalnya tak menyadari itu.
“yang elo maksud itu siapa Ga?” tanya Rena curiga
“eh, udah lupain aja Ren” kata Olga sambil mengusap air matanya dan melepaskan rangkulan Rena
“tapi elo nggak apa-apa kan?” tanya Rena meyakinkan
“iya nggak apa-apa kok” jawab Olga tersenyum gelisah
DICKY tidak mau menyodorkan pertanyaan lebih kepada Andruw. Ia yakin, kemurungan Andruw sekarang ini disebabkan oleh Olga.
“mau minum?” tanya Dicky sambil menyodorkan minuman softdrink dihadapan Andruw. Andruw hanya menggeleng. Kemudian suasana kembali hening.
Tidak ada yang bisa dilakukan Dicky selain menemani kemurungan Andruw. Dicky telah kehabisan akal untuk menghibur Andruw, ia sudah berusaha melucu tapi Andruw hanya tersenyum kecil lalu kembali merenung. Sebenarnya yang ia renungkan saat ini adalah bagaimana caranya mengatakan kepada Olga bahwa ia tak mau mengenalnya lagi. Itu terlalu berat untuk Andruw, ia tak mau membuat Olga sedih karena perkataan ini. Tapi rasa cemburunya terus mendorong agar Andruw tetap mengatakan itu. Akhirnya ia yakinkan dalam hati bahwa ia akan tetap mengatakan itu apapun yang terjadi dan apapun yang ia rasakan. Ini semua demi kebaikan Olga juga, agar ia bisa lebih tenang menjalani kehidupan baru dengan kakaknya Dheva.
BEL pulang telah berbunyi. Hati Olga gelisah, ia belum bisa menerima jika Andruw akan mengatakan kata-kata yang akan membuat hatinya sakit. Andruw sendiri sedang menguatkan hatinya untuk tetap mengatakan itu semua kepada Olga.
Kelas sudah sepi, tinggal Olga dan Andruw yang tersisa. Keduanya tampak diam tanpa kata. Dalam pikiran Andruw, ia masih menata kalimat sedemikian rupa agar nantinya tidak melukai hati Olga. Keheningan segera berakhir ketika Andruw telah siap mengatakan ini semua
“Olga, seperti yang elo mau gue bakal ngomong ini semua ke elo. Mulai detik ini, gue nggak mau kita masih terlihat saling kenal. Gue mau elo jauhin gue, anggep aja kita nggak kenal dan gue ini cuma adik ipar lo. Cuma itu yang mau gue omongin, semoga elo langgeng sama Dheva” kata Andruw singkat. Ia segera bergegas tanpa mempedulikan Olga.
Olga masih terdiam dikelas. Begitu sulit ia menerima apa yang Andruw inginkan, ini sangat menyakitkan untuk Olga. Tapi ia harus menerimanya dengan lapang dada, ia kerahkan air matanya untuk terakhir kalinya. Telah ia mantapkan hatinya untuk melupakan Andruw.
CEKLIK. Andruw membuka pintu rumahnya dengan lemas namun Dheva menyambut kedatangannya dengan senyum bahagia. Andruw merasa heran dengan sikap kakaknya yang tak wajar itu, biasanya Dheva tak pernah tersenyum kepadanya. Dalam hatinya, Andruw senang melihat Dheva tersenyum padanya tapi masih ada benih-benih benci yang mengalahkan rasa senang itu. Andruw tetap membiarkan kakaknya itu terus memandanginya dengan wajah senang lalu berhambur ke kamarnya. Sebelum Andruw menaiki anak tangga paling atas, Dheva telah menghentikan langkahnya
“elo nggak mau tahu kabar gembira An?” tanya kakaknya. Ia menengadah memandangi Andruw yang juga berbalik memandangnya dari atas
“apa?” jawab Andruw dengan tidak antusias
“mama sama papa akan pulang satu atau dua bulan lagi” kata Dheva dengan semangat. Tetapi Andruw tetap tidak senang ataupun antusias mendengar kabar itu
“masih lama” jawabnya sambil melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Dheva mengekor dibelakangnya
“setidaknya gue nggak mau mama sama papa ngelihat kita terus bertengkar An” kata Dheva penuh harap. Andruw berbalik memandangnya.
“hmm, semoga saja mama dan papa mempercepat pulangnya ke Indonesia” jawab Andruw. Jawaban Andruw benar-benar tidak ada kaitannya dengan harapan Dheva. Dheva hanya mampu memaklumi adiknya itu dan kembali ke kamarnya.
Tiba-tiba Dheva merindukan Olga. Ia melihat ponselnya dan mengecek apakah ada sms dari Olga atau tidak, ternyata tidak ada. Sejak tadi pagi Olga tidak membalas smsnya itu. Dheva curiga, lalu ia mencoba menelponnya.
“halo?” kata Olga dengan malas
“kamu sibuk ya?” tanya Dheva. Olga diam, sekilas ia justru teringat oleh kata-kata Andruw tadi. Ia menghembus nafas panjang ‘mungkin emang udah saatnya gue benar-benar ngelupain Andruw. Kalo dia bisa ngelupain gue gitu aja, kenapa gue nggak bisa? Apalagi gue udah berhasil dapetin kak Dheva, orang yang gue suka dari dulu. Dan gue nggak mau nyia-nyiain kesempatan ini.’ Kata Olga dalam hati
“Ga? Ada yang salah sama aku ya?” tanya Dheva lagi
“eh, nggak ada yang salah sama kakak kok. Maaf ya kak? Aku malah jadi cuek sama kakak. Tadi aku memang sibuk ngerjain tugas jadi nggak sempat balas sms kakak” jelas Olga dengan berbohong. Sebenarnya ia tidak mengerjakan tugas, tetapi ia sedang memikirkan Andruw. Dheva menyadari bahwa Olga berbohong, tapi ia berusaha memakluminya.
“oh ya udah kalo gitu. Kira-kira kamu masih sibuk ngerjain tugas apa enggak?” tanya Dheva dengan kecewa karena Olga membohonginya. ‘apa Olga suka sama Andruw ya?’ pikir Dheva.
“udah selesai kok kak” jawab Olga. Percakapan mereka pun berlangsung hampir tiga jam. Berulang kali Bi Inah, pembantu Olga yang tengah membersihkan rumah mendengar tawa Olga yang keras dan ia hanya mengangkat pundaknya sambil menggeleng. Kini hati Olga kembali membaik, benih cinta yang sempat hilang karena Andruw itu kini telah kembali lagi.
OLGA telah benar-benar berhasil melupakan Andruw. Sedangkan Andruw sendiri masih tertekan karena sampai sekarang ia belum bisa melupakan bayang Olga dalam benaknya. Perlahan-lahan gosip telah menyebar dari mulut ke mulut tentang kabar bahwa Olga dan Dheva telah berpacaran. Beberapa komentar telah mendarat dikuping Olga.”wah kamu beruntung banget ya dapetin kak Dheva, dia kan salah satu cowok idaman disekolah kita”, “kenapa sih kamu yang berhasil merebut hati kak Dheva? Aku kan juga mau jadi pacarnya kak Dheva!” semua komentar-komentar teman Olga hanya ia tanggapi dengan senyuman. Tiba-tiba seorang lelaki tak dikenal mendekati Olga dan ikut berkomentar tentang hubungan Olga dengan Dheva
“duh sayang banget ya kamu pacaran sama Dheva, padahal aku lebih setuju kalo kamu pacaran sama adiknya. Kamu lebih cocok sama Andruw, kalian wajahnya lebih mirip lho” komentar lelaki itu. Olga tertegun mendengar komentar lelaki tak dikenal itu, ia kembali teringat dengan kenangan masa dulunya bersama Andruw.
“heh, nggak ada yang minta komentar dari elo ya! Mendingan elo pergi deh, kedatangan lo itu cuma bikin kelas kita jadi panas!” bentak Rena tiba-tiba kepada lelaki itu. Ia tahu komentar lelaki itu membuat Olga teringat lagi dengan Andruw. Lelaki itu hanya tersenyum sinis dengan Rena lalu pergi meninggalkan kelas Andruw yang penuh desakan komentar. Andruw pun ikut mendengar komentar lelaki itu. Ia mengenalnya, lelaki itu adalah musuh Dheva. Namanya Roger, dia selalu saja iri dengan prestasi Dheva dan Roger juga pernah memanas-manasi Andruw dengan berbagai prestasi yang telah diraih kakaknya itu, bahkan Roger selalu mengejek Andruw karena ia tidak bisa sepandai kakaknya. Alhasil, emosi Andruw terpancing. Terkadang ia marah tanpa sebab dengan Dheva yang sebenarnya kemarahan Andruw itu disebabkan oleh ejekan Roger, Dheva selalu bingung ketika adiknya itu tiba-tiba marah kepadanya. Ia selalu berpikir ulang apa yang ia lakukan kepada Andruw sehingga ia terus marah kepadanya. Dheva memang lebih sering mengalah kepada adiknya. Jika Andruw mulai marah-marah tak jelas padanya, selalu saja Dheva yang meminta maaf padahal itu jelas bukan kesalahannya. Andruw benar-benar emosional.
Pelajaran Fisika telah dimulai. Untung saja pak Ridho ijin karena sakit sehingga ulangan tidak jadi diadakan. Semua siswa bersorak, itulah yang selalu dilakukan oleh murid-murid tak bertanggung jawab jika guru ijin. Walaupun guru itu ijin karena sakit, murid-murid tetap saja merasa bahagia dan tidak ada rasa prihatin dengan keadaan gurunya. Sungguh sikap yang tidak patut dicontoh.
Kesempatan itu digunakan Andruw untuk terus memandangi Olga dalam-dalam. Rasa cinta yang menggebu tidak pernah hilang dari perasaan Andruw. Semakin ia berusaha membenci Olga, semakin besar rasa rindu yang ia rasakan terhadap Olga
BEL istirahat telah berbunyi.
“kantin yuk Ga?” ajak Rena bersama teman-teman lainnya. Olga mengerutkan keningnya.
“emm, gue nggak ikut deh. Gue mau ngerjain PR dari pak Edi aja, tadi malam gue ngantuk jadi nggak sempet ngerjain deh” jawab Olga sambil membolak balikan buku tulisnya
“mau gue contekin nggak?” kata Siska menawarkan. Ia memang baik dan tidak pernah pelit dengan teman-temannya. Tentu saja Olga setuju, akhirnya Olga hanya menyalin jawaban dari Siska.
Selesai sudah Olga mengerjakan PR-nya. Eh maksudnya menyalin jawaban Siska, hehe. Tiba-tiba Andruw mendekati Olga yang tengah meregangkan otot-otot tangannya itu. Olga terkejut melihat Andruw yang tiba-tiba duduk menyebelahinya. ‘ada angin apaan anak ini deketin gue?’ tanya Olga dalam hati, ia hanya tersenyum melihat Andruw mendekatinya
“ehm, gue duduk disini sebentar nggak apa-apa kan?” tanya Andruw. Pertanyaan Andruw membuat Olga begitu senang. Apa mungkin Andruw sudah berubah kayak dulu lagi? pikirnya
“nggak apa-apa kok”
“emmm, gi..gimana kalo nanti eh..” kata Andruw terbata-bata
“nanti kenapa?” tanya Olga bingung
“nanti kita pergi. Gue rasa ini penting” ajak Andruw. Ia terus berdo’a dalam hati agar ajakannya itu diterima oleh Olga.
“kemana?”
“ke taman dekat café yang pernah aku tunjukin ke kamu” jawabnya. Olga sedikit kaget karena Andruw memanggilnya dengan sebutan aku kamu-an.
“kalo elo ngerasa ini penting, gue sih mau-mau aja” jawabnya sambil tersenyum. Andruw lega karena ajakannya telah diterima dengan tulus kepada Olga.
Saat itu juga Olga pergi ke kelas Dheva. Ia bertanya kepada seorang lelaki dimana keberadaan Dheva lalu lelaki itu menunjuk ke dalam kelas dan terlihatlah Dheva. Dheva menghampiri Olga yang tengah berdiri diambang pintu kelasnya dan tersenyum
“kenapa sayang?” tanya Dheva
“nanti kita nggak bisa pulang bareng kak” jelasnya instant
“lho, emang kamu mau kemana say?” tanya Dheva lagi. Kali ini dia agak curiga dengan Olga
“emm” Olga berpikir sejenak mencari alasan “aku mau ke rumah Rena ngerjain tugas kelompok” lanjutnya. Dheva terdiam lalu tersenyum kembali.
“oke say” jawabnya. Olga berbalik senyum kepada Dheva lalu berhambur kembali ke kelasnya
OLGA masih menunggu Andruw di gerbang sekolah dengan Rena disampingnya. Akhirnya Andruw muncul juga.
“sorry, lama ya?” kata Andruw kepada mereka berdua. Rena masih saja sinis dengan Andruw karena beberapa minggu yang lalu ia telah membuat sahabatnya sedih. Tetapi Olga justru tersenyum kepadanya
“lumayan sih, tapi nggak apa-apa kok” jawab Olga
“gue langsung pulang aja ya Ga?” kata Rena. Olga mengangguk.
Perjalanan menuju taman cukup lama, tapi itu semua terlupakan karena Andruw mulai bercanda dan mengajak ngobrol dengan Olga seperti dulu. Olga sangat senang sahabatnya kembali seperti dulu lagi. Sampai lah mereka disebuah taman yang tidak berubah sejak mereka berkunjung kemari sebelumnya, indah sekali. Andruw menggandeng Olga dan mengajaknya duduk menikmati suasana taman dan bersenda gurau seperti sedia kala. Setelah itu pembicaraan yang sebelumnya mengasyikan bagi Olga, berubah menjadi lebih serius. Andruw menatap Olga dalam-dalam sampai Olga tak kuasa melihat tatapan Andruw yang membuat cintanya kepada Andruw bersemi kembali. ‘sebenarnya mau elo apa sih? Dulu elo dengan gampangnya ngelupain gue, tapi sekarang elo malah bikin gue kasmaran lagi’ kata Olga dalam hati sambil terus membalas pandangan Andruw yang semakin menjadi-jadi. Olga merasakan wajah Andruw semakin dekat dan semakin dekat sehingga bibir mereka bertemu. Kejadian itu berlangsung singkat karena Olga buru-buru melepas bibirnya dari bibir Andruw walaupun sebenarnya ia menikmatinya. Tangannya mengusap bibirnya agar bekas itu hilang.
“gue nggak ngerti deh sama elo!” kata Olga. Dia sedikit marah karena Andruw telah lancang melakukan itu kepadanya
“maafin gue ya Ga? Sebenarnya ada perasaan cinta yang gue rasain dari dulu ke elo. Tapi rasanya susah banget buat ngungkapin perasaan ini ke elo dan sekarang gue nggak mau membuang waktu lagi Ga! Gue ini cinta sama elo, gue marah banget waktu elo jadian sama dheva. Makanya gue nyuruh elo buat jauhin gue karena hati gue ini sakit Ga, kalo ngeliat elo lagi berduaan sama Dheva. Apalagi Dheva itu kakak gue, hati gue rasanya semakin hancur!” kata Andruw “tapi entah kenapa waktu gue berusaha mati-matian buat ngelupain elo, rasa cinta ini malah semakin dahsyat Ga! Gue nggak habis pikir ternyata keputusan gue buat ngelupain elo itu salah” lanjutnya. Olga diam mendengar semua perkataan Andruw yang semakin membuatnya merasa bersalah. Andruw ikut diam dan berpaling dari Olga, perkataannya tadi benar-benar diluar kendalinya.
“emm, gue nggak tahu kalo sampai kayak gini perasaan elo. Gue minta maaf An” jawab Olga menyesal
Andruw menghembus nafas panjang dan berkata tenang “elo nggak usah merasa bersalah Ga, dengan gue ngungkapin semua isi hati gue ke elo itu udah bikin hati gue lega walaupun akhirnya elo tetep milik Dheva”
“sekali lagi maafin gue ya!” kata Olga. Ia langsung berlari dan menaiki bus yang berhenti menanti Olga naik. Andruw membiarkannya pergi, rasanya ini memanglah yang terbaik.
OLGA terus mengingat-ingat perkataan Andruw yang terus muncul dipikirannya. Olga memang menyukai Andruw, dan ia menyukai Andruw lebih dulu dari pada ia menyukai Dheva. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Dheva setelah mengetahui Andruw juga membalas cintanya, hati Olga kini dipenuhi rasa bimbang. Bayangan kakak beradik itu terus menghantui Olga. Tiba-tiba ia merasakan ada sebuah getaran disaku bajunya, ia melihat ponselnya bergetar dan membaca sms dari Dheva
J Say, kamu dimana? Kok aku ke rumah rena
katanya kamu nggak ada dirumahnya?
Olga menghembus nafas panjang lalu mengabaikan sms dari Dheva. Ia menatap keluar dan melihat kendaraan yang berlalu lalang. Suara bus tua ini semakin membuat Olga merasa tidak nyaman. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya, sesekali ia mengawasi orang-orang yang dicurigainya lalu kembali memejamkan matanya dan itu ia lakukan terus sampai bus berhenti tanda ia sudah sampai.
DHEVA terus khawatir dengan keadaan Olga. Sudah banyak sms yang ia kirimkan ke Olga namun tidak ada yang dibalas, ia juga mencoba menelponnya tapi tidak diangkat. ‘mungkin Olga lagi nggak mau diganggu, atau mungkin dia nggak tahu kalo aku sms dan telpon dia berkali-kali’ pikirnya menghibur diri. Andruw melihat kakaknya itu dengan bingung. ‘Dheva ngapain ya? Kok gelisah banget? Ah ini bukan urusan gue!’ katanya dalam hati.
Malam ini Andruw ingin meminjam mobil kakaknya, ia juga tak mengerti kenapa hatinya begitu menginginkan untuk menyetir mobil kakaknya yang selalu bersih. Berulang kali ia berpikir bagaimana caranya meminta ijin agar kakaknya itu meminjamkan mobil kepadanya. Akhirnya Andruw bertekad bulat untuk tetap meminjam mobil itu apapun yang terjadi.
“kak, gue mau pinjem mobil elo dong” kata Andruw yang tengah berdiri diambang pintu kamar Dheva. Dheva yang semula masih menunggu balasan sms dari Olga sambil membaca buku itu terkejut mendengar Andruw memanggilnya dengan sebutan Kak. Dheva berbalik memandangi adiknya dengan tersenyum bahagia, ia begitu senang dengan ucapan itu.
“elo mau kemana?” tanya Dheva sambil tetap memasang senyumannya
“gue mau pergi” jawabnya singkat. Dheva tak mau memperpanjang waktu, ia langsung melemparkan kunci mobilnya ke arah Andruw dan Andruw menangkapnya dengan baik.
“sorry ya kalo gue pinjem mobil elo lama?” kata Andruw mengakhiri percakapan. Dheva hanya mengangguk. Setelah ia memastikan Andruw telah pergi, Dheva meloncat bahagia teringat Andruw yang memanggilnya dengan sebutan Kak. Betapa besar rasa sayangnya Dheva kepada Andruw, melebihi rasa sayangnya kepada mobilnya.
ANDRUW menyetir mobil dengan santai, ia berhenti disebuah taman tempat dia dan Olga tadi berduaan. Andruw tidak keluar dari mobil, ia hanya memandangi taman dari jendela mobil dan menyetel lagu kesukaannya dengan sangat keras. Ia kembali teringat masa lalunya yang indah bersama Olga, masa lalu indahnya bersama Dheva dan kedua orang tuanya. Tiba-tiba Andruw merasa bersalah terhadap mereka semua, air mata itu tiba-tiba menetes teringat begitu banyak kesalahan yang ia lakukan terhadap Dheva dimulai dari berjanji untuk tidak memanggil Dheva dengan sebutan kakak, selalu memarahi Dheva dengan alasan yang tidak jelas, iri dengan prestasi-prestasi kakaknya, dan membencinya ketika ia bahagia mendapatkan Olga. Kesalahannya kepada kedua orang tuanya juga banyak. Disaat mama dan papanya akan terbang ke Singapore, Andruw tidak mau bertemu dan perpisahan dengan mereka karena Andruw tidak menyukai jika kedua orang tuanya meninggalkan Andruw begitu saja. Betapa egoisnya aku! Pikir Andruw. Ia juga teringat oleh kesalahannya terhadap Olga mulai dari menjadikannya taruhan dengan Dheva dan memaksanya untuk menjauhinya
“mama, papa, maafin Andruw ya? Andruw nggak pernah bisa nyenengin mama sama papa. Kak Dheva, maafin aku ya? Aku selalu saja bersikap kayak anak kecil dan nggak pernah mau ngalah sama kakak. Olga, maafin aku juga ya? Aku udah sering bikin kamu sedih karena kelakuanku yang bodoh ini” kata Andruw sambil menangis. Ia kini menyadari kesalahannya.
“LHOH, remnya blong!” teriak sopir truk pertamina itu. Di kejauhan, ia melihat sebuah mobil BMW didekat taman. Sopir itu berusaha berteriak agar mobil itu menghindar tetapi tidak berhasil.
Andruw masih terus menikmati lagu kesukaannya dan mengingat kejadian indah bersama keluarganya dan bersama Olga. Tiba-tiba ia terkejut mendengar suara klakson yang memekakan telinga, Andruw berbalik melihat kebelakang dan terkaget melihat truk dengan kecepatan tinggi itu melaju ke arahnya. Belum sempat Andruw menyalamatkan diri, truk itu sudah menghantam mobil Dheva dan BLAARR! Mobil Dheva terbakar habis dengan Andruw didalamnya.
PAGI itu Dheva terlihat sangat gelisah. Begitu berat rasanya ia berangkat ka sekolah karena adiknya belum pulang sejak tadi malam. Tiba-tiba Dheva teringat perkataan Andruw tadi malam “sorry ya kalo gue pinjem mobile lo lama ?”. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dan terpaksa berangkat sekolah naik bus.
Sesampai disekolah, Dheva langsung memasuki kelas Andruw dan mencari Dicky. Terlihat Dicky sedang bertengkar kecil dengan Rena disudut kelas dan beberapa siswa mengerjakan PR yang belum mereka selesaikan. Olga yang tengah duduk dibangkunya sambil menyaksikan pertengkaran rena tiba-tiba merasa heran melihat Dheva memasuki kelasnya dan langsung menghampiri Dicky dengan raut muka begitu khawatir lalu Olga segera ikut menghampiri Dheva.
“Dick, elo tahu Andruw sekarang dimana?” tanya Dheva dengan berusaha tenang. Olga yang mendengar perkataan Dheva langsung menyahut tanpa mempedulikan Dicky yang kebingungan
“kak, Andruw kenapa?” tanya Olga. Ia mulai cemas.
“aku nggak tahu say, dari tadi malam dia nggak pulang” jawabnya
“emang sebelumnya dia ijin mau kemana kak?” tanya Dicky. Ia juga ikut cemas
“gue nggak tahu, tadi malam sih dia cuma bilang kalo dia mau pergi dan pinjem mobil gue. Gue kira dia bakal pulang cepat ternyata enggak” jawabnya penuh sesal
“wah gawat nih!” kata Rena. Dia juga khawatir meskipun sebelumnya dia tidak menyukai Andruw karena telah membuat Olga sedih beberapa hari yang lalu
“kakak udah telepon HP-nya?” tanya Olga
“udah, tapi nggak aktif”
Suasana menjadi tegang. Siswa lainnya ikut cemas mendengar informasi dari Dheva tentang Andruw yang mendadak hilang. Kegelisahan itu terpaksa dibubarkan karena bel masuk telah berbunyi. Dheva kembali ke kelasnya dengan sangat khawatir. ‘duh, gue harus bilang apa sama mama dan papa kalo mereka pulang nanti? Sedangkan Andruw hilang mendadak. An, elo jangan bikin gue semakin gelisah dong!’ batinnya ditengah-tengah pelajaran yang sedang berjalan.
SETELAH pulang sekolah, Olga, Rena, dan Dicky datang ke rumah Dheva untuk menanyakan apakah ada informasi tentang keberadaan Andruw. Tapi Dheva hanya menggeleng. Akhirnya mereka menyusun rencana untuk mencari Andruw ditempat yang kemungkinan ia ada disana, tugas pun dibagi. Mereka begitu antusias dan berharap Andruw segera tertemukan.
Setelah mereka semua sepakat dan siap beraksi, tiba-tiba telepon rumah Dheva berdering. Dengan curiga dan berharap yang menelpon itu Andruw, Dheva buru-buru mengangkatnya
“halo? Apakah benar ini keluarga Bapak Kusdianto?” tanya seorang lelaki dengan suara lantang
“iya benar. Maaf, ini dengan siapa ya?” tanya Dheva dengan sopan
“ini dari rumah sakit Sehati meminta kehadiran saudara”
“memangnya ada perlu apa pak?” tanya Dheva. Ia menyangka ini ada hubungannya dengan adik kesayangannya itu
“nanti kita bicarakan jika saudara kesini. Ada hal penting yang harus dibicarakan”
“baik pak, saya akan segera kesana” Dheva menutup teleponnya. Ia berbalik dan memandang Olga, Dicky, dan Rena dengan gelisah. Mereka pun membalas pandangan Dheva dengan rasa ingin tahu
“kita harus ke rumah sakit Sehati sekarang juga!” kata Dheva
“memangnya kenapa kak?” tanya Dicky
“gue juga nggak tahu, cepetan elo telepon taksi!” perintah Dheva. Ia begitu takut dan khawatir sehingga Olga tak mampu menghibur Dheva saat ini. Beberapa menit kemudian taksi datang, mereka berhambur memasuki taksi dan melaju ke rumah sakit Sehati dengan ngebut.
SESAMPAI di rumah sakit, mereka berhambur kedalam dan menemui dokter yang tadi menelpon Dheva. Olga, Dicky, Rena menunggu diluar ruangan.
“dengan keluarga Bapak Kusdianto?” tanya dokter itu meyakinkan
“iya pak, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Dheva kembali
“tapi saya ingin bertemu dengan orang tuanya langsung karena ini sangat pribadi”
“orang tua saya sedang diluar negeri pak, jadi saya yang mewakilkan”
“baiklah,” dokter itu menghembus nafas panjang “mengenai saudara Andruw, seorang bapak bernama Salman tadi pagi menemukan sebuah mobil BMW berplat nomor B 5032 WM telah habis terbakar dengan orang didalamnya. Dan setelah dicari identitas orang itu, ternyata itu adalah saudara Andruw” Dheva terkejut mendengar perkataan dokter itu.
“lalu bagaimana keadaan adik saya dok?” tanyanya gelisah
“saudara Andruw” dokter kembali menghembus nafas panjang “tidak bisa terselamatkan dari kecelakaan maut itu”
DHEVA keluar dari ruangan itu dengan air mata yang keluar begitu deras. Seketika Olga langsung memeluk Dheva. Dicky dan Rena kebingungan.
Setelah Dheva sedikit merasa tenang, ia bercerita tentang apa yang dikatakan oleh dokter itu. Mereka semua sedih dan menangis mendengar hal itu. Kepergian Andruw dirasakan begitu pedih bagi Olga, sahabat sejati sekaligus orang yang pernah dicintainya itu meninggalkannya begitu saja dengan keadaan yang mengenaskan.
KEINGINAN terakhir Andruw terkabulkan, yaitu mama dan papanya pulang lebih awal. Tetapi bukan kebahagiaan yang mereka rasakan, melainkan rasa sedih yang mendalam atas kepergian Andruw yang begitu cepat dirasanya.
Para guru, teman-teman Andruw, teman-teman Theva, kerabat dan saudara semua berta’ziah. Tangisan mama Andruw pun mengiringi, papa berusaha menenangkannya namun sia-sia. Hanya Dheva yang paling merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adik semata wayangnya.
Pertemuan terakhirnya bersama Andruw benar-benar manis, Dheva tak pernah lupa saat terakhir Andruw memanggilnya kakak. Ucapan yang begitu indah terkenang dihati Dheva.
OLGA masih memandangi fotonya bersama Andruw saat bermain bulu tangkis pada waktu SMP. Air mata tak dapat ia tahan mengingat sahabat kecil sekaligus orang yang ia cintai itu telah pergi. Teringat jelas pertemuan terakhirnya bersama Andruw saat ditaman dekat café siang itu. Ciuman dari Andruw masih terasa dibibir Olga. Ia benar-benar merasa kehilangan.
Malam itu Olga sama tak dapat memejamkan matanya. Bayang Andruw masih saja menghantuinya. Tiba-tiba ponsel Olga berbunyi. ‘ngapain kak Dheva malam-malam begini telepon?’
“halo kak?” sapa Olga dengan suara berat
“lho kamu belum tidur ya?”
“aku nggak bisa tidur kak” jawabnya. Terdengar suara isak tangis dari Olga
“udah jangan nangis terus, Andruw pasti ikut sedih kalo kamu gini terus”
Olga tak menjawab
“Ga, kamu yang sabar ya? Maafin aku, aku nggak bisa jagain Andruw sebagaimana mestinya. Ini semua salahku” kata Dheva sedih
“ini semua takdir kok! jangan nyalahin diri sendiri gitu dong kak!” jawab Olga sambil berusaha tertawa
“ya udah. Sekarang kamu tidur ya? Besok kan kasih sekolah”
“oke sayang” kata Olga berpura-pura senang. Lalu ia menutup teleponnya dan berusaha tidur.
SUASANA kelas hari ini tidak riang, semua murung karena merasa kehilangan teman baik. Andruw memang emosional, tapi ia memiliki kesetia kawanan yang tinggi, jiwa sosialnya pun juga sangat tinggi. Sifatnya yang supel membuat ia memiliki banyak teman baik lelaki maupun perempuan. Hampir seluruh siswa disekolah mengenalnya, ada juga yang hanya mengenal namanya, dan ada juga yang hanya mengenal wajahnya yang tampan.
Hari-hari semenjak kepergian Andruw, jarang ada tawa dikelas. Hanya diam. Rena, sebagai cewek tomboy yang senang dengan keceriaan merasa jenuh melihat suasana kelas yang hening. Disela-sela pelajaran kosong, Rena sengaja berdiri dari bangkunya dan berteriak :
“mana kelas IPA 3 yang ceria? Kenapa kelas IPA 3 menjadi sepi sejak kepergian teman kita tersayang? Gue tahu kepergian Andruw dari sisi kita itu membuat sedih yang amat mendalam. Tapi sungguh, Andruw tidak pernah menginginkan kita menjadi putus asa, dan hari-hari yang semestinya berjalan dengan ceria justru berubah menjadi kesedihan! Kita harus bangkit dari kesedihan ini. Dunia belum berakhir kawan! Kita harus semangat!”. Teman-teman lainnya yang semula diam menjadi tertarik dengan semangat yang diberikan Rena. Dicky yang memiliki kesedihan yang amat mendalam pula, ia mulai bangkit.
“gue setuju! Kita nggak bisa terus menerus tenggelam dalam kesedihan yang nggak akan ada habisnya! Kita harus tabah, nggak ada yang boleh terlihat sedih lagi dikelas IPA 3!” kata Dicky penuh semangat. Olga tersenyum melihat semangat itu. Kemudian seluruh siswa dikelas ikut berdiri dan mengacungkan tangan kanan mereka yang mengepal diudara. Semuanya berteriak “SEMANGAT! IPA 3 TERUS MAJU! HOREEE!” keramaian pun kembali pulih. Guru yang mendengar teriakan dan candaan kelas IPA 3 pun langsung mengamuk. Tapi para siswa justru tertawa bahagia melihat kelakuan mereka yang kembali seperti sedia kala. Keramaian pun semakin menjadi-jadi.
Siswa-siswi justru mengejek gurunya yang kalah oleh lautan siswa yang tengah mengembalikan semangat mereka yang hilang. Ditengah keramaian itu, Olga melirik tempat duduk kosong yang dulu ditempati oleh Andruw. Dilihatnya bayangan manis Andruw menyapa Olga dengan damai. Olga hampir menangis bahagia melihat bayangan itu kemudian Rena memeluknya
SUNGGUH Rena telah berjasa dalam mengembalikan semangat dikelas Andruw. Hari-hari Olga pun dilaluinya dengan ceria, ia telah berusaha menepis kesedihan mendalam itu.
Kini hubungannya dengan kak Dheva tidak menjadi baik, mereka putus. Tetapi mereka memang lebih cocok menjadi saudara dari pada pacar. Kesedihan pun telah terlewati. Meski Andruw telah pergi dari dunia untuk selamanya, tapi hanya bayangan Andruw lah yang selalu memberikan semangat lebih bagi kehidupan Olga yang penuh liku-liku. ‘I LOVE YOU FOREVER’ katanya dalam hati
J TAMAT J
No comments:
Post a Comment