Tuesday, 12 April 2011

LOVE OF MAGIC


Hari buruk yang dialaminya terjadi beberapa bulan yang lalu. Bertemu dengan gadis aneh berambut pirang yang bernama Zega memang kutukan baginya! Saat ia hendak menyabrangi jalan raya menuju sekolah, ia tertabrak sebuah mobil sedan. Namun kejaadian itu sempat tertunda saat sahabatnya Rio memanggil namanya. Tubuhnya yang tinggi dan berkulit cokelat itu berusaha menyusul sahabatnya yang dalam bahaya. “ Ergy, awas Gy!” teriakan itu membuat Ergy menghentikan langkahnya, tubuhnya jangkung dengan wajah yang mempesona. Ia segera menyadari ada sebuah mobil sedan didepannya yang melaju sangat cepat. Belum sempat Ergy menghindari mobil itu, mobil sedan itu sudah menghantam tangan kanan Ergy. Seketika itu pandangan matanya menjadi buram dan kepalanya terasa sangat pusing, akhirnya semua menjadi gelap.


                Kedua mata Ergy mulai terbuka, ia mendapati dirinya terbaring di UKS. Dengan cepat Rio mencegahnya bangun karena kondisinya masih lemah.
” Mendingan elo jangan bangun dulu deh! Liat tu tangan lu luka parah” kata Rio sambil menyelimuti tubuh Ergy
“ Gue kenapa Ri?”
“ Elo kecelakaan. Emang tadi elo habis ketemu sama dia?”
“ Siapa maksud lu? Zega?” seketika itu lampu di UKS padam. Ergy hampir menjerit karena kaget, ia tahu setiap orang yang bertemu bahkan hanya dengan menyebut nama zega pasti orang itu mengalami hal-hal buruk seperti yang dialami Ergy saat ini. Beberapa menit setelah itu lampu menyala dan dengan terkejut Ergy melihat Rio dan Zega sedang bermesraan. Ergy hanya diam tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya terasa kaku dan tangannya yang terluka terasa nyeri. Dengan perlahan Zega melepaskan genggaman tangannya dengan Rio dan menghampiri Ergy
“ Lalu apa yang kau lakukan setelah melihat ini?” katanya
“ Aku hanya berharap kau tidak membuat Rio mengalami hal buruk!!”
“ Hahaha, baca saja pikiranku! Hanya dengan memilikiku, kau akan tahu rencanaku”
                Ergy merasa luka yang dirasakannya semakin sakit dan tubuhnya masih tak bisa digerakkan sampai ia sadar sesuatu mengguncang-guncang tubuhnya dan mendapati dirinya berada di UKS sekolah, ia melihat gadis dua tahun lebih tua dari umurnya yang cantik dan cerdas itu sedang merawat lukanya yang parah itu. Ternyata apa yang ia lihat tadi hanyalah mimpi, itu membuat hati Ergy lega.
“ Apa yang terjadi sebelumnya?” tanya Ergy. Wanita itu masih diam, dia adalah dokter di UKS sekolah Ergy, smu tegarraya.” Bisakah aku keluar dan mengikuti pelajaran?” dokter itu masih diam. Tangannya terampil ketika membalut luka di tangan kanan Ergy. Dengan sebal Ergy menarik tangannya itu dan keluar dari UKS tanpa menghiraukan dokter itu melarangnya atau tidak. Ergy berjalan dikoridor berharap tidak bertemu Zega. Namun harapannya itu sia-sia! Ia melihat Zega duduk dilantai sambil menghitung rusuk kursi yang ada didepannya. Tatapan matanya kosong, wajahnya pucat dan tiba-tiba matanya terbelalak seolah-olah ada yang membuatnya sangat ketakutan.
                Dengan rasa heran bercampur takut, Ergy menghampiri Zega yang masih mengulang-ulang menghitung rusuk kursi. Ergy menggenggam tangannya dengan maksud agar ia menghentikan tingkahnya yang menakutkan. Tetapi genggaman tangannya terlepas karena Ergy merasa tubuh Zega sangat dingin, rambutnya yang panjang itu kusut karena ia terus menarik-narik rambutnya sendiri. Dari gerak mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu yang mengganjal hatinya.
“ Kau kenapa?” tanya Ergy. Seketika itu wajah Zega berubah menjadi tenang
“ Aku ingin kau disini, bersamaku, dan kita akan merasakan ini bersama. Aku takkan sendirian lagi!”
“ Apa maksudmu?”
“ Cintai aku”
“ Tidak!” jawab Ergy tegas. Ergy pergi menjauhi Zega dan berlari menuju kelasnya. Ia tidak mungkin menyukai Zega yang aneh dan pembawa sial itu. Gara-gara dia Ergy menjadi kecelakaan dan gara-gara dia juga Ergy merasakan tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
                Bel istirahat berbunyi.” Gy! Elo kok nggak di UKS? Gimana lukanya?” tanya Rio sambil menawarkan sekotak susu kepada Ergy. Tapi ditolaknya.
“ Tangan gue luka parah”
“ Kenapa muka elo? Pucat amat! Masih sakit ya?”
“ Nggak papa kok”. Dengan sebal Ergy harus kembali lagi ke UKS karena lukanya makin parah dan mengeluarkan darah yang banyak.
“ Jangan banyak bergerak, jangan banyak bertanya dan jangan keluar masuk UKS tanpa seijinku!!” kata dokter. Ia membanting pintu karena sebal dengan Ergy. Beberapa menit berlalu, berulang kali Ergy melihat sosok bayangan seorang wanita diluar jendela yang tertutup tiraiseolah-olah memanggil Ergy untuk keluar dari UKS. Ergy pun mengikuti bayangan aneh itu sampai ke toilet pria. Ia melihat bayangan wanita itu menjadi Zega. Ergy meloncat ke belakang karena terkejut, ia terus mundur dan Zega terus maju mengikutinya bergerak kebelakang sampai akhirnya Ergy terpojok disudut toilet. Jantungnya berdegup kencang dan ia sedikit menggigil karena tubuh Zega yang dingin itu terlalu dekat.
“ Kenapa kau tidak pernah mencoba mendekatiku?” tanya Zega
“ Itu tidaklah penting”
“ Kenapa kau tidak mencoba memilikiku!!”
“ Aku tidak menyukaimu, bahkan semua lelaki tidak ada yang menyukai gadis aneh sepertimu” Zega marah. Dia memberikan bogem mentah dibagian perut Ergy berulang-ulang. Rasanya tidak beda dengan tonjokan preman di jalanan.
“ Jangan katakan itu lagi!” Zega berbalik. Rambutnya yang panjang itu mengenai pipi Ergy. Ia terkejut mendapati pipinya berdarah terkena sibakan rambut Zega.
                Ergy cepat-cepat menghindari Zega dan keluar dari toilet. Sesekali ia berbalik melihat Zega tertunduk dan menghitung keramik di dinding toilet, wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak dan tubuhnya bergetar. Ergy tak menghiraukan gadis itu, ia tetap berlari dan menghampiri Rio yang tengah bermain gitar didepan kelas mereka.
“ Elo kenapa Gy?” tanya Rio. Dia hampir menjatuhkan gitarnya ketika melihat pipi Ergy bercucuran darah
“ Gue,gue dihajar Zega! Dia kayak setan! Sumpah!”
“ Dimana?”
“ Di toilet pria! Gila, dia maksa gue buat jadi pacarnya tapi gue nolak terus dia nggak terima deh”
“ Habis itu elo dihajar? Kok elo mau sih diserang cewek?”
“ Gue sendiri mana tega bales nyerang cewek”
“ Ya udah. Gue ambil obat dulu buat mgobatin tuh pipi lu”. Ergy memandang Rio sampai berbelok menuju UKS. Ia meraba-raba lukanya yang semakin perih dirasanya. Tidak lama kemudian Rio kembali dengan wajah sedikit kesai dan berkata “ Elo disuruh dating sendiri ke UKS, sialan lu! Gue kena marah dokter cantik tahu” Ergy hanya terdiam dan berjalan menuju UKS
“ Kamu ini sudah dibilang jangan banyak bergerak dan jangan keluar masuk UKS tanpa ijin!!” bentak dokter, wajahnya memerah karena marah. Ia membanting pintu lemari obat dan mengobati luka Ergy dengan kasar.
                Keesokan harinya, Rio tidak berangkat sekolah karena sakit. Ergy sedikit kecewa karena itu, ia berjalan menuju kelas sambil memegangi tangannya yang terluka. Belum sampai dikelas, ia melihat Zega sedang menghitung rusuk kursi seperti yang biasa ia lakukan. Matanya terbelalak, wajahnya pucat dan mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Ergy mencoba mendekat, jantungnya berdekup kencang dan ia duduk disebelah Zega sambil memandanginya dalam-dalam.
“ Apa yang membuatmu seperti ini?” tanya Ergy memulai
“ Jangan membuatku mengulang kata-kata yang kau dengar saat kau bermimpi” Ergy kaget! Ia mundur menghindari Zega, tapi Zega menggenggam tangannya erat-erat. Bahkan Ergy merasa kekuatan Zega dua kali lebih kuat darinya. “ Aku menyukaimu” kata Zega sambil menarik Ergy agar duduk kembali disebelahnya “ Aku ingin kau menjadi kekasihku dan kita akan merasakan ini bersama”
“ Kau ini gila ya? Kau selalu menghitung rusuk kursi! Dimana rumahmu?” jawab Ergy
“ Aku tinggal di asrama sekolah”
“ Oh, lalu orang tuamu?”
“ Aku membunuh ibuku”
“ Kenapa kau melakukannya?”
“ Aku tidak tahu” jawab Zega tenang.
“ Lalu bagaimana dengan ayahmu?”
“ Jangan tanyakan iblis itu!” kata Zega. Genggaman tangannya semakin kuat “ Ia sudah mati”
“ Kenapa kau ingin menjadi pacarku?”. Ergy berusaha melepapaskan tangannya namun hasilnya sama saja. Sejenak suasana menjadi hening
“ Baiklah, aku mau menjadi pacarmu” katanya pasrah. Zega tersenyum lalu meninggalkan Ergy, ia berbalik member sinyal agar ia mengikutinya dan Ergy melakukan perintah itu. Ia menyadari bahwa bel masuk pelajaran telah dibunyikan namun ia tak menghiraukannya, yang ada di benaknya sekarang hanyalah rasa ingin tahunya terhadap Zega. Ergy menyukai kemisteriusan yang dimilikinya. Zega terus berjalan menuju sebuah jendela besar yang sebenarnya tidak ada disekolah itu, jendela itu muncul tiba-tiba setelah Zega menengadah dan mengatakan sesuatu yang sulit dimengerti oleh Ergy.
                Zega mengawasi apakah ada orang lain yang mengikuti mereka atau tidak. Setelah ia memastikan keadaan aman, ia mengajak Ergy memasuki jendela besar itu, Ergy merasakan sesuatu yang beda setelah memasuki jendela itu. Rasanya bukan seperti udara didunianya, disini lebih pengap dan kosong. Tidak ada satupun makhluk selain dia dan Zega.
“ Kau siap?” tanya Zega
“ Siap apa?” jawabnya kebingungan. Zega tak menjawab, ia menengadah mencari sesuatu dan keluarlah cahaya kecil yang perlahan-lahan mendekati jantung Ergy. Cahaya itu masuk ke tubuh Ergy, ia hanya diam sampai ia mulai merasakan kebahagiaanya seolah-olah sudah hilang.
“ Aku sangat berterima kasih karena kau telah membebaskan aku dari kutukan yang diberikan ayahku sendiri.” Zega tertawa bahagia “ Sekarang aku akan menceritakan semuanya padamu. Dua tahun yang lalu, ibuku merencanakan untuk menyekolahkanku diluar negeri. Dan aku menolak, aku lebih memilih tinggal disekolah internat ini tetapi ibuku tetap memaksa dan akhirnya aku membunuhnya agar rencana itu gagal. Rencana itu memang gagal, tetapi ayahku memberiku kutukan agar seluruh kebahagiaanku hilang. Itulah yang membuatku selalu menghitung rusuk kursi disekolah karena dengan cara itu aku merasa lebih tenang, kutukan itu akan hilang setelah aku mempunyai orang yang akan menggantikanku merasakan kutukan itu. Aku sengaja mempengaruhimu agar kau menyukaiku lalu kau mau mengikutiku masuk ke jendela ini, setelah aku mendapatkanmu semua kutukan itu akan berbalik kepadamu. Maafkan aku ya? Tapi itu yang harus kau rasakan seumur hidup” katanya dengan lega. Ergy hanya diam, dia menyesali hal itu. Seandainya ia bisa mengulang waktu, ini semua tidak akan terjadi padanya.
                 Kini hidup Ergy hancur, ia hanya diam dan tak pernah berbicara sepatah katapun. Yang ia ingat hanya kata-kata Zega sebelum dia meninggalkannya bersama kutukan ayahnya itu.

                                                                         TAMAT

No comments:

Post a Comment